Review Rudy Habibie (Habibie & Ainun 2)

Selasa, Juli 05, 2016

Film Habibie & Ainun yang rilis 2012 lalu mengambil terlalu banyak periodisasi hidup Habibie, dari ia anak-anak hingga meninggalnya Ainun. Agak sukar membayangkan bagaimana film yang rakus mengambil cerita itu dibuatkan sekuelnya. Lantas dirilislah Rudy Habibie (Habibie & Ainun 2) yang merupakan prequel Habibie & Ainun dengan cerita yang lebih spesifik.


Rudy Habibie mengisahkan kehidupan Bacharuddin Jusuf Habibie semasa kuliah di RWTH Aachen Jerman Barat tahun 1955-1965. Sosok Rudy (Habibie remaja) diperankan oleh Reza Rahadian yang seperti biasa tampil mengesankan sebagai copycats Habibie. Entah betapapun kita tak pernah melihat sosok Habibie remaja, semua yang dilakukan Reza --gestur dan mimik wajah-- terasa benar.

Peran Rudy Habibie yang amat sentral menjadikan film ini sebagai one man show. Semua unsur yang ada pada Habibie dikeluarkan. Ia sebagai seorang idealis, nasionalis, religius, toleran, sensitif, dan melankolis, semua muncul. Sesuatu yang barangkali terasa sebagai kekurangan film ini karena tak ada cerita sampingan dari tokoh lain.

Tidak ada tokoh lain yang cukup dominan untuk mendampingi sang tokoh utama, tidak ada scene stealer, entah dari sisi protagonis seperti Peter Manumasa (Pandji Pragiwaksono), Keng Kie (Ernest Prakasa), Poltak Hasibuan (Boris Bokir), Ayu (Indah Permatasari), dan Sugeng (pengawal Ayu) maupun dari pihak antagonis yakni kelompok para tentara pelajar Indonesia yang dapat beasiswa sekolah di RWTH. Kalaupun ada yang cukup mengimbangi ia adalah Illona (Chelsea Islan) yang dikisahkan sebagai gadis Polandia pacar Habibie sewaktu di RWTH yang keduanya terlibat pacaran beda agama.

Film ini berlatar masa Orde Lama ketika Sukarno berkuasa. Yang membuat film ini enak ditonton adalah karena banyak unsur politik dan sosial yang menyertai kehidupan Habibie waktu itu yang sekaligus menjadi pembeda dari Habibie & Ainun 2012 yang menonjolkan kisah drama.

Kalau dianalogikan, kehidupan Orde Lama yang hanya belasan tahun sejak Indonesia merdeka mirip-mirip kita di masa sekarang yang baru belasan tahun lalu beranjak dari reformasi. Ada fragmen-fragmen cerita yang terasa kekinian.

Kala itu Habibie dituduh kontra revolusi karena ia dan organisasinya (Perhimpunan Pelajar Indonesia) mengingkari kemauan pemerintah Orde Lama, ya mirip-mirip perilaku pemerintah Orba yang sering menuduh pihak pemrotes pemerintah sebagai komunis dan sederet phobia komunisme yang masih terjadi hingga sekarang. Adegan yang paling membuat sosok Habibie terlihat besar adalah kala penelitian Habibie di-stop pemerintah Jerman, lalu agen Jerman bilang, "Anda dianggap sebagai ancaman negara (Jerman), karena negara Anda tidak bergabung dengan NATO, kami takut penelitian Anda jatuh ke tangan komunis." Relasi Habibie-karyanya-pemerintah membuat film ini agaknya terlihat The Imitation Game-esque.

Kalau anda baca berita tempo hari mengenai Shinta Nuriyah Wahid (Istri Gus Dur) diusir oleh gerombolan FPI hanya karena mengadakan buka bersama tokoh Katolik di sebuah gereja di Semarang, maka anda akan tersenyum simpul kala melihat adegan Habibie berdoa di gereja karena kesulitan mencari masjid di Aachen dan mengobrol dengan Romo Mangunwijaya. Dengan sederet cast yang memerankan tokoh dari latar belakang suku dan agama yang berbeda-beda tampak film ini ingin menunjukkan sisi toleran (atau mungkin pluralis) seorang Habibie.

Saya tidak tahu, film mana lagi yang mengulas kehidupan haru biru masa-masa Orde Lama selain Gie (2004) dan film ini. Bolehlah dikata di film ini banyak unsur drama dan segala yang sedih-sedih tetapi unsur politik dan sosial memberi dimensi lain dan membuat film ini layak ditonton. Another one million viewers movie.

You Might Also Like

0 komentar