No Man's Land

Rabu, Maret 02, 2016

Ada dua jenis film berlatar peperangan. Film yang menonjolkan heroisme dan film yang menonjolkan dramatisme. Film No Man's Land termasuk jenis yang ke dua. Berbeda dengan film peperangan pada umumnya, No Man's Land, meskipun berlatar perang Bosnia-Serbia di awal dekade 90-an, tidak menyuguhkan peperangan dengan parade bombardir senjata. Film ini mengisahkan kemanusian, persahabatan, dan nalar yang runtuh karena bencana perang.

Term-nya masih sama seperti film perang kolosal, ada dua kubu yang bertikai, tapi konflik yang ditonjolkan tidaklah rumit. Dalam film ini dikisahkan ada dua desa yang berada di daerah perbatasan Serbia-Bosnia. Satu desa merupakan wilayah Bosnia, sementara satu lagi merupakan wilayah Serbia. Kedua desa bertetangga ini hidup rukun sampai sebelum pecahnya perang.

Masing-masing kubu membuat barikade di perbatasan antara kedua desa. Di antara kedua barikade terdapat lembah tak bertuan yang tidak dikuasai baik oleh kubu Bosnia maupun Serbia. Di tengah lembah tersebut ada sebuah parit perlindungan. Namun baik dari kubu Bosnia maupun Serbia tidak ada yang mampu menguasai parit tersebut. Setiap ada salah satu kubu yang mencoba menguasai lembah, kubu lain akan memberondongnya dengan tank dan senapan mesin.

Pada suatu malam, beberapa milisi Bosnia berencana memasuki parit dan menyerang kubu lawan. Mereka memutuskan tidur di sekitar lembah tak bertuan dan menunggu pagi untuk menyerang. Ketika matahari naik belum seberapa, mereka dibombardir milisi Serbia. Mereka disergap. Hanya ada satu milisi Bosnia yang tersisa, Ciki. Ia bersembunyi di parit tanah tak bertuan menunggu bantuan datang.

Bantuan tak kunjung datang, kini Ciki justru berada dalam masalah besar. Dua orang tentara Serbia melakukan patroli di parit. Mereka memeriksa mayat-tentara tentara Bosnia yang tergeletak. Tidak hanya itu, mereka memasang ranjau di bawah badan mayat salah satu mayat tentara Bosnia.

Selang beberapa waktu, Ciki ketahuan. Ia mencoba melawan. Beruntung ia berhasil membunuh satu tentara Serbia dan menawan seorang lagi, yaitu tentara amatir bernama Nino. Dari penawanan ini kisah pelik Ciki dan Nino dimulai.



Ciki mendapati salah seorang kawannya tergeletak. Ia adalah Cera. Sambil membopong senjata Ciki memeriksa tubuh Cera. Ternyata Cera masih hidup. Ia siuman. Celakanya, di bawah tubuh Cera ditanam ranjau. Jika Cera berdiri, maka ranjau tersebut akan meledak. Ciki meminta tawanannya, Nino, untuk mengatasi masalah ini, karena Nino dan kawannya lah yang memasang ranjau tersebut. Sial! Nino prajurit amatir, ia pun tak tahu caranya menjinakkan ranjau itu.

Ciki (Bosnia), Nino (Serbia), dan Cera (Bosnia) terjebak di parit dengan ranjau aktif. Drama dan kisah haru yang menggugah rasa kemanusiaan dimulai di sini. Ciki dan Nino silih berganti berebut senjata dan saling menawan. Saling baku hantam dan sesekali terlibat perang urat syaraf. Sementara Cera cuma bisa terlentang mendengar celotehan kedua orang itu sambil sesekali ikut menginterupsi.

Salah satu adegan yang membuat muka saya mengernyit sekaligus tersenyum kecut adalah ketika Ciki mengancam membunuh Nino tatkala Nino mengatakan Bosnia adalah pihak yang memulai perang. Ciki melakukan berbagai intimidasi hanya demi pengakuan itu. Percek-cokan yang kira-kira mirip dua anak SD kala berebut mainan.

"Apa kau bilang? Bosnia yang memulai perang? Apa kau tak lihat pemerkosaan, pembunuhan, yang orang-orangmu lakukan?" kata Ciki. Ciki terus menekan Nino untuk mengatakan Serbia yang memulai perang. Ketika Nino bertanya mengapa, Ciki mengeram, "Karena saya punya pistol dan Kamu tidak."

Ketika Ciki lengah, Nino ganti memegang kendali. Ia merampas senjata dan menodongkan ke arah Ciki. Ia kemudian berbalik melakukan hal seperti yang Ciki lakukan kepadanya. Menodongkan senjata dan menyuruh Ciki mengakui Bosnia yang memulai perang.



Sama seperti Ciki, Nino juga melihat bagaimana orang-orangnya dibunuh. Dua orang bertetangga desa ini menganggap perang adalah satu-satunya hal paling rasional untuk dilakukan agar pembunuhan, pemerkosaan, dan penyerangan terhadap desanya berhenti. Dua orang sipil kini menjadi maniak dan hilang nalar karena terlibat perang.

Konflik No Man's Land bukan soal pertempuran yang disajikan dengan gagah, melainkan potret nyata orang-orang pinggiran yang, meskipun terlibat perang, tapi juga sekaligus menjadi korban perang itu sendiri. Natural, konyol, menguras emosi, dan kadang komikal.

Saat terlihat tak ada harapan, sekonyong-konyong Ciki punya ide. Sambil menodongkan senjata ke arah Nino, ia dan Nino naik ke tepi parit, telanjang dada dan berjoget agar mendapat kiriman medis dan penjinak ranjau. Para tentara dari kedua kubu yang melihat dari kejauhan tak bisa mengidentifikasi apa yang dua orang ini lakukan. Hingga akhirnya seorang sersan pasukan Perdamaian PBB, Marchand, melihat kejadian ini. Ia meminta kedua kubu gencatan senjata. Kemudian ia bersama timnya turun ke parit melihat apa gerangan yang terjadi.



Kejadian ini tercium oleh beberapa jurnalis yang mengikutinya di belakang. Marchand melanggar rantai komando dengan mengijinkan jurnalis meliput kejadian itu. Pemberitaan tentang tentara Bosnia yang terjebak ranjau pun beredar luas.



Sejak itu, muncullah fragmen-fragmen lain. Marchand yang tulus ingin membuat damai dua desa berkonflik, para jurnalis pencari sensasi, dan para petinggi pasukan Perdamaian PBB yang selalu berusaha menutupi kematian demi kematian warga sipil yang berperang karena tak mau disalahkan.

Pada akhirnya, kemanusian kalah. Pertikaian baru berhenti setelah datang kematian, ranjau tak bisa jinak sampai meledak sendirinya, pasukan penjaga perdamaian cuma menjaga tak mampu menuntaskan konflik bahkan hanya sekadar konflik di antara dua orang, dan para jurnalis cuma butuh dapat berita. Pihak-pihak yang mengurusi kepentingan masing-masing di kasus ranjau parit bagaikan miniatur konflik kepentingan dalam konflik fisik skala lebih besar. Dari perang antara dua negara, dua desa, hingga perkelahian dua warga sipil pun dihiasi intrik dan kepentingan berbagai pihak.

No Man's Land, film tentang perang dan kemanusiaan, bukan perang dan maskulinitas. Segera setelah menontonnya, film peraih Oscar 2001 kategori film berbahasa asing terbaik ini, masuk daftar 10 besar film tema perang terbaik yang pernah saya tonton.


Watch the trailer first.

You Might Also Like

0 komentar