Ibu Pecel

Minggu, Mei 17, 2015

Wajahnya sayu, badannya kering tapi masih tegak. Ibu penjual pecel yang biasa lewat depan kontrakan saya berhentikan. Sabtu kemarin hari lagi sepi-sepinya karena liburan, warung makan murah meriah samping kontrakan juga tutup. Tidak ada pilihan yang lebih logis bagi mahasiswa penyuka makanan terjangkau seperti saya kecuali membeli pecel dari penjual keliling di depan kontrakan. Pecel yang satu ini terjangkau dalam berbagai aspek, baik aspek harga dan aspek geografis karena cuma di depan kontrakan.


Mungkin hari itu untuk kali pertama dalam sebulan terakhir saya membeli pecel keliling ibu itu. Hampir tiap hari ibu pecel berteriak di depan setiap kontrakan dan kos-kosan di sepanjang Jalan Sumurboto II dan I untuk menawarkan nasi pecel, tapi saya juga hampir selalu menolaknya ketika ibu pecel menjajakan pecel di kontrakan saya. Saya biasanya lebih memilih membeli nasi rames di warung sebelah. Alasannya sederhana, diversitas lauk dan sayur. Saya suka makan pecel tetapi tidak untuk setiap hari. Lagipula jam makan saya agak teratur, paling pagi pukul 10.00 dan paling malam pukul 7.00 malam. Ibu pecel biasanya lewat sekitar pupkul 8.00 atau 9.00 pagi.

Walaupun saya jarang membeli pecelnya, saya pikir ibu ini punya banyak kelebihan dalam bisnis pecel kelilingnya. Walau sekalanya kecil ia konsisten dalam berdagang. Kelebihannya yang paling menonjol adalah effort ia dalam mempromosikan dagangannya. Ia akan selalu meneriakkan "pecel, pecel, pecel, Mas!" di setiap kontrakan dan kos-kosan yang ia lalui sekurang-kurangnya 10 detik sampai pelanggan menolak atau membelinya. Ia melakukannya hampir setiap hari, bahkan jika sering ditolak ia akan tetap datang.

Suatu kali saya memberinya saran untuk tidak menjual pecel saja. Tetapi tenaga dan waktu yang ia punya tampaknya tak membuatnya mudah untuk mengolah masakan yang lain. Ia pernah menjual oseng-oseng, tetapi sekarang tidak lagi. Ia kembali seperti biasa, menjual pecel dengan makanan pendamping yang juga selalu sama: bakwan, bakmi, dan kerupuk.

Ia mungkin bisa lebih maju jika mau memperlebar sayap bisnis kulinernya dengan menjual beberapa menu tambahan. Ia punya yang penjual lain tidak punya, ia menjangkau semua pelanggan secara langsung. Tapi, sayang ia juga punya hal lain yang bahkan tidak semua orang punya. Ia qonaah. Ia berpuas diri dengan perputaran uang yang mungkin tak seberapa. Ia sederhana, dan saya rasa ia juga penuh syukur.

You Might Also Like

0 komentar