Pilihan Tempat Makan di Era Kapitalisasi Warung Makan

Senin, April 13, 2015

Kapitalisasi usaha warung makan di kota besar menyebabkan terpolarnya jenis warung makan menjadi dua tipe, warung yang dimiliki pemodal besar dan warung yang dimiliki pemodal kecil/ pas-pasan. Perbedaan ini pada akhirnya melahirkan corak yang berbeda dari kedua tipe warung sebagai turunan unsur kekuatan modal.

Nasi rames di sebuah warung di Jalan Sumurboto II, harganya cuma 3000 rupiah

Warung makan yang dikelola pemilik modal besar biasanya ditata cukup rapi, space yang cukup memadai, dan kadang-kadang dihiasi ornamen-ornamen tertentu sesuai tema yang diusung. Jejepangan, Korea-koreaan, Padang-padangan, Jawa-jawanan, atau sejenisnya. Unsur lain seperti diversitas menu makanan, plating, higienitas (ketersediaan tissu, toilet, dan wastafel) pun diperhatikan.

Di beberapa tempat fasilitas tambahan seperti wifi dan televisi layar datar juga disediakan, khususnya di tempat makan yang diperuntukkan sebagai tempat nongkrong. Tetapi tentu, karena pelayanannya kelas premium, harga makanan yang dijual juga mahal. Hal ini untuk mempercepat tercapainya break even point dan mengeruk keuntungan sebesar-besarnya jika mungkin.

Di sisi lain, warung makan yang dikelola pemilik modal kecil, sesuai besaran modal, penataannya seminimalis mungkin. Tidak ada ornamen-ornamen tematik, asal rapi. Untuk makanannya, yang terpenting rasa enak, masalah plating tidak terlalu dipikirkan. Untuk tipe warung makan seperti ini, pengunjung sering susah mencari letak wastafel, tissu pun kadang tak kasat mata. Tapi untungnya di beberapa warung makan disediakan air kobokan.

Jangan harap mendapat fasilitas seperti wifi atau televisi, tempatnya saja sempit. Pemilik warung modal kecil seperti ini biasanya ingin pembeli di warungnya tidak nongkrong lama-lama agar para pengunjung lain bisa dapat tempat. Toh makanannya saja murah-murah, masa mau nongkrong lama-lama cuma dengan memesan nasi rames dan air putih.

Sebagai mahasiswa yang tinggal di area kampus Undip Tembalang tempat kapitalisasi usaha warung makan berlaku, saya sering berhitung untuk makan dan berpikir-pikir jika mau nongkrong. Maklum uang makan pun terbatas. Pola makan dua kali sehari pun terkadang harus diusahakan.

Tetapi untung ada beberapa warung makan kecil yang tidak terlalu terikat dengan basis modal. Yaitu warung makan yang dikelola oleh warga lokal. Biasanya warung seperti ini tidak terikat perputaran modal tahunan atau bulanan, tapi harian. Semua pembelanjaan biasanya habis pakai dalam sehari. Tempatnya pun biasanya di rumah sendiri jadi tidak terbebani biaya uang sewa tempat tahunan. Uang pengeluaran bulanan seperti listrik dan air pun diikutkan dengan pengeluaran rumah tangga, jadi tidak perlu repot-repot dicantumkan dalam pembukuan bulanan, kecuali biaya pegawai jika ada. Pegawainya pun kadang-kadang dari anggota keluarga sendiri atau tetangga dekat.

Masalah menu, biasanya ada simplifikasi penamaan menu dengan penyebutan "nasi rames", meskipun kombinasi makanan pada tiap satu porsi menu berbeda-beda. Untuk masalah rasa, ya tidak muluk-muluk. Standard rumahan. Tetapi justru inilah yang terkadang mengobati rindu terhadap masakan rumah. Saya malah lebih suka yang demikian, apalagi beberapa warung menjual secara prasmanan. Ya walaupun tempatnya tidak luas dan terkadang panas, yang penting hajat perut terpenuhi tanpa mengganggu stabilitas finansial.

"Ibu kucingan itu kayaknya jualan ngga nyari untung deh...," kata teman saya Thariq Nahra.
"Dia jualan bukan karena nyari untung, tapi karena passion," sahut saya.

You Might Also Like

0 komentar