Jalan Keluar Persoalan LGBT

Jumat, Juli 03, 2015

Bagai tahi ayam yang di-angetkan lagi, isu LGBT kembali mencuat. Isu yang sebenarnya sudah ada sejak lama kembali menjadi bahan bincang hangat lantaran ada langkah kontitusional Amerika Serikat terkait persoalan LGBT. Mahkamah Agung Amerika Serikat melegalkan pernikahan sesama jenis beberapa hari lalu.

Sebuah aksi demo di Dresden, 15 Desember 2014 dengan membawa bendera rainbow flag - flickr.com/photos/hinkelstone

Para lesbian, gay, bisexual, dan transgender (LGBT) yang menikah mendapat pengakuan secara administratif oleh negara. Konsekuensinya adalah sekarang pasangan homoseksual di Amerika juga mendapat jatah pemenuhan hak-hak sipil pasangan menikah--ada beberapa pelayanan sosial yang hanya diberikan kepada pasangan yang menikah secara resmi di sana. Tetapi perlu dicatat, sebenarnya pasangan homoseksual di Amerika sudah eksis sejak puluhan tahun lalu dalam ikatan kumpul kebo, namun mereka baru menjadi pasangan resmi yang diakui negara pasca putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat tersebut.

Putusan ini sebenarnya tidak merubah hak institusi agama untuk menolak pasangan homoseksual. Gereja-gereja dan institusi agama lain di Amerika Serikat tetap punya kuasa untuk tidak menikahkan pasangan homoseksual. Pendek kata, kebanyakan pasangan homoseksual di Amerika Serikat menjalin hubungan yang tidak sah secara agama namun sekarang sah secara administratif.

Kekhawatiran muncul di beberapa belahan dunia yang lain pasca putusan tersebut. Banyak yang beranggapan legalisasi pernikahan LGBT di Amerika bukan tidak mungkin akan diikuti negara-negara lainnya. Kekhawatiran yang saya rasa agak berlebihan tetapi bisa dimaklumi. Ya karena Amerika adalah kiblat berbagai negara dalam urusan politik, ekonomi, sampai budaya populer. Mental inlander yang asal western dan asal amrik pun ditakutkan muncul.

Secara ilmiah, fenomena LGBT masih diperdebatkan. Ada hasil penelitian ilmiah yang mengatakan orientasi seksual sesama jenis terjadi karena faktor genetis (nature), dan ada pula yang mengatakan hal ini terjadi karena faktor eksternal/ lingkungan (nurture). Ada pula pendapat--boleh dikata gabungan keduanya--yang mengatakan beberapa orang punya bakat homo tapi baru menjadi homo setelah adanya faktor eksternal/ lingkungan. Faktor eksternal ini bisa bermacam-macam, bisa karena efek traumatis pelecehan seksual sodomi, bisa karena trauma dan menjadi tidak berselara dengan lawan jenis karena orang lawan jenis terdekatnya pernah berlaku tidak manusiawi, atau karena sering menonton tayangan bokep yang mempertontonkan adegan intim sesama jenis, dsb.

Sementara itu dalam pandangan Islam, sudah ada gelap di atas terang. Perilaku hubungan intim sesama jenis haram hukumnya. Mayoritas berbagai agama di dunia juga mengharamkan perilaku homoseksual. Bagi saya pernyataan-pernyataan saintifik dari hasil penelitian ilmiah adalah bahan bantu saja, karena penelitian tersebut bisa error bisa juga tidak. Timbangan syariat adalah pijakan utama.

Fenomena LGBT adalah masalah yang perlu dicari jalan keluarnya. Sayangnya kebanyakan orang hanya berhenti mengutarakan vonis saja. Kita sudah tahu, dan bahkan saya rasa para LGBT yang berperilaku homoseksual itu juga sudah tahu bahwa perilakunya menyimpang dari norma agama, tapi banyak yang kesulitan untuk keluar. Kita harus sadar mengutarakan vonis saja belum cukup untuk menanggulangi masalah LGBT. Ibarat kata tak cuma merumuskan hal yang sudah ada dan baku (tahsilul hasil). Diskusi soal LGBT tidak boleh berhenti pada hukum, karena hukumnya sudah jelas, tetapi perlu solusi.

Perlu diingat, seseorang yang memiliki orientasi seksual sesama jenis tidak ada yang ingin punya kondisi demikian. Sebagai manusia normal tentu semua orang ingin dewasa menjadi seorang straight. Pasti setiap orang ingin jadi normal dan tidak ingin jadi homo. Masalahnya adalah sebagian dari mereka tak bisa menghilangkan orientasi seksual tersebut (walapun sebagian malah keenakan dan senang menjadi lesbian/ gay). Mau suka sama lain jenis tapi tidak bisa. Sudah terapi tapi tidak 'sembuh'. Jangankan buat jauh cinta, untuk tertarik saja tak bisa. Ya karena orientasi seksual terjadi di luar kendali alam sadar.

Jika anda yang membaca tulisan ini adalah seorang yang punya orientasi seksual sesama jenis, saya hanya bisa bilang, homoseksual yang dibenci adalah perilakunya. Mungkin anda telah berusaha untuk tidak tertarik dengan sesama jenis tetapi tidak bisa. Jangan marah, tak perlu kesal. Anda tak akan terkena dosa jika tidak melakukan perilaku homoseksual. Artinya, asal anda tidak mengumbar syahwat, tidak berhubungan intim dengan sesama jenis, dan menjaga diri dari kemungkinan jatuh pada perbuatan zina dengan sesama jenis, maka tak terkena dosa. Anggap saja itu semua ujian. Ya begitulah kira-kira hasil saya menimba ilmu mengenai LGBT dari teman saya yang seorang santri.

Jika anda seorang straight tulen nan normal, anda bisa membantu mereka yang punya orientasi seksual sesama jenis dengan menyarankan pergi ke klinik hipnoterapis misalnya. Menurut dokter Adhiarta gay/ lesbian bisa disembuhkan dengan hipnoterapi dengan syarat ia mau disembuhkan. Selain itu, anda bisa memberikan beberapa pelajaran ilmu dien tentang homoseksual dalam tinjauan syariat. Tetapi ingat, homoseksual yang dilarang dan dibenci adalah perilakunya, bukan orangnya. Jadi jika anda bertemu dengannya, orang yang punya orientasi seksual sesama jenis, yang mana ia sudah berusaha untuk 'sembuh' tapi tidak bisa, tak perlu divonis. Karena dosa baru datang jika ia berbuat mesum dengan sesama jenis. Dukunglah ia untuk berlaku normal dan tak melanggar batasan syariat.

Di jagad yang lain, ada santri dan kiyai yang rela bermurah hati memberikan pelajaran agama pada PSK, LGBT, dan semisalnya. Saya tak bisa semurah hati mereka, tapi jika bisa tirulah yang demikian selagi caranya berdakwah tak melanggar batasan syariat.

Tak kalah penting, bagi saya dan mungkin juga anda, yang meyakini orientasi seksual terjadi karena faktor dari luar dan bukan karena faktor genetis maka mari mencegahnya. Hentikan rantai berbagi file film porno berkonten homoseksual, misalnya.

Ah, iya. Ada pula orang yang mengaku berperilaku homoseksual setelah mengalami sodomi waku masa kanak-kanak. Kebanyakan pelaku sodomi pada anak adalah orang dekat korban. Sayangnya banyak orang dewasa berkeluarga kerap menyerahkan begitu saja urusan anak kepada orang lain tanpa pengawasan, seperti urusan memandikan anak dan mengajaknya bermain. KPAI pernah merilis perihal cara hindar dari kekerasan seksual anak. Tidak ada salahnya kita membacanya. Barangkali berguna.

LGBT tak cukup divonis, tapi perlu dibantu agar lurus. Selain sederet hak dasar yang melekat pada diri, mereka juga punya hak dari manusia yang lain. Jika sakit kunjungilah, jika minta nasihat berilah.

Semarang, 3 Juli 2015

You Might Also Like

2 komentar

  1. Salam kenal
    Kunjungan dari arul.my.id

    BalasHapus
  2. LOMBA BLOG

    Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri 1436 H Refiza Souvenir menyelenggarakan blog competition bagi para bloggers. Tuliskan semua hal tentang souvenir Islami dan dapatkan hadiah menarik dari Refiza, pendaftaran telah di perpanjang hingga 18 Agustus 2015. syarat dan ketentuan klik www.refiza.com/blogcompetition2015/

    BalasHapus