Sebentar di Surabaya

Selasa, Maret 17, 2015

Anda tahu, Surabaya adalah kota yang punya banyak monumen ikonis. Monumen kepahlawanan bertebaran di mana-mana. Tapi pergi ke Surabaya cuma untuk melihat monumen-monumen dan bangunan megah lainnya, tentu merupakan kefanaan belaka. Ada beberapa hal yang sedikit banyak membuat saya lebih kenal dengan Surabaya ketika mengunjunginya beberapa waktu lalu.

10 hari lalu saya mengunjungi Surabaya, menjumpai teman-teman yang sekarang berdomisili di sana, sambil berkunjung ke beberapa tempat tamasya tentunya. Tidak banyak yang saya sambangi, Monumen Kapal Selam, Taman Bungkul, dan Tugu Pahlawan. Juga kedai makanan Bebek Sinjay di Madura yang sudah amat terkenal itu, dan sebuah kedai STMJ yang konon juga terkenal.

Jum'at sore langit Surabaya sudah gelap. Saya baru saja tiba di Stasiun Pasar Turi pukul 4.00. Saya masih berada di area stasiun sampai pukul 7.00 malam karena menunggu jemputan teman sambil mengurus tiket pulang untuk hari Minggu.

Selama menunggu saya dan seorang rekan, Mas Trio, mondar-mandir ke mushola dan warung makan pinggir stasiun, dan tempat antri tiket. Saat di warung makan, saya mengajak bicara ibu penjual makanan. Seperti kebiasaan, saya bicara menggunakan bahasa Indonesia dan kadang bahasa Jawa kromo inggil (halus). Ia membalas dengan bahasa yang sama. Lalu agar terdengar lebih akrab, saya berbicara menggunakan bahasa Jawa dengan logat Surabaya atau Jawa Timuran yang cair, karena kebetulan saya juga sedikit tahu bagaimana dialek Surabayanan atau Jawa Timuran yang khas itu. Tapi justru si Ibu menyahut dengan nada tinggi dan keras. Belakangan saya tahu dari teman, orang Surabaya akan lebih menghormati lawan bicara ketika menggunakan bahasa halus, begitu juga sebaliknya.

Monumen Kapal Selam

Monumen Kapal Selam Surabaya tampak dari depan

Setelah istirahat malam harinya, Sabtu pagi saya dengan tiga teman, Indra, Jati, dan Mas Trio mengunjungi Monumen Kapal Selam (Monkasel). Monumen Kapal Selam adalah badan kapal selam yang diletakkan utuh di sebuah pondasi di tepi Sungai Kalimas. Nama kapal selam tersebut adalah KRI Pasopati 410 yang merupakan tipe SS Whiskey Class buatan Rusia tahun 1952. Ada 7 ruang dengan fungsi yang berbeda di KRI Pasopati 410 ini. Masing-masing ruang dipisahkan dengan sekat.

Bagian dalam Kapal Selam KRI Pasopati 410

Selain karena monkasel adalah bekas kapal selam pertama kepunyaan republik, tidak ada yang istimewa benar dari monumen itu. Ada sebuah auditorium yang memutarkan film tentang sejarah kapal selam KRI Pasopati dan Angkatan Laut Indonesia, kapasitasnya sekitar 20-30 orang. Tapi film yang diputar sangat kawak, buatan tahun 1998, dan terlihat seperti sebuah dokumenter propaganda orba. Tidak lebih menarik dari ribuan artikel di internet tentang kapal selam dan angkatan laut itu sendiri.

Bebek Sinjay Madura

Setelah selesai mengunjungi Monkasel, kami bertemu Sheila dan Ikha, teman satu institusi Indra dulunya. Keduanya mengiring kami di Surabaya.

Hari itu, untuk pertama kalinya saya melintasi Jembatan Suramadu, hanya untuk mengecap rasa Bebek Sinjay. Rasa Bebek Sinjay memang enak. Harganya tidak mahal, 20.000 seporsi. Coba anda bandingkan dengan harga makanan serupa di kota Semarang. Kami bersama-sama menyantap Bebek Sinjay dengan kelapa muda. Kepala muda juga tidak mahal, cuma 6.000 seporsi.

Sepanjang perjalanan Surabaya-Madura lewat Suramadu ternyata banyak tanah lapang di kanan kiri jalan. Tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Saya kira dengan dibuatnya Suramdu serta merta akan timbul keramaian berupa bangunan yang berserak di mana-mana, di jalan utama setelah melintas jembatan tol. Ternyata sepi dan lapang. Atau mungkin di kawasan dekat Suramadu itu memang harus steril dari bangunan-bangunan niaga, saya tidak tahu.

Taman Bungkul

Area bermain Taman Bungkul Surabaya, Sabtu 8 Maret 2015 sekitar pukul 19.45 WIB

Malam harinya, kami jalan-jalan ke Taman Bungkul, taman yang dinamai senama dengan seorang tokoh, Sunan Bungkul, yang jasadnya disemayamkan di dekat area taman tersebut. Taman Bungkul ini letaknya di pusat kota. Kata seorang pemilik kedai semi-permanen di area taman, tiap hari Taman Bungkul ramai dikunjungi orang, dari anak kecil hingga orang tua, dari keluarga hingga komunitas-komunitas muda.

Taman Bungkul dibagi menjadi dua bagian. Satu area adalah makam Sunan Bungkul yang di depannya banyak berjajar rapi para penjual, dan satu area lagi adalah area tempat bermain. Satu area adalah tempat orang berjualan, satu area lain adalah ruang bermain terbuka yang steril dari aktivitas jual beli.

Menurut bapak penjual yang saya temui, sistem pembagian area semacam itu diberlakukan karena Taman Bungkul dulunya sering dikotori oleh sampah para pengunjung akibat aktivitas jual beli yang tidak terpusat. Oleh karena itu, Pemkot menerapkan sistem seperti itu. Menerapkan sistem demikian untuk ketertiban Taman Bungkul penting, karena--seperti yang teman saya bilang--Taman Bungkul adalah pusat area publik terbuka orang-orang Surabaya, maka ketertibannya pun harus dijaga. Tapi, walaupun sudah ada pemisahan area saat ini tetap saja ada satu dua orang penjual asong yang curi-curi kesempatan untuk berjualan di area steril.

Selepas jalan-jalan di Taman Bungkul, sedianya kami akan melihat-lihat Tugu Pahlawan. Tapi, dasar memang bebal. Kami semua tidak tahu kalau Tugu Pahlawan hanya dibuka dari pukul 7.00 pagi hingga 1.00 siang.

Selepas itu dengan petunjuk Ikha, kami mampir dulu mengisi perut di kedai STMJ Bu Nunuk di daerah Ngagel (awalnya kami tak tahu nama dan tempatnya). Pertama melihat nama tempat ini--lewat papan jalan--saya teringat kata "Ngalam", yang merupakan anagram kata "Malang", mungkin "Ngagel" anagram dari "An(g)gel" atau "Gelang". Bodo amat.

Tidak mudah menemukan kedai STMJ Bu Nunuk, lantaran kami awalnya tak tahu nama tempatnya, cuma mengandalkan naluri Ikha yang sepertinya memegang teguh pemeo seperti di meme: "dipikir karo mlaku". Kami tahu jika harus tersesat kami bisa buka google maps, jika terpencar kita bisa saling kontak via WhatsApp. Tapi, semuanya jadi runyam ketika beberapa dari kami pasrah merelakan HP kehabisan batre. Benar saja, kami mengalaminya. Tersesat. Terpencar. Untung tidak lama, ya sekitar satu jam, cuma sekedipan mata dari sebelum sampai bangun tidur siang tatkala istirahat di kantor.

Tapi setidaknya saya jadi tahu, di sepanjang ketersesatan kami bertebaran rambu yang saya baru mengenalnya. Misalnya lampu merah di jalan lurus yang diperuntukkan bagi pejalan kaki agar bisa menyebrang. Selain itu juga banyak rambu pembagian jalur sepeda motor dan kendaraan beroda empat atau lebih yang menjadi titik rawan penilangan. Saya jadi tahu. Iya, jangankan anda, saya pun sangsi terhadap kelaikan SIM saya karena tak kenal akrab dengan banyak rambu lalulintas.

Beberapa dari kami juga akhirnya tahu, bagaimana menggunakan fitur get direction di instant messenger. Penting!

Sampai di tempat, saya melirik-lirik makanan yang dijajakan. Ya mirip-mirip dengan angkringan/ kucingan/ hik pada umumnya. Saya berkeinginan melahap makanan kecil khas Surabaya, tapi semua makanan yang disediakan sepertinya saya sudah pernah mencobanya. Bahkan di sana juga dijual lumpia, makanan khas Semarang.

Akhirnya saya memesan segelas susu jahe. Rasanya benar-benar melegakan, 4/5 kalau boleh di-rate. Di dinding kedai STMJ Bu Nunuk juga berjajar foto-foto berpigura para orang beken yang sempat mampir. Mereka tak kasih testimoni, cuma sekadar nampang di foto. Menjelang ganti hari, kami pulang.

Tugu Pahlawan

Hari Minggu jadwal keberangkatan kereta ke Semarang adalah pukul 09.15, menggunakan Cepu Express. Beberapa menit sebelumnya kami menyempatkan mampir ke Tugu Pahlawan yang sangat padat pengunjung.

Aktivitas di Tugu Pahlawan Surabaya, Minggu 8 Maret 2015 sekitar pukul 08.15 WIB

Selain tugu menjulang tinggi dan lapangan luas, di Tugu Pahlawan juga ada museum bawah tanah (saya lupa nama museumnya) yang memampang foto-foto, dan replika memorabilia perjuangan di Surabaya, khususnya semasa agresi militer Belanda. Yang menarik bagi saya adalah foto Bung Tomo yang berpidato, sebuah foto ikonik yang barangkali anda juga sering melihatnya. Foto tersebut sejatinya diambil ketika Bung Tomo berada di Mojokerto, beberapa bulan setelah pertempuran Surabaya--hal ini mengacu pada pernyataan istri Bung Tomo, Sulistina--untuk menggalang donasi bagi pengungsi perang pasca pertempuran di Surabaya. Tetapi di museum Tugu Pahlawan--dan sayangnya hal serupa juga dituliskan berbagai sumber sejarah--foto tersebut dikatakan diambil saat pertempuran Surabaya 1945. Seperti juga di Monkasel, museum Tugu Pahlawan sepertinya juga tidak didukung galeri informasi yang baik.

bung_tomo.jpg (234×320)
Foto Bung Tomo berpidato - serbasejarah.wordpress.com

Pukul 9.15 saya pulang ke Semarang setelah bersama yang lain sarapan di Stasiun Pasarturi. Semoga bisa ke Surabaya lagi dan punya banyak cerita lagi. Terimakasih juga buat teman-teman di perjalanan: Mas Trio, Indra, Jati, Ikha, dan Sheila.

You Might Also Like

0 komentar