Mencari Buku-buku

Selasa, Agustus 25, 2015

Dua hari lalu saya membeli buku di Gramedia. Niat awal saya adalah untuk membeli buku "Marmut Merah Jambu" karya Raditya Dika dan "Bapak Republik yang Dilupakan" karya redaksi Tempo.

Saya membeli dua buku yang bergenre dan bertema berbeda tersebut bukan tanpa alasan. "Marmut Merah Jambu" seperti yang kita ketahui adalah buku cerita komedi kehidupan Raditya Dika, sementara "Bapak Republik yang Dilupakan" adalah buku sejarah yang berisi kumpulan reportase wartawan Tempo mengenai Tan Malaka.

Saya ingin memberikan kedua buku tersebut kepada adik saya yang baru saja masuk SMA. Ia terlihat mulai mau membaca buku saat saya membawa buku "Koala Kumal" ke rumah. Buku tersebut sebenarnya bukan kepunyaan saya. Saya meminjamnya dari seorang teman. "Koala Kumal" adalah buku Raditya Dika yang saya baca pertama kali setelah menimbang ia disebut-sebut sebagai salah satu story teller terbaik di kalangan muda.

Adik saya yang biasanya hanya tertarik dengan film aksi science fiction dan kartun Jepang itu selesai membaca "Koala Kumal" kurang dari dua hari. Lantas, mumpung minat bacanya sedang baik, saya memberinya buku "Marmut Merah Jambu" beserta sebuah buku yang beda genre agar minat bacanya meluas. Rencananya, kalau perlu saya akan rekomendasikan untuknya buku-buku agama. Tapi toh dia sudah pasti akan banyak bersinggungan dengan buku-buku agama karena ikut ekstrakurikuler Rohis di sekolahnya. Akhirnya saya memilih buku mengenai Tan Malaka yang bagi saya cukup menarik dan mencerahkan.

Sialnya, siang itu di toko buku Gramedia Slamet Riyadi Solo dan bahkan di Togamas Slamet Riyadi Solo saya hanya mendapatkan buku "Marmut Merah Jambu". Buku "Bapak Republik yang Dilupakan" saya tak mendapatkannya. Akhirnya saya memilih membeli buku "Peran Besar Bung Kecil" yang tidak lain adalah kumpulan reportase wartawan Tempo mengenai Sutan Syahrir. Buku tersebut juga berkaitan dengan buku "Bapak Republik yang Dilupakan" karena tergabung dalam Seri Tempo Bapak Bangsa.

Buku Peran Besar Bung Kecil dan Marmut Merah Jambu

Syahrir dan Tan Malaka adalah tokoh yang sama-sama terlibat dalam haru biru pasca proklamasi. Syahrir memilih jalur moderat melalui diplomasi, sementara Tan memilih jalur radikal dengan menjadi oposisi Hatta-Syahrir-Sukarno dengan menuntut kemerdekaan seratus persen alih-alih berdiplomasi. Tetapi cerita mengenai keduanya sangat menarik karena pada akhirnya sama-sama tersisih dari kancah politik walaupun punya jasa yang besar. Jadi buku "Peran Besar Bung Kecil" sudah sangat baik untuk diberikan kepad adik saya, karena memberi wawasan baru: cerita tokoh revolusioner yang pantas diingat namun dilupakan.

Di Gramedia, pada bagian best seller saya menemui begitu banyak buku-buku bagus yang menarik. Buku tentang peristiwa '65, tentang Legiun Mangkunegaran, dan lain sebagainya. Sialnya saya tak punya banyak uang untuk membeli itu semua. Saya cukupkan membeli dua buku. Pajak buku masih tinggi, pajak royalti juga masih tinggi. Harga buku turun pun masih belum terwujud, padahal di sisi lain pajak hiburan malam sudah diturunkan.

Karanganyar, 25 Agustus 2015

You Might Also Like

0 komentar

Daftar Bacaan

Like us on Facebook