Perjalanan ke Bau Bau Sebelum Lebaran

Sabtu, Juni 02, 2018

Di hari-hari terakhir menjelang libur Idul Fithri ini saya dan beberapa teman, diberi tugas untuk menyelesaikan pekerjaan di Bau Bau, sebuah kota kecil di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Kota yang rapi, tidak macet, tidak terlalu ramai, dan fasilitas yang sudah memadai.


Kami berangkat pada Kamis pagi dua hari lalu, sekitar pukul 7.45 menggunakan pesawat ATR kepunyaan maskapai Garuda. Pesawat yang kalau ditumpangi rasanya seperti naik angkot. Terbang rendah dan sangat sensitif terhadap kontak udara. Sekitar dua bulan lalu, pada awal Februari, ketika melakukan perjalanan dari Bau Bau ke Makassar, saya sedikit terpental dari tempat duduk ketika pesawat, yang kata pramugari, menabrak awan yang tidak terdeteksi. Saya dan Andis, senior saya, berkelakar: bisa saja terjadi sesuatu yang berbahaya, tapi pramugari menghibur penumpang agar tidak panik dengan mengatakan pesawat cuma menabrak awan yang tidak terdeteksi. Tapi kami tetap santai dan tenang hingga pesawat landing di Makassar.

Seperti biasa, jika ada jadwal untuk take-off pagi hari, saya akan menginap di kantor. Ini sebagai antisipasi saya. Takut kalau telat bangun. Maklum, sebagai anak kos yang hidup sendiri saya tidak mungkin berharap ada yang membangunkan saya waktu dini hari untuk berangkat ke bandara. Apalagi saya paling muda saat itu, diantara 3 senior Andis, Emphi, dan Iqbal. Sekalian waktu itu memang saya harus sedikit membantu rekan menyelesaikan pekerjaan di kantor yang baru rampung sekitar pukul 2.00 dini hari.

Suasana saat boarding:

Pemandangan bentangan gunung-gunung kapur sekitar Maros, dari atas pesawat:

Ini pemandangan Pulau Makassar dari atas pesawat, pulau kecil bagian Kota Bau Bau yang entah kenapa dinamai sama dengan Ibu Kota Sulawesi Selatan:

Kami sampai di Bau Bau sekitar 9.00 pagi, lalu dijemput driver mobil rental yang telah kami sewa. Segera setelah mencari hotel, kami menuju lokasi pekerjaan.

Selesai pekerjaan di hari pertama, saya tidur dari sore hingga maghrib. Saya benar-benar hibernasi. Mungkin karena sehari sebelumnya kurang tidur. Keesokan harinya kami agak kepayahan karena gagal sahur. Bisa dibilang kami kecewa karena terlalu bergantung dengan petugas hotel. Waktu pertama kali check-in kami dijanjikan oleh resepsionis untuk dibangunkan pukul 3.00 dini hari.

Waktu itu saya sebenarnya setengah sadar, mungkin sekitar pukul 3.00. Tapi sedikit terbersit di pikiran, belum ada petugas hotel yang datang. Jadi sepertinya belum waktunya sahur. Apalagi televisi yang menyala (RCTI) tidak menayangkan acara lawak tipikal sahur. Waktu itu RCTI menayangkan semacam sineteron yang dibintangi personil Wali Band. Saya pun tidur lagi. Setengah sadar lagi, lalu tidur lagi. Tidak saya sangka, ternyata RCTI memang tidak menayangkan acara lawak tipikal sahur. Melainkan acara sinetron Wali Band itu. Saya bangun lagi sekitar 4.30 lebih. Sudah mulai terdengar suara orang mengaji khas jelang adzan (di Sulawesi rata-rata semua masjid menyetel kaset puji-pujian yang sama sebelum adzan). Saya dan teman satu kamar, Kak Iqbal sempat minum beberapa teguk air putih. Itulah bekal kami untuk kerja seharian sampai jelang maghrib. Untungnya waktu itu medan kerja kami tidak terlalu sulit. Sebatas hutan-hutan yang datar. Itu pun beberapa dari kami sudah hampir pingsan. Marhaban ya Ramadhan.. Tuhan bersama orang-orang yang sabar.

Saya sudah dua kali ke Bau Bau, Februari lalu dan akhir Mei ini. Kota pelabuhan ini punya hamparan pemandangan laut dan pantai yang indah. Ada beberapa pulau kecil di sekitar kota. Satu yang paling terkenal adalah Pulau Makassar yang mencakup satu kecamatan (atau entah mungkin satu desa). Banyak spot wisata seperti hamparan kaki lima Kota Mara atau Pantai Kamali, tempat kita bisa nongkrong sambil memandangi kapal-kapal yang melintas. Ada juga Keraton atau Air Terjun Tirta Rimba, tetapi saya tak sempat mampir ke sana.  Maklum, tujuan utama saya bukan untuk melancong. Tetapi dua teman, Iqbal & Emphi, sempat mencuri waktu untuk singgah ke keraton. Selebihnya kota mungil ini cukup nyaman disinggahi, tidak macet, rapi, tetapi ada satu kekurangan: tidak ada hotel yang punya fasilitas lift. Saat ini Bandara Betoambari di Bau Bau sedang direnovasi. Nantinya landasan pacu yang semula 1900m akan lebih panjang menjadi 2500m, sehingga pesawat Boeing bisa mendarat di kota ini, jadi tiket pesawat mungkin akan sedikit murah dan tempat ini bisa lebih dijangkau dari manapun.

You Might Also Like

0 komentar