Review: Guru Bangsa Tjokroaminoto

Minggu, April 12, 2015

Satu lagi film biopik pahlawan nasional dirilis, "Guru Bangsa Tjokroaminoto". Film garapan Garin Nugroho (diproduseri Pic-Lock Production) menjadi amat mewah karena mengangkat sosok yang punya andil besar di awal pergerakan modern melalui jalur organisasi, tanpa mengangkat senjata. Memasuki abad 20 kolonialisme menua dan kesadaran politik bangasa-bangsa terjajah meningkat, termasuk di Indonesia. Tjokroaminoto dikenal karena menyemai embrio berbagai tokoh pergerakan dengan berbagai ideologi yang berbeda-beda. Sukarno, Semaun, Darsono, Alimin, Musso, Kartosuwirjo, bahkan Tan Malaka pernah dibinanya. Beberapa dari mereka tinggal indekost di Rumah Paneleh, rumah kos-kosan milik Tjokroaminoto.


Tjokroaminoto (Reza Rahardian) & Stella (Chelsea Islan) - smeaker.com

Guru Bangsa Tjokroaminoto berkisar seputar perjuangan Tjokroaminoto (Reza Rahardian) bersama organisasi Sarekat Islam yang dipimpinnya juga irisan ideologinya dan keputusan-keputusannya terhadap para murid dan rekannya yang 'macam-macam' itu. Karena film ini berlatar sejarah, maka sulit mengupasnya tanpa melalui kacamata sejarah pula. Sangat tampak, film ini disajikan secara utuh dan 'fair'. Tjokroaminoto, terlepas dari jasa besarnya, bahkan diagung-agungkan sebagai Raja Jawa tanpa Mahkota dan satrio piningit --dijelaskan pula dalam film-- ia didudukkan secara baik dan bukannya dengan potret diri yang negatif atau terlalu positif, tetapi memang apa adanya. Tjokroaminoto bukan dewa, bukan orang maksum. Ada banyak konflik pasang surut dalam perjalanan hidupnya semasa memimpin Sarekat Islam yang dirangkum apik selama 160 menit.

Elemen-elemen cerita yang dijunjung secara fair bukan hanya potret diri Pak Tjokro beserta keluarganya saja, tetapi justru yang paling menarik bagi saya adalah konflik para komunis dan islamis, yang secara praktis dalam film memunculkan tagline "evolusi atau revolusi". Dalam sebuah adegan, ketika dilaksanakan kongres Sarekat Islam, konflik ini disederhanakan dengan "pendidikan atau agraria", yang kalau boleh saya simpulkan menyiratkan bahwa kaum islamis seperti Tjokro dan Agus Salim (Ibnu Jamil) lebih condong memperjuangkan pendidikan dengan "islam" adalah kunci. Di lain pihak kaum komunis seperti Semaun (Tata Ginting) dan Darsono lebih condong memperjuangkan "agraria" yang jadi pangkal nadi kaum tani dan buruh. SI pecahlah sudah. Tatkala Tjokroaminoto ikut masuk Volksaard (Dewan Rakyat bentukan pemerintah kolonial), Semaun mengatakan lembaga itu sebagai "komedi omong".

Harus diakui Garin, memposisikan konflik ini secara tepat. Tokoh-tokoh pembawa propaganda komunisme dalam SI seperti Semaun dan Darsono, meminjam perkataan Bonnie Triyana, yang dipersetankan oleh sejarah, ditampilkan dengan narasi yang apik. SI memang terpecah karena perbedaan ideologi para tokohnya. Tetapi, film ini secara logis berusaha membawa kita keluar dari belenggu cacat sejarah. Dalam berbagai bacaan sejarah, kita tahu SI terpecah menjadi dua: SI Merah dan SI Putih, dan SI Merah yang disalahkan. Yang secara tersirat dalam film, bahwa perpecahan dalam SI adalah karena beda pandang kedua kubu yang memang tidak bisa dihindari, toh pada akhirnya tokoh-tokoh yang berbeda pandang tersebut sama-sama bahu membahu memperjuangkan tegaknya republik.

"Semaun adalah orang yang cerdas, ia pasti bertindak dengan dasar yang jelas," kurang lebih begitulah kata-kata Tjokroaminoto. Tata Ginting memerankan karakter Semaun sangat baik. Keras dan menggebu. Saya pikir ia ada di urutan ke dua setelah Reza Rahardian. Muncul juga Kusno/ Sukarno (Deva Mahendra), tetapi dengan look berbeda dari film Soekarno yang rilis beberapa tahun lalu. Saya lebih suka karakter yang muncul di film Soekarno. Pun tidak ada kisah Sukarno yang berpacaran dengan Mien Hessels di film ini, tapi adengan ia berteriak-teriak belajar pidato ada.

Saya menunggu-nunggu kemunculan Tan Malaka, tetapi ternyata tidak ada. Tan, sebagaimana diketahui, punya andil menyerukan bersatunya kelompok komunisme dan islam dalam SI. Ia sempat menyerukan persatuan komunisme dan pan-islamisme tatkala berpidato di depan Kongres IV Komunis Internasional 1922. Tapi menariknya, muncul karakter Sneevliet yang disebut-sebut membawa paham komunisme di tanah bumiputera.

Selain pada ranah konflik utama yaitu perjuangan Pak Tjokro dengan SI-nya dan lika-likunya, film ini juga diracik dengan berbagai tokoh, setting dan oasis cerita yang menggambarkan kompleksitas jaman. Ada cerita soal konflik antara Cina dan pribumi (Jawa) di pemukiman yang multi-rasial di Surabaya dengan beberapa bangunan Cina yang rapi. Juga ada tokoh-tokoh seperti Stella (Chelsea Islan) orang campuran Bali-Belanda yang pekerjaannya menjual koran dan diceritakan sebagai pengagum Tjokroaminoto dan mencintai tanah pribumi, lalu ada karakter-karakter komikal seperti Bagong lelaki cebol sahabat Stella, Mbok Tun pembantu di Rumah Paneleh yang cerewet dan doyan mengeluh, Cak Kartolo seniman ludruk, Si Dasi Kupu-kupu, Jenderal Stoom, dan juga ada serombongan seniman Belanda yang punya gedung pertunjukan di Surabaya dan suka membawakan seni pertunjukan barat seperti teater dan ballet. Christine Hakim, artis kawakan yang super terkenal itu, muncul sebagai Mbok Tambeng, kolega Mbok Tun di dapur Rumah Paneleh. Mereka adalah karakter-karakter fiksi free-run yang membawa keceriaan dalam keseriusan.


Teaser (which i like the most #1) Guru Bangsa: Tjokroaminoto - Stella & Bagong

Teaser (which i like the most #2) Guru Bangsa: Tjokroaminoto - Cak Kartolo & Mbok Tun

Beberapa cuplik drama musikal pun juga muncul, Pak Tjokro bersama para penghuni Rumah Paneleh memperagakan adegan musikal dengan rame-rame menyanyikan "Terang Bulan", bahkan dalam adegan sebelumnya mertua Tjokroaminoto Ibu Mangoensoemo (Maia Estianty) dan Suharsikin (Putri Ayudya) menyanyikan lagu Inggris sambil bermain piano. Keluar dari cerita, but those bring people to enjoy the movie happily, IMO.

Tjokroaminoto dikenal suka mencari suasana baru yang menantang baginya. Ia meninggalkan pekerjaan sebagai juru tulis di pemerintahan, berpetualang menjadi pekerja di sebuah stasiun di Semarang, mendalami jurnalisme, dan mendirikan SI. Ia berpedoman pada prinsip hijrah, "Sudah sampai dimana hijrah kita?" satu tagline lain yang muncul. Pada akhirnya ia terpaut dengan rumah. Ada adegan asyik masyuk ia dengan istrinya di sebuah perkebunan kapas, dengan perkataan-perkataan yang mesra tetapi sekaligus menohok, karena berbicara tentang kematian.

Cerita ditutup dengan melemahnya kekuatan SI setelah tokoh-tokohnya ditangkap karena dianggap menghasut para petani dan buruh untuk melakukan tindakan-tindakan pembangkangan, seperti mogok kerja, dan menolak bayar pajak. Tjokroaminoto ditangkap tetapi dibebaskan karena dinyatakan tidak bersalah.

"Kamu boleh bangun dunia sebesar gagasanmu. Tapi jangan hancurkan rumahmu," kutipan Suharsikin yang mahsyur.

Rasa-rasanya belum pernah ada film biopik tokok pergerakan Indonesia yang dikemas semenarik dan semenyenangkan ini. Ini adalah yang terbaik, setidaknya dari semua yang pernah saya tonton. Mengumpulkan fragmen-fragmen tentang sosok Tjokroaminoto yang misterius saja sudah dibilang sangat sulit, apalagi menyajikannya dalam bentuk visual seperti ini.

You Might Also Like

3 komentar

  1. nggak heran kalau di filmkan. beliau memang sosok yang punya peran penting..
    dan... satu hal yang bikin kit aharus nonton film ini: Chelsea islan :)

    BalasHapus
  2. waduh, untung bukan spoiler :)

    rencananya mau nonton sabtu ini...
    salut sama reza rahadian, bener2 berperan sebagai aktor watak
    aktingnya jadi protagonis di van der wijkjuga keren
    penasaran di GBT..

    BalasHapus
  3. saya jg sudah nonton, baru kali ini film biografi dilukiskan dgn begitu utuh.. sama, selaras jg dgn peristiwa sejarah yg berlangsung saat itu.

    BalasHapus

Daftar Bacaan

Like us on Facebook