Menonton Annabelle 2 (Review)

Sabtu, Agustus 19, 2017

Saya tidak terlalu rajin menonton film akhir-akhir ini, tetapi Dunkirk dan War for the Planet of the Apes adalah dua film yang seharusnya saya tonton. Dunkirk, karena saya menyukai film perang kolosal dan War for the Planet of the Apes karena sequel sebelumnya, Dawn of the Planet of the Apes, adalah film terbaik 2014 yang saya tonton. Jadi saya menantikan kelanjutan series Planet of the Apes. Tapi keduanya saya lewatkan begitu saja karena alasan waktu yang tidak cukup luang.


Annabelle adalah pilihan yang paling tepat di antara judul-judul yang beredar saat ini. Ajakan teman untuk menonton di Jum'at malam sehari lalu pun saya iyakan, sembari mengisi waktu rehat dari berbagai beban pekerjaan.

Linda the Chicka Jessica lookalike | pict: comingsoon.net

Sequel terakhir Paranormal Activity adalah film horor terakhir yang saya tonton, pun saya tak menonton Insidious maupun Conjuring. Jadi sebenarnya saya tidak punya preferensi yang cukup mengenai film horor. Tetapi saya pikir, Annabelle tidak terlalu menyeramkan. Annabelle tidak menanamkan ketakutan yang cukup berarti dalam relung jiwa. Selesai menonton film saya pun masih dengan santai menyusuri lorong-lorong ruangan kantor yang remang-remang sendirian untuk mengambil tas kerja yang tertinggal.

Plot film masih sekitar cerita rumah aneh yang diselinapi hantu jahat, sebagaimana film-film horor pada umumnya. Entah mengapa di berbagai film horor, orang-orang suka sekali tinggal di rumah yang terisolir. Rumah yang jaraknya jauh dari rumah-rumah yang lain. Praktis mereka akan kerepotan ketika meminta bantuan ke tetangga atau ketua RT setempat jika terjadi masalah.

Diceritakan ada sepasang suami istri yang berkenan menampung anak-anak panti asuhan yang entah apa pasal harus berpindah dari tempat yang lama. Mereka adalah Samuel Mullins, pria separuh tua dengan brewok ala aktor bollywood dan istrinya Esther.

Selalu ada tingkah-tingkah naif para tokoh dalam film horor. Janice si gadis difabel yang malang, contohnya. Ia adalah satu dari enam gadis panti asuhan yang diinapkan di rumah keluarga Mullins. Dengan kondisi tubuhnya yang cacat tentu ia akan kerepotan ketika bertemu hantu. Tetapi hal itu tidak menyurutkan hobinya yang suka sekali menjelajah rumah malam-malam ketika teman-temannya sudah lelap.

Atau Linda, gadis kecil berponi yang saya yakin ketika dewasa nanti wajahnya akan sangat mirip Chicka Jessica. Ia adalah teman sekamar Janice. Entah apa yang ada dalam pikirannya, dengan cerobohnya ia berusaha membuang boneka Annabelle di malam hari. Jika menjadi dia, tentu saya akan memilih membuang boneka itu di siang hari, ketika terang matahari masih ada. Ketika bayangan pohon tidak seseram kelihatannya dan ketika suara hembusan angin tak membuat bulu kuduk berdiri.

Tetapi memang, di film-film horor, orang-orang Amerika terlihat memiliki standard keberanian yang lebih tinggi dari bangsa lain. Selain gemar tinggal di rumah yang terisolir, seperti yang saya ceritakan di awal, keluarga Amerika membiasakan anak-anak sedari kecil tidur sendirian di ruangan yang gelap. Seperti anak Pak Mullins dan Bu Esther yang diceritakan wafat tertabrak mobil. Kamarnya lebih mirip tempat uji nyali.

Boneka dengan mata belo memang selalu tampak menyeramkan sejak pertama kali saya melihat boneka Susan dan Ria Enes di televisi. Tetapi untuk sekelas film horor Hollywood, film Annabelle dengan boneka porselinnya tak seram-seramt amat. Yang membuat Annabelle seram adalah roh jahat yang superior. Roh jahat itu hampir bisa melakukan kekejaman dan kejahatan apa saja. Ia mampu membuat orang terlempar sampai berdarah-darah, mampu mematah-matahkan jari-jemari dengan ngerinya, atau merasuki tubuh seorang anak agar ia membunuh orang lain. Adegan-adengan thriller seperti itulah yang membuat film Annabelle sedikit menyeramkan.

Sejak sebelum film diputar saya melihat banyak anak kecil yang diajak orang tuanya menonton. Saya heran karena dua hal. Pertama, saya kira film ini untuk 18 tahun ke atas. Kedua, dari sekian anak kecil yang menonton hanya satu yang menangis ketakutan. Ataukah mereka juga menganggap film ini tidak seram-seram amat?

You Might Also Like

0 komentar