Semangka-semangka Barru

Rabu, September 05, 2018

Barru, kabupaten yang terkenal sebagai penghasil padi itu punya denyut kehidupan utama di sekitar pesisir pantai. Area kabupaten Barru berbentuk memanjang mengikuti garis pantai. Terdapat sawah-sawah luas di sana yang sangat dekat dengan pantai. Selebihnya, banyak wilayah Barru merupakan perbukitan karst yang tidak ditinggali.





Beberapa area sawah tidak selalu bisa ditanami padi sewaktu-waktu (tadah hujan). Di Kecamatan Palanro yang saya singgahi, di waktu musim kemarau hingga peralihan musim seperti awal September sekarang ini, orang-orang beramai-ramai menanam semangka.

Beberapa petani bekerjasama dengan pengepul semangka dengan membeli bibit lalu menjual semangka-semangka itu ke pengepul setelah panen. Harga bibit 300-an ribu per bungkus. Saya tidak tahu pasti berapa gram atau kilogram berat satu bungkus bibit.

Informasi mengenai tanam menanam semangka ini saya peroleh dari seorang bapak petani lokal ketika melakukan survei pengukuran tanah melintasi kebunnya. Ia juga bercerita soal hitung-hitungan modal dan keuntungan menanam semangka. Dengan kebun yang saya taksir luasnya satu hektar itu, ia harus membeli 4 bungkus bibit. Ditambah ia harus menyiapkan pompa untuk pengairan, membeli semprot hama, dan membayar tenaga jika diperlukan. Total ia mengeluarkan modal 8 juta rupiah. Dengan modal sebesar itu ia akan memperoleh keuntungan 2-3 juta rupiah dalam periode waktu tanam 2 bulan.

Kata salah satu pekerja lokal yang membantu kami melakukan survei, menanam semangka jauh lebih rumit dari menanam padi. Selain harus disiram air dua kali sehari, batang pohonnya harus selalu dirawat tiap hari. Semangka-semangka itu saling berkompetisi dalam satu batang yang sama. Petani akan mengeliminasi beberapa buah semangka dalam satu pohon dan menjaga sedikit saja semangka yang tersisa agar tumbuh optimal. Buah yang muncul pertama dirawat hingga besar. Yang muncul belakangan dipotong dan berakhir sebagai pakan sapi atau bebek.

Ujian tak sampai di situ. Hewan-hewan ternak semacam sapi jadi persoalan lain. Sapi-sapi di Sulawesi Selatan pada umumnya memiliki sedikit intelegensia. Sapi-sapi itu bisa dilepas di hutan atau di manapun dan masih mampu mengenali majikannya. Tetapi tentu sapi-sapi itu tidak bisa membedakan tanaman yang sah atau tida untuk dimakan. Majikannya lah yang menanggung beban. Ada warga lokal yang bercerita kepada saya ia harus mengganti 1 juta rupiah lebih karena sapi miliknya masuk dan merusak satu area kebun semangka.

Suatu waktu, saya selesai melakukan survei dan harus menuruni tebing melalui semak-semak untuk kembali pulang. Nahas, seorang kawan terjatuh ketika melewati bebatuan di sungai kering. Anklenya cidera. Saya merawatnya di sebuah bala-bala (gazebo) milik seorang warga. Ada seorang nenek tinggal di sana. Ia menyimpan beberapa buah semangka di dalam keranjang. Setelah mempersilakan kami duduk, ia memotong semua semangkanya dan menyuguhkan kepada kami. Tentu kami tak mampu menghabiskan semangka sebanyak itu. Setelah kami pamit pulang, semangka yang tak habis kami makan ia tumpahkan semua ke kandang bebek. Bebek-bebek itu berpesta sore itu.

Saya tak habis pikir di tengah kondisi komoditi semangka yang begitu susah ditanam masih ada seorang nenek yang sangat royal.

You Might Also Like

0 komentar