CCTV Mina

Jumat, Oktober 02, 2015

Pada acara Indonesia Lawyers Club di TV One 14 Mei 2015, pelatih Persija Jakarta, Rahmad Darmawan, menyesalkan bagaimana perpecahan dalam sepakbola Indonesia telah berimbas ke dalam banyak aspek. Ketika terjadi konflik internal PSSI pada tahun 2012, hingga terpecahnya liga menjadi ISL dan IPL, katanya, pelatih, pemain, dan media ikut terpecah menjadi dua. Yang pro terhadap satu liga dan yang pro terhadap liga yang lainnya.

Rahmad Darmawan tidak berlebihan. Nyatanya masyarakat bola pun terpecah, ada yang pro terhadap ISL ada pula yang pro terhadap IPL. Salah satu indikasinya adalah supporter yang hanya mendukung pengelola liga yang diikuti kesebelasannya saja. Yang lebih parah lagi, dapat dirasakan bagaiamana arus informasi juga mengerucut soal mendukung atau memojokkan salah satu dari dua kubu PSSI yang bertikai.

Tahun-tahun itu adalah salah satu masa paling kelam bagi sepak bola Indonesia. Tidak hanya itu, masyarakat setelahnya sering terpolar menjadi dua kubu ketika ada hajatan atau perkara besar. Saat Pilpres misalnya, saat kenaikan BBM, dan belakangan saat terjadi Tragedi Mina pada pelaksanaan haji tahun ini, sebagian orang sekonyong-konyong melabeli media sesuai pihak mana yang didukung atau disudutkan dalam pemberitaanya.

Jika ada media yang beritanya terkesan memojokkan pemerintah Arab Saudi, maka akan dilabeli pro-syiah. Sementara itu jika ada media yang beritanya cenderung mengungkapkan keterlibatan orang-orang Iran dalam kejadian tersebut, barangkali tidak akan dilabeli pro-syiah. Penulis Asma Nadia, yang menulis sebuah opini berjudul "Karpet Merah Perenggut Nyawa" di rubrik Resonansi Republika pun dianggap memojokkan salah satu pihak padahal dalam tulisannya ia juga menuliskan bahwa lansiran yang ia sampaikan itu sudah dibantah pihak terkait.

Salah satu bukti kunci mengenai kejadian tersebut, yakni video CCTV di lokasi kejadian, belum diedarkan untuk publik. Pihak penyelenggara Haji Arab Saudi mengklaim keamanan yang diterapkan sangat ketat, salah satunya dengan adanya video CCTV di banyak titik. Seperti diungkapkan dalam video yang dirilis AP Archive berikut.


Jika video CCTV diterbitkan, saya yakin, saling tuding dan saling tuduh berhenti. Pasalnya penyebab terjadinya kejadian akan dapat diketahui publik.

Salut buat pengamanan ketat Pemerintah Arab Saudi. Semoga segera setelah penyebab kejadian terungkap, salah satunya dengan bukti valid berupa video CCTV, masyarakat dan media tidak lagi terpecah. Hal ini sekaligus menjaga kredibilitas penyelenggaraan haji bagi negara tersebut.

Nantinya, kejadian semacam ini jika mampu diselesaikan dengan validasi yang baik, akan menjadi preseden bagi kasus-kasus selanjutnya. Yakni, bagaimana otoritas yang paling dekat dan paling mengetahui suatu peristiwa mampu mencegah persebaran informasi yang serampangan dengan mengambil tindakan tegas yang menenangkan dan memberi rasa keadilan bagi semua pihak.

Sama halnya ketika dua tahun lalu FIFA sebagai otoritas paling berwenang melakukan unifikasi PSSI dan liga ketika semua pihak mengklaim paling berhak dan paling punya solusi mengurusi sepakbola Indonesia.

You Might Also Like

1 komentar

Daftar Bacaan

Like us on Facebook