Menjadi Fans Bulutangkis yang Lebih Bijak

Jumat, Mei 25, 2018

Dalam sebuah sesi interview, Taufik Hidayat, yang kala itu baru saja gantung raket mengomentari kritikan yang sering datang dari fans ketika ia bermain buruk. Taufik berkata,"kalau sudah menthok, ya tinggal bilang saja, 'tinggal nonton aja kok susah'.." Ungkapan yang agak ofensif ini menunjukkan bagaimana kritikan dan tekanan masyarakat juga menjadi perhatian dan begitu berpengaruh bagi seorang atlit. 

Pada disiplin olahraga lain, salah satu atlet sepakbola terbaik Indonesia, Bambang Pamungkas, juga pernah mengomentari hal serupa. Dalam sebuah wawancara dengan Kompas --juga dimuat di buku Bepe 20 Pride-- Bambang Pamungkas memberikan pernyataan mengenai tekanan bermain di Timnas yang sangat tinggi, dan dampak baginya serta keluarga, salah satunya istri yang memintanya mundur dari Timnas sejak 2008.

Menurutnya, banyak terjadi pemain yang begitu luar biasa di klub, tetapi tidak maksimal di Timnas karena tingginya tekanan. "Karena logikanya, ketika saya bermain untuk Persija dan saya gagal, maka yang mengkritik saya hanya masyarakat Jakarta. Tetapi, ketika saya bermain untuk Timnas Indonesia, ketika tidak memuaskan publik, maka dari Sabang dari Merauke yang mengkritik saya. Itu konsekuensi. Mungkin bagi saya, itu hal yang wajar karena itu sebuah konsekuensi yang sangat saya pahami sebagai pemain sepak bola. Tetapi, bagi keluarga, tidak semudah itu." Imbuhnya.

Timnas Uber Indonesia baru saja mengalami kekalahan atas Thailand di babak perempat final Uber Cup 2018 dengan skor 2-3. Fitriani saya pikir, menjadi pemain yang paling disorot karena selalu bermain di pertandingan pertama dan gagal menyumbangkan poin dalam tiga pertandingan beruntun. Hal yang tidak mudah tentunya, karena sebagai tunggal pertama ia harus melawan pemain-pemain tunggal terbaik dari negara-negara lain, seperti Chen Yufei atau Ratchanok Intanon, yang keduanya bertengger di ranking 10 besar.

Dalam momen-momen kekalahan seperti ini, baik yang dialami Fitriani atau pemain-pemain lain, selalu ada netizen yang mengungkapkan kekesalan dengan kata-kata peyoratif. Beberapa bahkan memberikan hujatan di luar konteks, yakni menghujat secara fisik dan rasial kepada pemain. Hal ini bisa dilihat dari berbagai platform media sosial yang ada, Twitter, Instagram, bahkan kolom chat Youtube streaming sekalipun.

Serupa dengan Taufik atau Bambang, pemain-pemain Thomas dan Uber Cup, atau atlet-atlet disiplin olahraga lain yang berjuang membela negaranya dalam pertandingan internasional seharusnya tidak mendapat hujatan sedemikian rupa ketika gagal. Lagi pula hujatan atau makian verbal yang ditujukan kepada atlet adalah hal kontraproduktif. Tak akan merubah apapun kecuali memberikan energi negatif. Kalah dalam pertandingan internasional dengan membawa nama negara, bukanlah suatu kejahatan atau tindakan tercela.

Atlet-atlet itu telah kehilangan banyak tenaga, waktu, biaya, dan bahkan kesempatan memperoleh pendidikan formal di masa muda. Sayangnya mereka juga tidak punya privilege seperti penggemarnya yang merasa berhak mengomel, menghujat, dan merasa kecewa karena idolanya kalah. Para atlet itu kehilangan lebih banyak hal daripada kita yang mungkin sekadar kehilangan quota internet untuk menonton streaming idolanya.

PS: tulisan saya ini sebelumnya telah diterbitkan di badmintalk.com

You Might Also Like

0 komentar