Coto Kuda + Durian + Sambel Terasi = Diare

Friday, May 29, 2020

Sebulan penuh puasa, saya menjalankan program diet. Ya karena banyak di rumah saja, jadi sempat eksperimen iseng untuk mengetahui sampai batas mana tubuh mampu menerima tempaan diet dan workout.


Jadi selama Ramadhan olahraga/ workout saya cukup teratur, makan juga sangat teratur, tapi istirahat sering sporadis, kadang tidur malam, kadang tidur pagi, dan kalau kurang ditambah tidur siang dan sore.

Makan teratur karena untuk mengimbangi olahraga. Jadi teorinya, kalau olahraga teratur tapi makan asal-asalan, maka hasilnya tidak maksimal. Karena itu saya menjalankan diet seperti mengurangi makanan berminyak dan mengurangi carbo tinggi (nasi).

Hampir tidak ada makanan goreng yang saya makan kecuali pisang goreng bikinan istri. Telur dan tempe pun hanya saya tumis tanpa minyak atau kadang cukup direbus saja. Nahas, hal inilah yang ternyata membuat perut saya tidak mampu beradaptasi dengan berbagai kudapan di Hari Raya Idul Fitri di rumah mertua yang pastinya banyak makanan berlemak dan berminyak tinggi.

Malam 1 Syawal saya sudah makan coto kuda. Paginya selepas Sholat Ied sepiring soto ayam sudah saya lahap diakhiri dengan semangkuk kecil puding sebagai dessert. Agak siang sedikit, jam 10 pagi adik ipar saya membawa durian ke rumah. Saya pun kembali kalap.

Lewat jam 1 siang, saya diundang makan di rumah adik ipar. Saya mencium aroma sambel terasi original yang tak pernah saya kecap. Benar-benar menggugah selera. Biasanya saya cuma beli sambel terasi bungkus yang sedikit beda dengan bikinan sendiri (bikinan ibu di kampung). Di momen ini saya juga kalap, apalagi sambel terasi dihidangkan dengan coto kuda (lagi), sayur sop, ikan bakar, dan opor ayam, ditambah kerupuk pula. 3 menu utama berbeda dicampur!

Belum sampai disitu, saya juga makan cheetoz dan sirup orzon. Tanpa olahraga, tanpa banyak gerak, saya justru kecapean. Sekitar menjelang ashar saya pusing dan ngantuk bukan main. Saya pun tidur pulas saat banyak keluarga masih ngobrol-ngobrol di ruang tamu.

Sore itu saya punya niat untuk jogging, tapi gagal. Pertama karena cuaca sedang mendung-mendungnya. Ke dua, ternyata perut saya bergejolak. Tiba-tiba saya rasa mulas bukan main. Usut punya usut, saya mencret. 

Malam itu sekitar 7 atau 8 kali saya bolak-balik ke toilet. Puncaknya, sekitar 12 malam lewat saya muntah setelah meminum obat mencret dengan segelas air. Bahkan saya sempat mengiranya muntah darah. Karena ada cairan keruh cokelat yang berkumpul. 

Saya pun sempak membangunkan adik ipar agar mengantar ke puskesman. Tapi setelah saya pikir-pikir mungkin gumpalan kecokelatan itu adalah teh yang tadi sempat dibikinkan istri saya.

Istri saya juga sempat panik. Malam itu kami sempat berencana meninggalkan rumah mertua di kampung untuk ke kota pukul 1 malam. Tapi jaraknya sekitar 50 Km ke pusat kota. Beruntung setelah muntah tak mencret lagi dan bisa tidur sampai pagi. Walaupun 2 Syawal kondisi sudah cukup membaik, tapi saya baru merasa fit 100% Hari Jum'at atau 6 Syawal.

Saya baru berani berencana berolahraga lagi esok hari, Sabtu 7 Syawal atau 30 Mei 2020. Betul-betul pelajaran berharga kalau terbiasa diet tidak boleh serta merta merubah pola makan mendadak. Itu namanya cheating day kebablasan.

NB: rumah mertua saya masih di kabupaten yang sama dengan tempat saya tinggal, jadi saya tidak melanggar larangan mudik. Terimakasih.

You Might Also Like

0 comments