Berberita dalam Dakwah

Selasa, Agustus 04, 2015

Waktu itu hampir pukul lima pagi. Bapak saya membangunkan saya yang tertidur lelap di kamar adik saya. Dengan rasa nyeri di tulang belakang karena tidur telentang tanpa bantal semalaman, saya bergegas pergi ke masjid menyusul bapak yang berangkat lebih dulu.

Hari itu hari ke-7 lebaran. Jamaah masih konsisten. Ada satu shaff terisi penuh dengan jamaah yang itu itu saja dari dulu. Masjid di kampung kami biasanya agak ramai ketika maghrib dan isya', tetapi di waktu-waktu sholat yang lain biasanya hanya ada 10-15 orang yang hampir selalu sama setiap harinya. 10-15 orang itulah yang saya temui subuh itu.

Waktu itu saya terlambat ikut sholat subuh dan hanya menjadi makmum masbuk. Selesai sholat saya ikut mendengarkan kultum dari seorang jamaah yang tak lain adalah ketua takmir masjid. Kali ini temanya agak situasional. Ia tidak membahas kitab-kitab seperti Bulughul Maram atau Riyadhus Shalihin, atau doa-doa harian seperti yang biasa ia kultumkan, melainkan membahas isu Tolikara.

Awalnya ia membahas kronologis kejadian peristiwa Tolikara menurut versi yang ia tahu. Selanjutnya ia menceritakan dua hal mengenai gesekan agama di Papua. Pertama, ia menceritakan seorang pekerja asal Jawa yang bekerja di sebuah daerah di Papua. Pekerja tersebut, kata ia, diancam akan dibunuh oleh warga setempat hanya karena ia seorang muslim. Si pekerja tidak jadi dibunuh karena mengaku (berbohong) punya kesaktian yang bisa membuat orang-orang yang punya niatan membunuhnya mati.

Kedua, kali ini agak general. Ia menceritakan bahwa di Papua sedang ada gerakan untuk menjadikan Papua sebagai daerah istimewa kristen, layaknya Aceh tapi versi kristen. Ia kemudian menjabarkan, di Aceh beberapa hukum islam diadopsi menjadi peraturan umum, seperti kewajiban berhijab yang diberlakukan kepada seluruh wanita Aceh apapun latar belakang agamanya. Di Papua, lanjut ia, kira-kira akan seperti itu tetapi versi kristen.

Di akhir kultum ia menyimpulkan bahwa jika umat islam menjadi mayoritas maka semua kelompok agama terlindungi, namun jika umat islam menjadi minoritas maka sering mengalami diskriminasi. "Seperti di kampung kita, umat Nasrani di kampung kita tidak pernah kita ganggu," katanya.

Ia juga menambahkan perkataan sebelum mengakhiri kultum bahwa demikianlah informasi-informasi yang ia dapat mengenai kondisi di Papua. Ia menunjukkan sebuah isyarat bahwa barangkali ada informasi lain yang tidak seperti informasi yang ia terima dan mungkin bertentangan.

Saya telah membaca laporan dari Aghnia Adzkia dari CNN Indonesia: soal Rumah orang-orang Kristen di Tolikara yang dijadikan tempat mengungsi bagi warga muslim; kisah orang kristen Tolikara yang menghibahkan tanahnya untuk masjid; atau kisah kepala suku setempat (Kristen) yang menyerukan warga untuk menyelamatkan rumah ustadz Ali Mukhtar (ustadz dari Jawa) begitu ia mendengar tentang kerusuhan di Tolikara. Andai bapak ketua takmir banyak membaca referensi berita semacam ini, mungkin ia akan tahu satu kasus saja tidak bisa digeneralisasi untuk menentukan keadaan suatu komunitas atau masyarakat. Inilah mengapa kita perlu adil sejak dalam pikiran.

Bapak ketua takmir tersebut adalah orang yang bagi saya sangat berjasa membumikan dakwah Islam di kampung kami. Jika dibandingkan 15 tahun yang lalu, jamaah masjid sekarang mau lebih sibuk untuk mencari dalil mengenai hal-hal keberagamaan.

Maka tak heran, jika suatu kali di beranda masjid saya menjumpai bapak-bapak yang berdiskusi mengenai boleh tidaknya mengadakan aqiqah setelah 7 hari kelahiran, misalnya. Tak heran pula, kegiatan yasinan dan semacamnya sudah tidak pernah dilakukan di lingkungan masjid sejak belasan tahun lalu karena jamaah menganggap tidak sesuai dengan tuntunan Qur'an dan Sunnah yang mereka pahami.

Bapak ketua takmir tersebut adalah sosok penting yang membawa jamaah merasa bahwa mempelajari ilmu adalah sebuah kemeriahan penting sebelum beramal. Tapi toh, sebagai manusia biasa ia tentu tak luput dari kejumudan.

Sebagai seseorang yang ingin fair dalam mencermati suatu peristiwa saya menolak untuk tidak skeptis atas informasi-informasi yang saya dapat, sebagaimana informasi mengenai Papua dari bapak tersebut. Tentu karena ia bukan seorang jurnalis yang punya data faktual mengenai hal-hal yang ia ceritakan. Ia tak punya catatan dari narasumber, tak punya dokumen, atau semacamnya. Tentu sangat sah bagi saya untuk tidak langsung mempercayai informasi-informasi yang ia ceritakan subuh itu.

Bahkan jika ada seseorang yang menyampaikan pelajaran agama sekalipun, tetapi tidak menunjukkan keilmiahan dalam pelajarannya, bagi saya akan susah untuk menerimanya.

Agama, ilmu alam, ilmu pertanian dan bidang-bidang lainnya, punya ahlinya masing-masing. Jika kita mencari tahu, maka akan kita dapati bahwa para ahli agama punya metode yang sangat teratur dan ketat untuk mempelajari bidangnya. Para ahli hadits punya metode untuk mempelajari hadits, sebagaimana para ahli tafsir juga memilikinya, dan seterusnya. Saya tidak punya pengetahuan mendalam soal agama, tetapi jika anda bertemu dengan kalangan santri bisa diobrolkan bagaimana sebenarnya ilmu agama perlu digali secara ilmiah.

Bapak ketua takmir tersebut adalah orang yang mau berdisiplin mengkaji ilmu agama, ia menimba ilmu pada ustadz-ustadz yang mengajar di pesantren lalu bermurah hati membagikan pelajarannya pada jamaah. Tetapi seperti yang saya katakan tadi, ia bukan jurnalis atau saksi langsung kejadian-kejadian yang ia ceritakan. Jadi mudah-mudahan saya bisa nyaman mengatakan bahwa informasi yang ia terima belum tentu benar.

Agak disayangkan memang, begitu banyak peristiwa-peristiwa sosial di masyarakat yang disisipkan dalam tulisan-tulisan atau pesan-pesan agama namun miskin data. Kalau tidak percaya coba buka kembali status-status di media sosial atau komentar-komentar terkait isu Tolikara bikinan orang yang dalam kesehariannya juga gemar menyebarkan pesan-pesan dakwah. Saya yakin akan dua jenis: yang satu banyak berkomentar seakan tahu betul peristiwanya dan satu lagi terlihat sangat berhati-hati dalam berkomentar.

Kita akan mendapati bagaimana ketinggian ilmu seseorang ditunjukkan dengan sikapnya yang berhati-hati dalam menanggapi suatu peristiwa. Begitulah para ulama.

Sebagaimana ilmu agama, jurnalisme juga punya seperangkat metode. Metode yang membimbing orang-orang dalam membuat karya jurnalistik. Jika seseorang pengemban dakwah agama juga merasa perlu menanggapi dan menyebarkan isu-isu sosial dimasyarakat sebagai bagian tanggung jawab dakwahnya, seharusnya ia juga berkemauan menggali warta secara disiplin sebagaimana disiplinnya ia dalam menggali ilmu agama.

You Might Also Like

1 komentar

  1. Halooo, Kak! Mau jadi bagian tim jelajah Kalimantan GRATIS dan dapetin MacBook Pro? Ikuti lomba blog "Terios 7 Wonders, Borneo Wild Adventure" di sini http://bit.ly/terios7wonders2015 #Terios7Wonders

    Jangan sampai ketinggalan, ya!

    BalasHapus