Curhat adalah keniscayaan

Sabtu, Juli 22, 2017

Ramadhan yang baru saja berakhir sebulan lalu adalah yang kali pertama bagi saya di Makassar. Bulan Ramadhan selalu memberi keringanan dan kemudahan, juga keriaan. Begitu juga yang saya alami tahun ini. Jam kantor menjadi lebih pendek (walaupun hanya berlaku beberapa hari, hingga kemudian diberlakukan kembali jam wajar), porsi pekerjaan sedikit dikurangi, dan momen makan-makan gratis bertebaran di mana-mana.

Di kantor saya, pengurus masjid setempat mengatur dengan baik program Ramadhan. Yang rutin diselenggarakan adalah tausiyah ba'da dzuhur dan buka puasa. Saya sepenuhnya menyerahkan keteraturan selama Ramadhan pada kegiatan-kegiatan tersebut. Jadi, sehabis dzuhur akan ada tausiyah selama beberapa menit. Lalu, sebelum maghrib, kami yang sedang senggang di kantor ngabuburit di masjid sambil menunggu takjil. Sehabis itu, biasanya saya tetap di kantor hingga sehabis shalat tarawih.

Jadi, begitulah. Bulan Ramadhan tahun ini seakan-akan saya lewati dengan teratur dan tenang-tenang saja. Yang meninggalkan banyak kesan dari Ramadhan justru bukan sisi ritual, melainkan sisi sosial. Karena saking banyaknya waktu luang saya jadi lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman, lebih banyak cerita, lebih banyak menelpon orang tua, lebih banyak mengobrol.

Sedikit terdengar kurang produktif mungkin, tapi saya suka mengingat-ingat pesan seorang kawan: pada dasarnya setiap orang punya sifat dasar yang sama: ingin didengar, ingin disanjung, dan ingin apa yang ia katakan diiyakan. Maka, curhat adalah keniscayaan. Beberapa persoalan yang membebani pundak terasa sedikit berkurang jika dibicarakan bersama, walaupun sebenarnya persoalan itu belum dipecahkan sama sekali.

Apa yang paling sering menjadi subyek pembicaraan? Kalau tidak masalah pekerjaan yaa masalah jodoh... Eh bukan-bukan. Tentu masalah pekerjaan saja. Seringnya.

You Might Also Like

0 komentar