Susahnya makan sahur di hari-hari awal puasa

Sabtu, Mei 19, 2018

Tidak gampang merubah jam biologis dan pola makan saat memasuki bulan puasa. Apalagi saya terbiasa makan dengan membatasi menu dan porsi. Saya sejak beberapa minggu ke belakang melakukan diet & workout untuk mengurangi persentase lemak tubuh dan meningkatkan massa otot. Sebenarnya sejak 2014 saya suka eksperimen diet seperti ini, kadang untuk menaikkan berat badan atau menguranginya.


Di beberapa minggu sebelum Ramadhan saya sangat sedikit makan nasi dan memperbanyak sayur dan buah. Terkadang dalam sehari bahkan saya tidak makan nasi sama sekali. Tetapi karena tidak bisa mengolah masakan sendiri, jadinya saya biasa membeli makanan yang monoton. Ya kalau tidak gado-gado (tanpa lontong), biasanya saya makan pecel, atau salad buah.

Tetapi di waktu sahur di awal-awal puasa, kesemua menu itu tidak bisa saya dapatkan. Bahkan warteg-warteg yang biasa saya langgan, sebagai alternatif mencari makanan sayur, pun juga tidak buka di awal Ramadhan ini. Saya baru mendapati di lingkungan saya, di sekitar Tidung dan Tamalate, Makassar, satu warteg buka di hari ke tiga puasa.

Jadi, hari-hari awal puasa saya sepertinya mengonsumsi karbohidrat lebih banyak dari hari-hari sebelumnya, karena warung yang tersedia kalau tidak ayam penyet Lamongan, nasi kuning, atau songkolo (makanan dari ketan dicampur kelapa) Sebatas itu. Tidak ada pecel, tidak ada gado-gado yang jadi favorit saya.

Yang lebih dilematis lagi perkara jam biologis yang berubah saat masuk Ramadhan juga memengaruhi pola makan. Di hari-hari biasa saya dua kali makan sehari: jam 11-12 siang dan jam 7-9 malam. Di waktu puasa, ternyata respon perut agak berbeda. Waktu buka puasa perut sudah terasa kenyang sekali walau hanya makan camilan takjil. Lalu makan malam setelahnya, dengan menu yang disediakan takmir masjid tempat saya biasa sholat maghrib, isya, dan tarawih yaitu di Masjid An-Nur, di kantor saya. Jadi, di momen itu saya tidak mengatur menu makanan sendiri. Yaa rejeki nasi box gratis mana mungkin saya tolak, apalagi saya biasa maghrib-isya di tempat itu. Hmmm.

Selesai tarawih saya ingin mengonsumsi buah-buahan seperti salad atau jus. Tapi rasa-rasanya perut sudah penuh sekali. Kenyang. Rasa kenyang ternyata bertahan sampai sahur. Nah, di waktu sahur ini rasanya ingin memperbanyak makan sayur & buah, untuk menyeimbangkan asupan serat dan karbohidrat. Tetapi lagi-lagi susah mencari makanan sayur dan buah di waktu sahur. Jadinya, lagi-lagi saya mengonsumsi makanan karbohidrat tinggi, nasi ayam penyet Lamongan, songkolo, atau nasi kuning. Tapi dengan mulai bukanya warteg-warteg di waktu-waktu ke depan mungkin saya bisa mulai memiliki alternatif makanan sayur.

Masalah makan aja kok ribet? Hehehe, mungkin kalau kamu sedang eksperimen diet, kamu akan mengalami hal-hal semacam ini. Mungkin banyak orang tidak ambil pusing soal konsumsi karbohidrat, kadar gula, kadar lemak di tubuh, dsb. Tetapi setelah banyak baca, dan banyak tahu, rasa-rasanya saya perlu mengatur pola makan. I realize people eat more than they need. Yang jadi indikator bagi saya: ketika masih banyak gumpalan lemak di tubuh, terutama perut berarti saya makan lebih dari apa yang saya butuhkan, lalu ketika sudah mengurangi konsumsi makanan (terutama karbohidrat) dan energi atau daya tahan tubuh tidak berkurang, berarti saya tak perlu menambah konsumsi makanan, terkecuali ketika ingin menambah berat badan. 

Kira-kira begitu. Setidaknya saya mempraktekkan prinsip jangan makan sebelum lapar, berhenti makan sebelum kenyang. Dulu kata Pembantu Dekan waktu saya kuliah, Pak Abdullah namanya, "Makan sehari 2 kali aja, makanan yang 1 kali lagi buat orang lain."

Marhaban yaa Ramadhan.

You Might Also Like

0 komentar