Susah Sinyal

Sabtu, Februari 10, 2018

Ernest Prakasa membikin beberapa film drama keluarga. Dua yang saya tonton, Ngenest dan Susah Sinyal--karya film pertama dan yang terakhir. Susah Sinyal jauh lebih baik ketimbang yang pertama, Ngenest.

[sumber gambar: thejakartapost.com]

Saya melewatkan film Ernest yang lain: Cek Toko Sebelah. Tetapi jelas film-film Ernest tampak semakin baik kualitasnya.

Saya mendapatkan komedi yang kocak, tetapi juga sayangnya drama yang payah sewaktu menonton film Ngenest. Lucu tetapi dramanya kurang. Namun di film Susah Sinyal drama yang tersaji sebaik dan sekuat komedinya. Lucu, tetapi juga membikin haru.

Saya menontonnya sebulan lalu, di ujung tahun. Di dalam teater, di samping saya duduk dua orang anak kecil yang datang ditemani seorang ibu paruh baya. Tiba pada sebuah scene yang amat panjang, ketika Ellen (Adina Wirasti) berbicara dengan Kiara (Aurora Ribero) mengenai mengapa keluarga mereka harus berjalan tanpa figur ayah. Selesai melihat adegan itu si ibu paruh baya menangis dan mencium anaknya.

Film ini banyak menyeritakan hal-hal yang related dengan semua orang. Soal hubungan orang tua dan anak. Orang tua suka sok tahu dan merasa berhak mengatur kemauan anak-anaknya hanya karena hidup lebih lama. Merasa lebih berpengalaman dan lebih tahu segala hal.

Beberapa waktu lalu saya membaca Buku Stephen Covey. Judulnya "7 Kebiasaan Keluarga efektif". Ia membagi cerita mengenai seorang kliennya yang kala itu punya hubungan buruk dengan anaknya. Si anak tidak mau, bahkan hanya sekadar duduk bersebalahan dengan si ayah untuk menonton televisi. Di kemudian hari diketahui bahwa si ayah tanpa sadar pernah melakukan suatu hal yang membuat si anak amat malu di depan teman-temannya. Si ayah berpikir apa yang dilakukannya baik untuk si anak.

Rasa-rasanya saya juga pernah mengalami hal serupa.

Di film Susah Sinyal ini si ibu ingin anaknya patuh melakukan semua hal yang disarankan atau disetujuinya. Tujuannya adalah agar si anak tidak salah pergaulan seperti dirinya waktu muda. Ia anggap anaknya tak tahu apa-apa. Baginya membiarkan anaknya memilih jalan hidup sendiri hanyalah awal menuju kehancuran di masa depan. Protektif.

Kehendak orang tua atau kehendak anak tentu saja tidak pernah mutlak baik. Dari hal-hal kecil, sampai besar. Yang jadi soal dalam beberapa kasus tidak ada ruang dialog, sehingga preferensi pun terbatas. Saya masih menjumpai rekan yang dipaksa orang tuanya harus sekolah di jurusan apa, kuliah di mana. Di ujung cerita ia tak punya motivasi belajar karena tidak berada di jalan yang ia pilih sendiri.

Menonton Susah Sinyal, saya mengingat hal-hal itu.

You Might Also Like

0 komentar