Hal-hal dasar yang semakin sulit dimiliki

Rabu, Mei 02, 2018

Orang-orang punya kehendak dasar yang berubah-ubah tiap waktu, mengikuti zaman yang semakin berkembang. Dulu orang cuma butuh makan, lalu butuh sandang dan tempat tinggal. Ketiganya dianggap kebutuhan paling pokok, dengan makan di urutan teratas. Tapi kini semua sudah berubah.


Lambat laun, orang jadi butuh alat-alat produksi, butuh tanah, gadget, hiburan, dsb. Standard hidup naik seiring kesejahteraan yang juga naik.

Seminggu lalu, selama lima hari, saya mengunjungi beberapa kota di Sulawesi Tenggara: Kendari, Konawe Selatan, dan Bombana. Kendari yang paling ramai, karena merupakan ibu kota provinsi, menyusul kemudian Bombana dan Konawe Selatan.

Kota-kota ini butuh pasokan listrik, butuh jalan trans yang bagus, dan butuh industri untuk menampung ribuan hingga jutaan angkatan kerja di sana. Hal-hal itu saling berkaitan. Industri baru akan berkembang kalau jalan sudah bagus dan listrik juga memadai, dan mungkin tata kelola dan birokrasi juga menjadi faktor pendukung dominan yang lain.



Di atas adalah foto saya, Febri, dan pamannya. Seharusnya saya ambil gambar keadaan kota Kendari atau Konawe Selatan dan Bombana yang masih sepi itu. Tapi tak sempat.

Konawe Selatan dan Bombana, barangkali adalah tipikal kota pra-industri (saya tidak cukup yakin ini adalah istilah yang tepat) yang baru mekar dan berkembang. Orang-orang masih mengandalkan hasil bumi untuk bertahan hidup, sembari menunggu adanya lapangan kerja di sektor industri.

Salah seorang pemuda Konawe Selatan yang saya kenal adalah Febri. Ia peranakan Tolaki-Jawa. Ia bilang keluarganya mengelola satu hektar ladang warisan kakeknya yang ditanami pohon kelapa.

Febri yang masih duduk di kelas 2 SMA ini bilang kalau sudah lulus nanti ia ingin melamar di perusahan, tetapi ia tak menyebut dengan pasti, perusahaan macam apa yang ia cita-citakan. Tetapi pada intinya ia ingin mencoba peruntungan menjadi buruh industri.

Remaja macam Febri juga tipikal. Rata-rata, di manapun anak muda akan begitu. Jarang ada orang muda yang menggantungkan hidup secara mutlak dengan bertani atau mengelola tanah. Itu sudah menjadi keniscayaan di jaman sekarang. Di keluarga saya kakek dari bapak dan beberapa paman dan bibi menjadi petani. Tapi generasi ke tiga, yaitu cucu-cucu kakek, hampir tidak ada yang bertani lagi. Selain lebih ingin mencoba pekerjaan lain yang lebih 'layak', ladang dan sawah pun tidak cukup jika dikeroyok atau dibagi ke semua orang.

Jadi, rasio jumlah orang yang bertani mungkin berkurang. Karena lahan bercocok tanam secara keseluruhan, di manapun, hanya sedikit bertambah. Juga terdesak oleh kebutuhan lain seperti pemukiman dan industri.

Jadi, nantinya setelah jalan-jalan dibangun, listrik dialirkan dan industri semakin maju, kebutuhan dasar yang paling penting bagi manusia adalah tanah atau ruang. Karena tanah dan ruanglah elemen yang tidak pernah bertambah, namun justru berkurang setiap waktu.

You Might Also Like

0 komentar