Review Wiro Sableng

Selasa, September 11, 2018

Film fantasi buatan Indonesia amat sedikit jumlahnya. Wiro Sableng Pendekar Kapak Naga Geni 212 salah satunya. Bahkan ia juga film fantasi pertama Angga Sasongko, setelah beberapa film drama yang ia buat sebelumnya.



Wiro Sableng yang promonya amat gencar ini tentu menyita perhatian bahkan sebelum tayang. Berbagai gimmick yang dibuat, salah satunya dengan menyusupkan dua karakternya yaitu Wiro dan Anggini, ke dalam trailer Deadpool, menjadi pemantik untuk meraih sorotan.

Film ini tidak punya plot yang rumit. Jadi sebenarnya jalan ceritanya tidak terlalu menarik untuk disimak. Intinya adalah tentang Wiro Sableng dan beberapa pendekar yang menumpas pemberontakan. Wiro punya tujuan awal mencari Mahesa Birawa, si kakak seperguruan yang drop out jadi murid Sinto Gendeng dan malah jadi bandit. Ia adalah parasit di kehidupan kecil Wiro, selain juga adalah aktor utama pemberontakan kerajaan.

Pemberontakannya sendiri mudah diusut dan dipadamkan. Terlalu sederhana untuk film yang lama ditunggu jadwal rilisnya.

Hal-hal yang menolong dalam fim adalah setting yang mewah dan kostum pemain yang amat epic. Kalau soal adegan laga cukup lumayan. Walaupun saya menyesalkan beberapa scene yang kurang maksimal menggambarkan suasana kolosal. Ya, film ini tentang pemberontakan sebuah kerajaan oleh para bandit. Tentu sebagai pecinta film perang kolosal saya ingin melihat adegan perang dengan ratusan prajurit dan perkelahian yang heboh. Di film ini hal-hal itu tidak ada.

Raja Kamandaka yang kharismatik dalam film ini pemerintahannya begitu gampang dilumpuhkan oleh para bandit yang jumlahnya tidak lebih 50 orang. Ia punya panglima tetapi armada perangnya tidak terlihat sepanjang film. Seakan Raja Kamandaka ini cuma orang kaya level desa di sebuah masa feodal. Mungkin karena alasan budget yang membuat sutradara tidak mau repot-repot meng-hire ratusan pemain figuran untuk disuruh jatuh-jatuhan. Selain itu tidak ada gambaran luas sebuah negeri yang besar. Yang terlihat cuma sebuah istana dan sebuah pasar.

Soal karakter saya sangat menyesalkan peran tokoh Anggini yang minim. Pembentukan karakternya juga kurang. Saya tidak tahu Anggini yang diperankan oleh Sherina ini asal muasalnya dari mana. Dengan alasan yang tidak saya mengerti yaitu 'ingin lulus jadi pendekar' ia mau-mau saja mempertaruhkan nyawa ikut Wiro Sableng berperang melawan Para Bandit yang dipimpin oleh Mahesa Birawa (Yayan Ruhian).

Sesungguhnya di sisi protagonis cukuplah Wiro Sableng dan Si Gemuk Pendekar Bujang Gila Tapak Sakti saja yang ambil peran. Vino G. Bastian sebagai Wiro Sableng sangat maksimal perannya. Kocak dan hiperaktif. Adegan laga yang ia lakukan juga bagus. Dan Si Bujang Sakti adalah figuran yang baik sebagai pencuri perhatian penonton. Salah satu adegan terbaik mereka berdua adalah ketika bercanda di atas pohon di pinggir jurang. Kocak betul.

Saya mengingat-ingat Film Samurai-X yang dibuat dalam bentuk live action atau film samurai lainnya. Kultur samurai di Jepang itu ingin diadopsi di film ini dengan rasa lokal. Terciptalah kultur pendekar yang dicitrakan sebagai entitas praktisi silat penuh dedikasi yang berjuang membela kebenaran untuk menentukan jalannya sendiri. Tetapi lagi-lagi pembentukan karakter tidak terlalu matang. Jadi jika saya tak tahu menahu soal silat, misalnya, akan bertanya-tanya sebenarnya kenapa tiba-tiba di film ini muncul banyak pendekar dengan jurus masing-masing. Mereka itu dalam kehidupan negara posisinya sosialnya seperti apa? Apakah seperti samurai di Jepang atau bagaimana? Kenapa mereka tidak direkrut saja di pemerintahan karena dalam beberapa adegan justru para pendekar ini terlihat lebih handal dari prajurit kerajaan. Mereka punya jurus-jurus kanuragan tetapi para prajurit cuma punya pedang dan tameng. Ini salah satunya yang menyebabkan munculnya ketidaklogisan dalam film ini. Efek fantasi yang sedikit kurang rapi seperti jurus-jurus yang terlampau ajaib terkadang membuat pertarungan fisik jadi tidak menarik. Misalnya, untuk apa capek-capek adu jotos jika dengan satu jurus saja musuh bisa terhempas semua. Di sini, kemunculan pendekar seperti Bidadari Marsha Timothy amat menodai arti pertarungan.

Apakah Wiro Sableng perlu ditonton. Tentu saja iya, karena film seperti ini amat jarang diproduksi di Indonesia. Nikmati saja kocaknya Wiro Sableng dan Pendekar Bujang Sakti, serta setting hutan, savana, istana mewah, bangunan-bangunan kuno, dan tebing-tebing. Tidak ada stereofoam, tidak ada cat prematur, settingnya bagus, kecuali soal suasana negeri yang cuma istana dan pasar. Selebihnya ya seperti yang saya sampaikan di atas. Di sekuel-sekuel ke depan tentu akan lebih baik. Segala karya pertama pastilah sulit dan tidak sempurna. Maklumi saja.

You Might Also Like

0 komentar