BRT Semarang Selangkah (Lagi) Lebih Maju

Kamis, November 08, 2018

Jum'at 2 November 2018, saya mudik dari Makassar dan mendarat di Bandara Ahmad Yani untuk mengikuti sebuah diklat Udiklat PLN Kedungmundu Semarang. Sebelumnya terakhir kali saya ke Ahmad Yani adalah tahun 2017, ketika saya posting foto ini:


Waktu itu terminal baru Bandara Ahmad Yani belum dibuka. Moda transportasi umum massal masih belum bisa masuk bandara, kecuali taksi konvensional. Kalau mau naik gojek sehabis landing pun harus jalan kaki sekitar 500 meter dari parkiran. Dengan tidak adanya akses angkutan massal, ditambah kondisi parkiran yang sempit dan conveyor pengambilan bagasi yang sangat kecil, waktu itu saya sempat mengumpat kalau kondisi Bandara Ahmad Yani yang demikian itu memalukan.

Selang satu tahun lebih empat bulan saya kembali landing lagi di bandara ini. Terminal baru sudah dibuka. Saya belum melihat lagi terminal yang lama, tetapi di terminal yang baru semuanya terlihat progresif. Tempatnya rapi, ada fasilitas umum untuk nongkrong, dan yang paling penting sudah tersedia angkutan massal murah dengan fasilitas cukup baik jika ingin melanjutkan perjalanan.

Malam itu saya keluar dari gerbang terminal. Parade driver taksi menyerbu setiap penumpang. Saya bilang kalau saya mau ke Simpang Lima. Seorang driver menawari jasa dengan tarif 120 ribu rupiah. Tentu saya menolaknya. Harga itu terlalu mahal bagi saya. Saya pikir satu-satunya solusi adalah saya harus jalan kaki ke luar area bandara untuk dapat Gojek seperti setahun lalu. Ternyata solusi tidak senahas itu. Tidak jauh dari parade driver taksi yang berjajar itu, saya menoleh ke arah kiri dan melihat ada bus BRT Trans Semarang yang sedang parkir, plus ada meja loket kecil di tepian trotoar. Saya baru tahu kalau BRT koridor bandara sudah beroperasi. 



Saya bilang ke penjaga loket kalau saya mau ke Simpang Lima. Ia kasih tiket seharga 3500 rupiah. Tawaran biaya tumpangan ini jauh lebih murah dari taksi konvensional.

Kondisi di dalam bus cukup rapi. Waktu tunggu (ngetem) pun tidak terlalu lama, hanya sekitar 10 menit. Kalau boleh dicari titik kurangnya ada pada pembagian area kursi penumpang perempuan dan laki-laki. Kursi bagian belakang diperuntukkan bagi penumpang perempuan, lalu bagian depan untuk laki-laki. Dengan kondisi bus yang kecil seperti itu tentu sulit mengindahkan instruksi itu. Kursi bagian untuk laki-laki hanya sekitar 6 buah (perkiraan saya), sementara kursi bagian belakang mungkin sekitar 12 buah. Harusnya tanda peringatan bunyinya begini: "Tempat duduk bagian belakang diprioritaskan untuk wanita". Jadi penumpang laki-laki diperbolehkan duduk mengisi kursi kosong setelah kursi-kursi paling belakang telah terisi penumpang perempuan.

Gak ono sing sempurna, Ndes. Tapi warga Semarang dan Jawa Tengah boleh berbangga, Bandara Ahmad Yani sudah lebih maju soal aksesibilitas moda transportasi massal ke bandara dibanding bandara-bandara di kota-kota lain seperti Hassanuddin di Makassar, misalnya.

Saya tidak tahu di hari-hari normal dari pagi sampai malam hari apakah BRT Trans Semarang beroperasi secara optimal. Di tahun 2016 saya sempat pegal kaki menunggu armada BRT di halte BRT Pasar Johar selama sekitar 1,5 jam. Tetapi dari pengalaman tempo hari, sepertinya BRT sudah berjalan lumayan baik.

You Might Also Like

0 komentar