Teladan dan Ajakan Berbagi

Sabtu, Januari 30, 2016

"Bila kaum muda yang belajar di sekolah menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali." - Tan Malaka.

Praktik pertanian sebelum 1960-an di Jawa - id.wikipedia.org

Pandji Pragiwaksono dalam pertunjukan stand up comedy-nya yang bertajuk Merdeka Dalam Bercanda mengkomparasikan generasi tahun 45 yang punya presentase orang melek huruf hanya 4,9% dengan generasi sekarang yang punya presentase orang melek huruf sebesar 90%. Orang-orang Indonesia generasi 45, kata dia, mampu melakukan hal besar, yakni membuat Indonesia merdeka meskipun hanya dengan segelintir intelektual. Sementara itu generasi sekarang, katanya, yang punya banyak intelektual tidak banyak membuat perubahan bagi bangsanya.

Menurut Pandji yang menjadi pembeda adalah orang pintar pada jaman dulu mau membagi ilmunya, orang sekarang tidak. "Kepintaran kita, tidak akan banyak berarti sampai kita mau membaginya," imbuhnya.

Kita bisa berdebat soal ukuran yang digunakan untuk menilik karya atau perubahan yang menjadi pembanding kedua generasi yang disebutkan Pandji. Tapi sampai batas-batas tertentu saya sependapat dengan opini Pandji di atas. Barangkali pertumbuhan ekonomi Indonesia berkembang pesat, Indonesia telah mulai meninggalkan status negara berkembang menjadi negara industri, jumlah sekolah juga sudah banyak, dsb. Tetapi dengan sumberdaya manusia yang jauh lebih melimpah dari generasi era revolusi nasional, seharusnya bangsa ini bisa berkali-kali jauh lebih baik dari sekarang.

Mungkin tesis di atas terdengar klise, tetapi bolehlah saya menulis ulang ihwal yang disampaikan Sejarawan Bonnie Triyana mengenai pandangan Romo Mangun soal anomali para intelektual Indonesia dari kacamatanya. Romo Mangun adalah tokoh yang lahir dan tumbuh di saat kolonialisasi menua dan ikut dalam pergumulannya. Menurut Bonnie, Romo Mangun adalah tokoh yang memandang sejarah dengan tidak hitam putih. Belanda tidak selalu jahat, pribumi tidak selalu baik. Orang kulit putih tidak selalu lebih jahat dari orang kulit cokelat.

Pada era pergerakan kaum intelektual dan para priyayi terbagi menjadi dua kelas: pegawai pemerintah dan aktivis pergerakan. Satu kelompok memilih hidup normal, menjadi pegawai pemerintahan kolonial dan hidup nyaman, sementara kelompok lain tidak mau bekerja di pemerintahan dan memilih berkelana di masyarakat untuk membuat gerakan. Sukarno dan Hatta, adalah dua contoh orang yang tidak mau hidup normal. Sukarno adalah lulusan ITB, sempat ditawari jadi pegawai dinas perindustrian pemerintah kolonial, tapi menolak. Hatta yang juga orang terpelajar, juga memilih tidak bekerja di pemerintahan.

Para tokoh seperti Sukarno dan Hatta telah berhasil membikin revolusi nasional. Namun, pasca revolusi nasional dan kemerdekaan tercipta, negeri ini gagal pada fase revolusi sosial, tepatnya setelah rezim Orde Baru berdiri. Pada masa Orde Baru, partisipasi masyarakat dalam kehidupan bernegara dibatasi. Tidak setiap orang bisa ikut berkontribusi dengan menyuarakan apa yang ada dalam pikirannya, dalam berkarya atau bekerja. Maka muncullah konglomerasi atau sejenisnya sebagai salah satu imbasnya.

Romo Mangun melihat, pada era orde baru, para priyayi dan kaum intelektual yang pada masa pra-kemerdekaan memilih 'hidup normal' dengan bernaung pada pemerintah kolonial, kini justru menjadi elit di pemerintahan. Para kontra-revolusi justru yang mengambil alih pemerintahan. Jadi secara tersirat, Romo Mangun barangkali ingin mengatakan, jikalau orang-orang yang duduk di pemerintahan adalah orang-orang mau berbagi dan berbuat untuk orang lain, seperti halnya Sukarno dan Hatta, mungkin negeri ini bakal lebih baik.

Pandji adalah seorang anak muda yang punya kepatutan untuk berbicara soal perlunya berbagi, sama halnya dengan Romo Mangun. Pandji dikenal sebagai pendiri dan pengurus yayasan yang membantu anak-anak penderita kanker, selain juga beberapa kali terlibat beberapa proyek sosial, dari membuat proyek sanitasi di daerah terpencil sampai yang tahun lalu fenomenal yaitu penggalangan donasi pembangunan masjid Tolikara. Sementara itu, Romo Mangun arsitek dan sastrawan yang dikenal humanis ini dikenang sejarah, salah satunya karena membantu para korban penggusuran proyek waduk Kedung Ombo di masa rezim Orba. Ia juga membantu masyarakat Kali Code di Yogyakarta pada tahun 80-an. Ia membuat pemukiman kumuh menjadi tertata rapi, pun menyelenggarakan pendidikan berbasis komunitas ketika hampir semua warga Kali Code tidak ada yang mengenyam pendidikan formal.

Berbagi adalah soal kesadaran kolektif karena sebagai obyek hidup manusia selalu berkembang, selalu menemui hambatan, dan sebagai makhluk sosial setiap manusia akan terus bergantung pada yang lain. Pendek kata, manusia perlu tolong-menolong. Tidak semua orang bisa jadi seperti Sukarno, Hatta, Romo Mangun, atau Munir, yang mengorbankan banyak hal untuk menolong orang lain. Jumlah orang baik dalam sebuah koloni masyarakat bisa jadi banyak, tapi yang bisa selevel tokoh-tokoh itu tentu terbatas. Oleh karenanya barangkali daftar pahlawan nasional hanya sampai 169 dan penghargaan semacam Yap Thiam Hien cuma diberikan setahun sekali untuk seorang saja.

Tapi atas nama kesadaran kolektif, tokoh-tokoh itu ada dan apa yang mereka perbuat dicatat dan disebarluaskan agar jadi pelajaran. Kelak jika generasi selanjutnya tidak bisa menjadi duplikasi para tokoh-tokoh itu, setidaknya bisa terilhami untuk berbuat kebaikan. Itu juga kenapa di tulisan ini saya ambil contoh Pandji yang seharusnya tidak cukup jauh untuk diteladani kerja-kerja sosialnya.

Walaupun tidak mahir-mahir amat, Anda dan saya bisa kuliah dengan dibiayai uang APBN, bisa sekolah, dan bisa punya ilmu, sementara banyak kawan-kawan lain tidak. Saya kira, Anda dan saya punya banyak contoh kawan yang mau korban waktu, benda, pikiran, dan tenaga untuk berbagi. Tetapi contoh yang tidak melakukan itu barangkali juga ada. Tidak menutup kemungkinan kita termasuk yang belum punya kesempatan melakukan kegiatan berbagi. Oleh karenanya selagi berbagi belum menjadi kesadaran kolektif, ajakan untuk berbagi akan terus ada.

You Might Also Like

0 komentar

Daftar Bacaan

Like us on Facebook