Bakso Terenak Seumur Hidup

Jumat, Oktober 28, 2016

Makassar adalah titik pertama yang saya singgahi di Pulau Sulawesi. Ia pulau ke lima yang saya kunjungi setelah Jawa, Madura, Bali, dan..... Nusakambangan. Yah, saya tak ke mana-mana selama ini, melainkan sekadar berputar-putar di Jawa.

Saya mulai aktif bekerja di PLN per 6 Oktober 2016 lalu dan untuk sementara waktu berkantor di Unit Induk Pembangunan Sulbagsel Makassar, atau tepatnya di Bagian Perencanaan Umum.

Ada kesan-kesan mengenakkan dan ada pula kesan-kesan kurang mengenakkan awal-awal di Makassar. Makassar sepertinya punya masalah soal penataan kota. Soal penataan kota Makassar yang kurang baik ini juga diiyakan oleh teman-teman saya yang lama tinggal di Makassar.

Semenjak datang tanggal 5 Oktober lalu, saya hanya melihat sedikit trotoar yang kelihatannya cukup asyik untuk dilewati para pejalan kaki. Tidak seperti di Semarang misalnya, atau beberapa kota lainnya yang pernah saya kunjungi.

Salah satu contohnya adalah jalan depan kantor saya, yaitu Jalan Hertasning. Kalau berjalan kaki di Hertasning hanya ada sekitar 1 meter jalur beton di atas gorong-gorong --yang amblas atau berlubang di beberapa titik, dan kadang banyak ranting kecil yang jatuh melintang, genangan lumpur, atau sampah berserakan. Apa-apa yang tersebut tentu sangat mengurangi kenyamanan bagi pejalan kaki seperti saya.



Salah satu kesan yang mengenakkan di Makassar, selain tentu orang-orangnya yang ramah-rama (kalau dalam perpektif saya sebagai orang Jawa, orang Makassar punya unggah-ungguh) adalah kuliner! Atau lebih tepatnya bakso. Saya sudah mencoba berbagai bakso di Makassar. Bakso di Makassar punya dimensi lain. Ia punya cita rasa asam, pedas, dan gurih. Biasanya disantap dengan mie (mie instan atau yang semisal) dan dibumbuhi jeruk nipis.



Bakso pertama di Makassar yang saya coba adalah bakso gerobak di depan Lapangan Emmy Saelan. Bakso ini adalah bakso terenak yang pernah saya coba selama hidup. Saya tidak membual. Berturut-turut kemudian saya mencoba Bakso di Jalan Tamalate, Samata, dan di samping Emmy Saelan. Semuanya enak, tapi tidak ada yang melebihi bikinan abang tukang bakso yang mangkal di depan Lapangan Emmy Saelan. 

You Might Also Like

0 komentar

Daftar Bacaan

Like us on Facebook