Orbituari Sukiyem (1927-2015)

Selasa, Mei 26, 2015


Minggu siang 30 Maret 2014 saya sedang asyik-asyiknya memandu teman-teman saya yang mampir melancong ke Karanganyar. Nuardi, Jati, Fary, Geoda, Indra, dan Riris. Adapun dua orang lain, Randy dan Bayu, telah pulang beberapa jam sebelumnya. Mereka adalah teman-teman saya di Momentum, sebuah lembaga pers mahasiswa di Fakultas Teknik Undip.

Sekitar pukul 11.30 kami mampir di sebuah warung tahu kupat yang letaknya berdekatan dengan kantor Polres Karanganyar. Sebelum melanjutkan perjalanan pulang, saya meminta teman-teman saya menunggu sebentar karena saya memutuskan kembali menjenguk nenek saya yang sedang sakit. Ia dirawat di sebuah klinik sejak sehari sebelumnya.

Saya tiba di Klinik Permata Hati, klinik di Desa Kutho tempat nenek saya di rawat, sekitar habis dzuhur. Saya masuk ke ruangan tempat ia dirawat, menyeringai, mencium tangannya, dan memegangnya erat-erat sampai ia sendiri yang melepaskan tangannya. Sebenarnya waktu itu saya takut, kalau-kalau hari itu adalah hari terakhir saya bertemu dengannya.

Waktu itu ia masih jelas bicaranya. Ia berkata, "Kamu kemana saja tho le? Dulu waktu kecil nenek asuh, nenek gendong. Kalau ada kambing kamu suka menangis ketakutan. Sekarang kok mau ketemu jadi susah."

Saya tak menjawab, saya cuma duduk di ranjangnya dan memegang tangannya. Lalu ia tersenyum dan melepaskan tangannya.

Waktu itu saya merasa cukup lega setelah membesuk dan berusaha melapangkan hatinya. Setelah kedua orang tua saya datang beberapa saat kemudian, saya pamit, mencium tangan dan keningnya. Saya bilang kepada nenek kalau saya harus kuliah di Semarang. Saya tidak tahu apa yang bisa saya berikan. Mengunjungi rumahnya pun saya tak bisa sering. Sejak saat itu saya selalu mencium keningnya ketika bertemu, kecuali satu kali saat ia memakai kerudung yang menutupi keningnya.

Tempo hari, Sabtu 23 Mei 2015 ia wafat. Saya mendapat kabar dari bapak dan ibu saya.

Beberapa jam sebelumnya, pukul 10.00, bapak saya mengirim pesan singkat, "Mil Mbh kritis do'a na. Neng ngomah (baca: Mil nenek kritis, doakan ya. Di rumah."

Mendengar nenek kritis, saya memutuskan akan pulang setelah selesai membantu teman mengerjakan tugas akhirnya, saya sudah punya janji sebelumnya. Belum selesai saya membantu teman, pukul 12.30 bapak mengabari nenek saya wafat. Saya bergegas pulang. Waktu itu saya hanya sempat mengikuti prosesi pemakaman tanpa sempat menyolatkan atau melihat jasadnya untuk terakhir kali.

Memang nenek sudah lama sakit. Terakhir saya bertemu dengannya 1 Maret 2015, saat ia dirawat di RSUD Surakarta. Waktu itu bicaranya sudah lirih. Kondisi fisiknya memang menurun drastis pasca menjalani operasi pengangkatan batu ginjal beberapa minggu sebelumnya. Di tahun ini ia mungkin sudah 5-6 kali masuk rumah sakit.

Saya masih ingat kata terakhir yang ia ucapkan pada saya waku itu. Secara tersirat saya rasa ia sudah maklum pada saya.

"Kalau mau balik ke Semarang ngga apa-apa, nanti kamu malah kemaleman. Yang hati-hati ya..," katanya waktu itu.

Sekarang nenek saya sudah wafat. Bagi saya penting untuk mencatat hal-hal tentang ia.

Ia punya nama tunggal, Sukiyem. Ia adalah nenek saya dari garis keturunan bapak. Ia lahir pada tahun 1927 sesuai data resmi yang digunakan di kartu identitas. Tetapi ia mengaku berumur 16 tahun pada tahun 1948. Sampai saat ini nenek saya punya dua data yang berbeda di database kecamatan.

Ia adalah nenek saya yang terakhir. Kakek dan nenek saya yang lain sudah wafat lebih dulu. Nenek dari garis keturunan ibu, bernama Siti Ngaisah, wafat pada tahun 1980. Kakek dari garis keturunan ibu, bernama Cokro Sapardi, juga telah wafat saat saya berusia 4 atau 5 tahun. Kakek dari garis keturunan bapak, bernama Karyo Pawiro, juga telah wafat pada tahun 2012 lalu.

Nenek saya hidup dengan cara sesederhananya hidup. Ia selalu memakai pakaian khas ibu-ibu desa Jawa dengan kain jarik, semacam kemben, stagen, dan atasan seperti atasan kebaya. Atau jika sedang santai ia biasanya memakai atasan kaos oblong. Tak pernah saya melihatnya berpakaian lebih daripada itu.

Dahulu sewaktu saya kecil, ketika fisik nenek masih kuat dengan pakaian seperti itu ia sering pergi ke tegal/ kebun dan bahkan ia memanjat pohon dengan membawa galah untuk memanenen cengkeh.

Ia juga punya kebiasaan nginang. Yaitu mengunyah pinang, sirih, dan kapur. Kebiasaan itu membuat giginya masih kuat dan terlihat utuh di usia tua.

Dahulu ia suka membuat kerupuk opak atau karak. Ia juga pernah mengajari saya cara membuat kerupuk karak yang rasanya renyah ketika dikunyah. Kerupuk karak yang beda dengan yang ada di pasaran. Camilan paling enak yang pernah ia buat adalah campuran singkong, beras ketan, uwi, talas, dan parutan kelapa. Saya tak tahu nama camilan itu, tapi rasanya enak sekali. Masterpiece!

Hidupnya sudah purna. Ia hidup pada berbagai orde zaman, dari sebelum republik ini ada hingga zaman serba canggih seperi sekarang ini. Ia mungkin tak punya previlege seperti orang generasi saya yang bisa membikin catatan-catatan kecil seperti yang saya bikin ini untuk mengingat-ingat apa-apa yang ia alami, yang barangkali bisa dibagikan pada anak dan cucunya. Atas semua itu saya membikin catatan-catatat seperti ini yang mudah-mudahan bisa menjadi pengingat bagi saya dan orang-orang yang ditinggalkannya, dan mudah-mudahan bisa menjadi pelestari kebaikan-kebaikan tentangnya.

Nenek saya wafat dengan meninggalkan 6 orang anak, 19 cucu, dan 8 cicit. Kami semua berharap ia mendapat ampunan dari Allah, diangkat derajanya, diperluas dan diperterang kuburnya, dan agar semua orang yang ditinggalkannya diberi pengganti yang baik.

Innalillahi wa innailaihi roji'uun.

You Might Also Like

1 komentar