The Performing Monkey

Kamis, Agustus 13, 2015

Waktu itu sore hari tanggal 5 Agustus 2015. Saya benar-benar menganggur. Sebungkus rujak setengah pedas menemani saya. Di tepian alun-alun kota Magelang, sambil menghabiskan rujak, saya duduk santai menunggu waktu maghrib.

Alun-alun kota Magelang tidak begitu luas. Apalagi ada menara besar dan sebuah patung Diponegoro yang membuat lapangan terlihat sempit. Anak-anak yang bermain layang-layang terlihat saling mudah bersenggolan benang. Pengamen yang lalu lalang pun datang silih berganti seperti saling menyusul. Tetapi orang-orang tetap sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Mereka tidak berkumpul massal, sampai akhirnya ada pertunjukan topeng monyet yang membuat banyak orang dari dekat maupun kejauhan memperhatikannya.

photo taken from jakartaanimalaid.com

Pertunjukan topeng monyet yang dipandu oleh dua orang lelaki cungkring itu digelar di bagian utara alun-alun, di sebuah halaman berbeton. Orang-orang mulai mengerubunginya. Kebanyakan adalah anak-anak.

Selesai menggelar pertunjukannya di bagian utara alun-alun mereka berpindah. Kali ini menyebrang ke bagian selatan, tepat di belakang tempat saya duduk.

Saya tidak suka menonton topeng monyet. Sewaktu SD, pertama kali melihat topeng monyet, saya begitu antusias, sampai akhirnya saya melihat bagaimana si pawang memukul-mukul si monyet menggunakan tongkat ketika si monyet tidak melakukan atraksi dengan baik. Hal itu membuat saya enggan menontonnya. Agak-agak ngeri.

Di alun-alun sore itu saya melihat hal yang tak jauh beda. Si monyet mengawali aksinya--yang mengagetkan saya--dengan meluncur di atas skuter lalu sempat tergelincir. Kemudian ia diarahkan menaiki motor kecil, lalu tergelincir lagi. Setelah itu si monyet beraksi lagi, membawa gitar, menggigit topeng, dan berdiri-nungging di atas sajadah.

Semuanya terlihat berjalan tanpa ada masalah. Padahal jika dilihat dengan seksama si kera seperti tak tahu apa yang ia lakukan. Lehernya diikat dengan tali panjang. Jika si kera tak mau jalan lehernya ditarik-tarik. Jika gerakannya dianggap tak sesuai lehernya ditarik-tarik. Bagi saya pertunjukan seperti ini amat tidak menarik, bahkan cenderung eksploitatif terhadap si kera.

Di Jakarta ada sebuah lembaga yang sangat bernas mendorong pemerintah turun tangan menghentikan eksploitasi terhadap hewan, salah satunya melarang peredaran pertunjukan topeng monyet, yaitu Jakarta Animal Aid Network (JAAN). Mereka melakukan berbagai kampanye dan melakukan koordinasi dengan pemerintah. Usaha mereka tak sia-sia. Sejak era Jokowi Pemda Jakarta sudah melarang topeng monyet.

Dalam sebuah video dokumenter JAAN menunjukkan bagaimana seekor kera mengalami penyiksaan sebelum digunakan untuk melakukan pertunjukan. Lepas dari induknya, kera-kera itu diikat tangannya dan lehernya digantung agar mampu berdiri tegak dengan dua kaki. Lalu mereka dilatih melakukan atraksi-atraksi dasar. Proses itu memakan waktu hingga enam bulan.

Video dokumenter "The Topeng Monyet" Jakarta Animal Aid Network

Kera yang diggunakan untuk topeng monyet rata-rata berusia muda. Kera muda dipilih karena cenderung lebih mudah diatur dan tidak buas. Mereka hanya akan digunakan selagi belum menua dan menjadi agresif. Setelah tidak digunakan lagi kera-kera itu dijual untuk dijadikan menu di restoran-restoran tertentu. Ini adalah bentuk kejahatan terhadap binatang.

Topeng monyet adalah persoalan yang menyangkut dua hal. Pertama adalah soal melindungi binatang dari tindakan penyiksaan dan yang ke dua adalah persoalan hajat hidup pelaku bisnis topeng monyet, dari si pawang, pelatih, distributornya, hingga restoran penadah kera purna tugas.

Jika pertunjukan topeng monyet nantinya dilarang di berbagai tempat yang lain selain Jakarta, semoga orang-orang yang menggantungkan nasib dari bisnis ini diberi pekerjaan pengganti yang lebih baik. Tetapi mula-mula kita harus sepakat, bisnis topeng monyet yang dalam prosesnya banyak menyiksa si kera adalah perbuatan jahat.

You Might Also Like

0 komentar

Daftar Bacaan

Like us on Facebook