Review Blood Father

Kamis, September 22, 2016

Blood Father adalah sebuah film yang menunjukkan sisi khas Mel Gibson. Sama seperti film-film Mel Gibson terdahulu yang pernah saya tonton: Braveheart, The Patriot, We Were Soldiers, and even The Signs. Ia digambarkan sebagai sosok ayah penuh tanggung jawab, cinta keluarga, pelindung keluarga dan kaumnya.


Mel berperan sebagai John Link, seorang residivis yang menjalani uji coba tahanan rumah di pemukiman sub-urban padang gurun. Ia mengisi hari-harinya di sebuah gerbong bekas yang disulap menjadi studio "Missing Link Tattoo". Kesan gelap pertaubatan John Link atas dosa-dosa kriminal yang pernah ia lakukan di masa lalu tergambar dengan baik: tinggal di gurun sunyi dengan matahari hangat dan redup setiap hari, sambil menempeli dinding-dinding studio dengan foto-foto anak gadisnya, Lydia (Erin Moriarty), yang hilang entah ke mana.

Alih-alih bisa menebus dosanya dengan mendapat surat bebas permanen dan menemukan segera Lydia, John justru kembali terjerembab dalam kriminal dan berurusan dengan musuh (sekaligus kawan) lamanya. Pasalnya ia menemukan Lydia yang sudah beranjak remaja terlilit kasus pembunuhan mantan kekasihnya dan dikerjar-kejar jaringan mafia. Hubungan bapak-anak ini mengingatkan saya pada Benjamin (pensiunan perang) dan Gabriel (remaja yang ingin ikut revolusi) pada The Patriot. Yakni ayah yang tak ingin anaknya mengikuti jejaknya, namun terpaksa harus menyelami kembali kehidupan lamanya bersama sang anak dengan kembali ikut perang kemerdekaan Amerika.


Dramatis, menguras emosi, mendebarkan, dan menyenangkan. Set tempat banyak mengambil jalanan di padang gurun atau pinggir kota. Seakan mereka tak lari ke mana-mana. Jadi kesan yang timbul adalah John dan Lydia tidak berusaha lari dari kejaran, tapi ingin bebas dan tak pernah dikejar lagi. Just as simple as kill or to be killed. Saya melihat Dwayne Johnson (film Faster) dalam versi yang lebih pintar, penuh strategi, akurat --always do based on information and calculation--, dan tidak asal berani pada diri John Link.

Sisi Mel Gibson penjahat pemikir keras yang kebapakan itu keluar. Namun, ia ditandem dengan Lydia remaja yang kekanak-kanakan. Jadilah adegan-adegan dialog antara bapak yang kaku dan anak perempuan yang blingsatan menyela di antara adegan perkelahian, kejar-kejaran, dan tembak-menembak. Not meant to be funny but funny.


Yah, dan sebagaimana saya kagum dan puas dengan The Patriot di mana adegan perang ternyata juga seru meskipun dilakukan secara tradisional. Saya juga puas melihat adengan koboi era moderen denga tembak-tembakan dan perkelahian dasar tanpa perlu banyak ledakan fantastis, gedung-gedung yang hancur, atau jembatan yang runtuh. Cukup senjata, pukulan (bahkan gigitan), dan sedikit ranjau antik. Thriller yang sederhana dan brutal.

You Might Also Like

0 komentar