The Surveyor

Rabu, Agustus 02, 2017

Sabtu, 17 Juli 2010. Hari paling kelam, bagi Ibu saya, di bulan itu.

Saya baru saja membuka pengumuman hasil SBMPTN. Ada tiga prodi yang saya pilih lewat jalur IPC: Teknik Perkapalan ITS Surabaya, Akuntansi UNS Solo, dan yang terakhir Pendidikan Teknik Mesin UNY Jogjakarta.

Saya tidak diterima di ketiga prodi. Jauh hari Ibu saya dengan berseringai berujar, "Kayaknya kamu diterima di ITS, Nak." Kenyataan berkata lain, saya gagal. Raut mukanya nanar seketika tahu saya tak bisa mendapat kursi di universitas lewat jalur SBMPTN.

Saya benar-benar pasrah. Saya sudah agak patah arah. Saya begitu ambisius mengikuti berbagai ujian semenjak awal tahun, dari Ujian Mandiri UGM, Ujian Mandiri Undip, Tes Masuk STAN, Jalur Kemitraan PLN, dan lain-lain, kesemuanya gagal kecuali satu yang akan saya tuliskan nanti.

Semua ujian masuk universitas favorit atau seleksi sekolah ikatan dinas, saya sikat habis, kecuali yang jadwalnya saling bertabrakan, baru saya bikin skala prioritas. Sampai-sampai saya bilang ke seorang kawan: "Kalau saja formulir UM-ITB gratis, saya bakal ikut juga." Saya juga mengikuti Seleksi Masuk UI, tapi bertabrakan dengan jadwal Ikatan Dinas PLN.

Bapak saya pernah bilang di manapun saya diterima kuliah ia bakal menanggung biayanya. Saya sangat semangat mengikuti berbagai tes. Pun saya ingat betul saran seorang kawan untuk senantiasa memilih prodi unggulan, agar kelak saya tak pernah menyesal karena tak pernah coba-coba masuk di prodi-prodi non-unggulan.

Semangat dan optimisme nan jumawa itu tidak saya imbangi dengan frekuensi waktu belajar yang cukup. Saya cenderung malas belajar. Rasa malas itu memberi kontribusi besar atas gagalnya saya di berbagai tes.

Sebelum SBMPTN sebenarnya saya diterima di Program Beasiswa S1 Pertanian kemitraan Institut Pertanian Jogjakarta dan Sinar Mas. Jika meneruskan program tersebut saya akan disekolahkan 3,5 tahun untuk kemudian direkrut sebagai karyawan Sinar Mas dan menjalani ikatan kerja minimal selama 5 tahun. Tapi ibu saya melarang dan akhirnya saya kabur di fase terakhir tes, fase ketika saya disodori kontrak dan diminta menandatanginya.

Itu adalah kali pertama, sejak SMA, ibu melarang saya melakukan suatu kegiatan atau menentukan suatu pilihan sendiri. Ia bilang tidak mau saya kerja di hutan. Beberapa waktu kemudian saya pikir baik-baik, keputusan saya meninggalkan Program Sinar Mas adalah keputusan tepat.

Setelah SBMPTN berlalu dua tes yang saya pikir cukup menarik untuk diikuti adalah UMPN (Ujian Masuk Politeknik Negeri) dan Ujian Mandiri Undip. Lagi-lagi saya berusaha memilih prodi unggulan. Saya pilih D4 Mekatronika Politeknik ITS & D3 Mesin Konversi Energi Polines Semarang untuk UMPN. Lalu saya pilih Teknik Mesin, Teknik Kimia, dan Kesehatan Masyarakat di Ujian Mandiri Undip.

Saya diterima di Polines. Saya sudah diberi seragam lab, ikut pengarahan ospek, dan menerima berbagai fasilitas sebagai siswa baru. Bahkan sudah Bayar uang gedung. Tapi beberapa hari sebelum hari pertama Ospek, saya dapat pengumuman diterima di Teknik Mesin Undip lewat Ujian Mandiri.

Saya berpikir keras. Menjalani kuliah di Undip lewat jalur mandiri tidak akan pernah mudah. Saya harus membayar SPP 2,5 kali lebih besar dari mahasiswa non-mandiri & uang gedungnya pun 6 kali lebih besar. Ditambah lagi saya sudah bayar berbagai biaya di Polines yang terancam melayang begitu saja.

Tapi setelah berembug dengan orang tua saya diarahkan untuk memilih Teknik Mesin Undip. Alasannya, dengan titel Sarjana Teknik Mesin harapannya kelak saya akan punya peluang karir lebih baik. Jika penyandang dana sudah merestui tentu saya ikut saja. 6 tahun kemudian setelah menghabiskan 5,5 tahun masa kuliah, saya diterima di PLN. Perusahaan yang rela menerima saya meskipun menenteng ijazah dengan IPK pas-pasan.

Pangkep, 2 Augustus 2017
Sewaktu saya Survey T/L 275 kV

Saya tanggalkan banyak ilmu Teknik Mesin yang saya peroleh. Saya terdampar menjadi surveyor, sebuah bidang pekerjaan yang idealnya banyak diisi oleh orang-orang dengan dasar keilmuan Teknik Sipil atau Geodesi. Apapun itu, toh saya nyaman-nyaman saja menjalani pekerjaan ini, dengan berbagai suka duka, bahagia dongkol, dan malas rajinnya.
Bersambung...

You Might Also Like

0 komentar