Bandung dan Sehari Menikmati Wisata Urban

Minggu, Februari 07, 2016

Sebagai seorang job seeker akhir-akhir ini saya disibukkan mengikuti tes pekerjaan di beberapa kota. Minggu lalu saya berkelana ke Bandung. Selama sehari saya mengikuti tes rekruitmen salah satu perusahaan manufaktur dan akhirnya gagal. Karena sudah jauh-jauh naik kereta dari Semarang ke Bandung, maka tidak afdol rasanya kalau saya langsung pulang begitu saja. Saya putuskan tambah waktu satu hari lagi di Bandung, untuk mengunjungi teman dan jalan-jalan. Kebetulan tempat kos teman yang sudah bekerja Bandung siap menampung.


[1]

Senin Pagi tanggal 1 Februari 2016 kereta Harina yang saya tumpangi tiba di Bandung, tepatnya pukul 05.00. Karena ingin hemat saya memutuskan ke Polban, tempat tes hari itu, menggunakan angkutan kota (angkot). Di pintu utara Stasiun Bandung, di jalan Kawung angkot sudah banyak berseliweran. Dengan modal informasi dari Kaskus dan hasil bertanya dengan petugas musholla stasiun, saya menyegat angkot dengan tujuan yang saya maksud. Dengan pengalaman pertama naik angkot di Bandung itu, pada waktu berikutnya saya selalu bepergian menggunakan angkot ketika mengunjungi beberapa tempat.

Bandung, saya kira, ada di urutas teratas soal ketersediaan angkutan kota (angkot). Ketersediaan angkot menjadikan Bandung sebagai kota yang cukup ramah bagi pengguna angkutan umum. Angkot sepertinya sudah menjadi salah satu ikon Bandung. Banyak jalur, mobil masih cukup bagus, dan tidak pernah melebihi kapasitas penumpang. Pas! Setidaknya saya merasakan hal itu selagi mondar-mandir di Bandung bagian utara (koreksi: sebelumnya saya menulis Bandung bagian selatan)

Tetapi walaupun berbagai tempat yang saya kunjungi mudah dijangkau dengan angkot, bagi orang luar Bandung seperti saya perlu kejelian dan informasi yang tepat untuk menentukan angkot mana yang harus ditumpangi. Apalagi kalau tempat tujuan tidak straight, harus oper dari satu angkot ke angkot yang lain. 

Begitu banyak angkot di Kota Bandung dengan tujuan dan warna cat mobil yang berbeda-beda. Angkot dengan warna yang sama pun belum tentu satu tujuan, oleh karenanya ada kombinasi warna di bagian bawah bodi angkot yang menjadi pembeda. Di titik-titik transit seperti di Jalan Kebon Kawung, dalam lima menit bisa ada belasan angkot yang lewat dengan warna yang beda-beda, pun kencang-kencang sehingga harus jeli. Bagi orang yang sudah tinggal lama di Bandung tapi jarang naik angkot pun bisa jadi kesulitan untuk memilih angkot. Setidaknya teman-teman saya yang tinggal di Bandung mengamini hal itu. 

[2]

Bandung punya wisata kota yang lumayan menarik untuk dikunjungi. Di hari ke dua di Bandung, saya memutuskan untuk pergi keluyuran ke beberapa tempat di sekitar alun-alun kota. Dari Jalan Asia-Afrika, Braga, Banceuy, Alun-alun, dan yang terakhir ke Dalem Kaum. Kesemua obyek di tempat tersebut dapat dijangkau dengan jalan kaki. Sebelumnya saya mencari tahu informasi tempat-tempat tersebut lebih dulu, dari urutan yang harus didatangi lebih dulu, jalur angkot yang tersedia, dan estimasi waktu.

Area Asia Afrika dan secara umum wilayah di Bandung bagian utara (koreksi: sebelumnya saya menulis Bandung bagian selatan) adalah tempat tinggal para warga kulit putih saat masa kolonial, sehingga banyak bangunan-bangunan tua peniggalan Belanda yang masih kokoh berdiri, termasuk beberapa yang saya kunjungi. Berikut beberapa tempat yang saya abadikan dengan kamera.

1. Jalan Asia Afrika


Di trotoar sepanjang jalan Asia Afrika terdapat grafir nama-nama negara peserta Konferensi Asia Afrika yang digoreskan di bulatan-bulatan yang berjajar rapi. Ada pula bangku dan tiang lampu bergaya klasik.

2. Hotel Savoy Homann


Berada di Jalan Asia Afrika no. 12, hotel Savoy Homann telah berdiri sejak 1939. Hotel ini juga menampung tamu-tamu KAA 1955. Berdasarkan informasi yang saya dapat dari sebuah kliping di Museum KAA, hotel ini menjadi titik awal parade Historical Walk, yaitu berjalannya para kepala negara KAA bersama-sama ke Gedung Merdeka.

3. Gedung Merdeka



Berjarak sekitar 50 meter dari Savoy Homann, Gedung Merdeka ini berhimpit dengan Museum Konferensi Asia Afrika. Walaupun secara administrasi Gedung Merdeka dikelola Pemda dan Museum KAA dikelola Kementrian Luar Negeri, kalau masuk ke Gedung Merdeka pasti akan dibimbing oleh petugas untuk sekaligus memasuki Museum KAA.

4. Jalan Sukarno


Setelah keluar dari Museum KAA, saya disambut Jalan Sukarno. Jalan Sukarno ini dulu namanya Jalan Cikapundung Timur, baru pada 10 November 2015 diubah namanya menjadi Jalan Sukarno. Jalan Sukarno cukup ramai dengan para pengasong. Di jalan yang panjangnya sekitar 100 meter ini, di samping kanan dan kirinya terdapat bulatan-bulatan dan pilar-pilar yang tersusun rapi.

5. Cikapundung Riverspot


Tepat sebelum persimpangan Jalan Sukarno dan Jalan Braga, terdapat Cikapundung Riverspot. Di sini terdapat kolam besar lengkap dengan air mancur dan bangku-bangku yang berjajar di sampingnya. Fasilitas toilet juga sudah disediakan di taman asri ini.


6. Bekas Penjara Banceuy


Penjara Banceuy atau biasa disebut Penjara Sukarno, yang ditutup 20 tahun lalu ini, terletak di area pertokoan Banceuy. Tempat ini dapat diakses dengan 10 menit berjalan kaki dari Cikapundung. Walaupun masih cukup terawat, Penjara Banceuy tidak begitu ramai pengunjung. Penjara kecil ini barangkali tidak cukup populer bagi para wisatawan, pun hanya dikelola RT setempat. Untuk masuk ke tempat ini pun harus ijin ketua RT setempat.

7. Masjid Al-Imtizaj di Jalan Banceuy No. 8


Al-Imtizaj secara harfiah artinya "pembauran". Masjid ini boleh jadi adalah pembauran Tionghoa dan Islam. Secara bentuk bangunan ini mirip dengan bangunan Tionghoa, tapi digunakan sebagai tempat ibadah umat Islam. Di antara semua tempat yang saya kunjungi, mungkin Al-Imtizaj adalah tempat wisata yang bukan tempat wisata, melainkan tempat ibadah yang digunakan sebagaimana mestinya. Jadi di Al-Imtizaj tidak begitu ramai pengunjung. Walaupun begitu, saya cukup senang bisa menemukan masjid seperti ini dan beribadah di sana.

8. Info Grafik KAA di Jalan Asia Afrika


Selepas menyusuri Banceuy saya kembali ke Jalan Asia Afrika, kemudian menuju alun-alun kota yang letaknya ada di depan masjid raya.

9. Alun-alun Kota dan Masjid Raya Bandung


Alun-alun kota bersebelahan dengan masjid raya. Bisa dikatakan alun-alun adalah halaman masjid raya.


Alun-alun Kota Bandung ini banyak menyedot pengunjung karena terdapat rumput sintetis yang sangat luas dan taman bunga. Banyak pengunjung yang bermain bola atau sekadar duduk-duduk di taman atau di atas rumput sintetis.


10. Jalan Dalem Kaum



Jalan Dalem Kaum terletak di sebelah kanan Masjid Agung. Kalau boleh dibilang Bandung cukup ramah bagi wisatawan pejalan kaki lantaran punya banyak jalan atau boulevard semacam Jalan Dalem Kaum ini. Beberapa tahun belakangan memang Pemkot Bandung banyak membangun tempat untuk memecah keramaian. Kita tahu jalan semacam ini yang populer lebih dulu adalah Braga dan Dago. Di Dalem Kaum, selain berjajar berbagai pertokoan, terdapat pula para penjual makanan, mainan, dan berbagai aksesoris. Di Dalem Kaum saya sempat mencicipi makanan dari ketan yang dibakar dengan isian srundeng dan saus tempe, rasanya nikmat sekali.

[3]

Bandung sudah diguyur hujan sejak Senin malam. Meskipun hujan sudah mulai reda sejak pukul 09.00, saat menyusuri Jalan Asia Afrika rintik hujan masih terasa membasahi jaket. Saya mencari jalan ke Gedung Merdeka. Selepas mendapati pintu masuk, saya melihat para siswa/ siswi sekolah duduk lesehan mendengarkan pengarahan petugas. 

Masih tak yakin dengan pintu masuk tersebut saya pun keluar. Pada dua orang bapak dan ibu yang berjalan di depan gedung saya bertanya. "Pak Gedung Merdeka benar yang ini ya?" tanya saya. "Betul mas, di sini," jawab bapak itu.

Saya pun kembali masuk ke dalam. Saya tak mendapati meja resepsionis atau petugas tiket yang menarik retribusi. "Pak, bayar retribusinya di mana ya?" tanya saya pada salah seorang petugas keamanan yang duduk di sebelah kiri pintu masuk bagian dalam. "Di sini gratis, Mas," jawabnya sambil tersenyum. Saya pun mulai duduk berbaur dengan anak-anak SMA dan SD yang sedang melakukan study tour.


Bersama anak sekolah mendengarkan pengarahan petugas museum

"Kami beri waktu lima menit untuk melihat-lihat museum, boleh foto-foto sebelum nanti kita menyaksikan film yaa.. Silakan!" kata petugas mengarahkan para pengunjung. Saya pun melihat beberapa foto dan kliping yang ditempel di dinding, mengorek-ngorek informasi yang ada. Tidak ada yang beda dari museum pada umumnya. 

Bebarapa tokoh yang menjadi bagian KAA 1955


Kliping beberapa koran yang memuat pemberitaan KAA 1955

Langkah saya terhenti di sebuah kaca mika yang bertuliskan "Dasa Sila Bandung". Dasa Sila Bandung adalah salah satu hasil penting KAA 1955. Isinya seputar komitmen negara-negara Asia Afrika untuk mendukung kedaulatan setiap bangsa. Saya tersenyum kecut membaca poin demi poin Dasa Sila Bandung. Saat ini diskriminasi dan intervensi suatu bangsa terhadap bangsa lainnya atau suatu suku terhadap suku lainnya masih terjadi di berbagai belahan negara penandatangan Dasa Sila Bandung, bahkan di tempat traktat itu sendiri dibuat.


Dasa Sila Bandung versi Bahasa Indonesia

Waktu lima menit telah usai, kami diarahkan berjalan menuju hall tempat KAA berlangsung. Bangunan hall ini, juga keseluruhan furniture yang ada di dalamnya masih asli. Setelah duduk rapi, sekitar dua puluh menit kami mendengar ceramah Pak Kudrat, petugas Kementrian Luar Negeri yang biasa memberikan pengarahan bagi pengunjung museum. 


Hall KAA

Ceramah Pak Kudrat seputar keberhasilan Indonesia pada masa Sukarno menjadi negara yang secara getol menolak penjajahan dan mendorong politik bebas aktif. Agaknya Pak Kudrat menyesuaikan dengan audiens yang kebanyakan adalah pelajar, jadi yang disampaikannya amat text book. Mirip pelajaran sejarah di sekolah. Padahal politik Indonesia pada masa Sukarno tidak bebas aktif secara absolut, melainkan kadang condong ke kiri. Indonesia pun dicatat sejarah pernah terlibat konfrontasi dengan Malaysia.

Sepanjang ceramahnya, suara Pak Kudrat terdengar begitu lantang. Saat pengeras suara mati pun bicaranya masih terdengar lantang. Ia juga menceritakan bagaimana Sukarno pada waktu itu berpidato selama empat puluh lima menit dan mendapatkan applouse selama tujuh menit. Pak Kudrat ini benar-benar mengagumi Sukarno. Ceramah Pak Kudrat disambung dengan pemutaran film yang diproduksi tahun 2005 ketika KAA diperingati untuk yang ke-50 kali.

Film itu begitu bagusnya. Diawali dengan profil penyiar RRI saat KAA 1955 dihelat, lalu berisi seputar pandangan berbagai tokoh-tokoh di belakang layar KAA 1955 hingga pandangan tokoh-tokoh dunia mengenai KAA 1955 yang memiliki arti penting bagi negara-negara Asia Afrika dan bahkan seluruh dunia. Salah satu tokoh pada film tersebut, yaitu salah satu delegasi negara Arab --saya lupa dari negara mana tepatnya-- mengatakan hal yang menarik, bahwa pada era perang dingin dunia berada pada ancaman perang nuklir dan negara-negara miskin yang tidak ada sangkut pautnya dengan kedua belah blok yang bertikai adalah pihak yang akan paling menderita jika perang terus berkelanjutan. Oleh karenanya KAA adalah inisiatif yang bagus untuk membuat pergerakan, suatu itikad untuk mengajak berdamai. Pada bagian akhir, film ini memuat testimoni anak-anak dari berbagai negeri soal konflik, perang, dan penindasan dalam pandangan mereka.

Film usai, saya menyempatkan berbincang dengan Pak Kudrat. Ada satu cerita menarik yang ia sampaikan. "Dulu pernah ada turis Belanda datang kemari Mas, waktu itu dia bilang 'kalau tidak dijajah Belanda, Indonesia tidak mungkin bisa membuat gedung sebagus ini,' katanya. Saya bilang ke dia, 'Walaupun Belanda membuat seribu gedung yang seperti ini, itu tidak akan cukup mengganti derita yang bangsa ini tanggung selama 350 tahun penjajahan yang dilakukan negara Anda,'" kata Pak Kudrat.

Pak Kudrat dan saya

Begitu usai pembicaraan, saya meninggalkan Pak Kudrat dengan menyeringai ke arahnya. Saya berjalan keluar. Kali ini dengan simpul senyum di wajah. Cerita Pak Kudrat masih terngiang di kepala. Senang rasanya berkenalan dengan orang seperti Pak Kudrat.

You Might Also Like

0 komentar

Daftar Bacaan

Like us on Facebook