We have known each other

Minggu, Februari 15, 2015

Sabtu siang saya menjemput adik saya, Aden, yang duduk di kelas 1 SD --tepatnya ia bersekolah di Madrasah Ibtidaiyyah-- dengan motor yang saya pacu. Matahari tidak terlalu terik siang itu, tetapi walau begitu saya konsisten menggunakan jaket agar kulit tidak terbakar. Anak-anak sekolah sudah bertebaran di kanan kiri jalan. Saya pikir saya sudah terlambat.

Saya tahu bagaimana kurikulum sudah berubah, kini anak kelas 1 SD baru bisa pulang sekolah pukul 1 siang pada hari biasa, sekitar pukul 10.30 pada hari Jum'at, dan pukul 12.30 pada hari Sabtu. Di tambah lagi di sekolah tempat Aden belajar menambahkan beberapa menit selepas jam pelajaran berakhir untuk kegiatan membaca dan menghafal Qur'an.

Saya kenal betul Aden. Walau sudah bisa membaca ia biasanya malas untuk membaca dan menulis kalimat-kalimat yang panjang. Ibu saya mengatakan Aden selalu jadi yang paling akhir menyalin PR yang ditulis di papan tulis, bahkan ia sering tidak menulis PR secara tuntas.

Beberapa hal bisa saya gambarkan mengenai adik terakhir saya ini, ia anak yang berani, tidak pemalu, tidak cengeng --ia tidak menangis ketika jatuh dari motor atau ketika tangannya tanpa sengaja terkena wajan penggorengan yang panas, ia selalu mengatakan suka atau tidak suka dengan tuntas, sangat suka mendengar cerita --ia mampu menceritakan kembali cerita film atau serial yang ia tonton dan juga nama tokoh-tokohnya, bisa membaca dan berhitung tapi tidak terlalu lancar, bisa menyusun perkataan dengan bahasa yang baik dan benar secara lisan, tetapi sangat malas dan lambat dalam menulis. Siang itu saya menyambangi langsung di depan kelasnya. Ketika teman-temannya sudah keluar kelas, Aden masih menulis sambil sesekali duduk dengan santai melemaskan tangan-tangannya. Ia tidak minder jadi yang terakhir menulis PR, ia cuma malas dan ia tahu itu.

Saya melongo dari pintu dan menyeringai kepada ibu guru, lalu masuk menemui Aden. Ia cuma melempar senyum tipis melihat kakaknya ada di hadapannya. Ia melanjutkan menulis PR.

Tiap selesai menulis satu kata, ia berhenti, untuk mengetuk-ketuk pensil ke meja, merubah posisi duduk, membersihkan sisa penghapus karet dari lembaran buku, atau melakukan hal-hal yang tidak penting lainnya. Dan ketika ia memulai menulis lagi, waktunya sudah terbuang banyak. Ia juga perlu waktu untuk mengarahkan pandangan ke posisi kata terakhir yang ia tulis di papan tulis. I knew that. Dia sedang malas menulis, dan biasanya selalu begitu, pun ketika saya menemaninya belajar di rumah.

Saya maju kedepan menunjukkan kata demi kata pada baris-baris soal yang ia tulis di papan tulis. Tujuan saya adalah agar ia tidak selalu berhenti setiap menulis satu kata, dan membuang waktu untuk memfokuskan pandangan lagi ke papan tulis. Saya ingin Aden menulis dengan konsisten kata demi kata tanpa harus banyak berhenti. Ibu guru membolehkan saya waktu itu.

Ia selesai menulis 10 soal Ilmu Pengetahuan Alam --pelajaran IPA, IPS, dan TIK sudah diberikan untuk kelas 1 SD-- dan 3 soal Matematika. "Kalau sama kakaknya menurut ya.." kata ibu guru. Ibu guru mengatakan bahwa ia akan melakukan hal yang sama --mendikte dengan cara menunjuk baris-baris kata di papan tulis-- ketika ada soal yang harus ditulis di kemudian hari. Lalu saya mengajak Aden pulang.

Waktu itu ibu guru sempat menceritakan bagaimana Aden cukup baik menyerap seluruh pelajaran, termasuk hafalan surat-surat pendek atau hafalan bahasa Arab, juga punya sikap yang baik. Hanya saja ia mengeluhkan Aden selalu jadi yang terakhir ketika diminta menulis.

Waktu itu ibu guru menyimpulkan Aden kekurangan motivasi belajar. Ia bahkan menyimpulkan kurangnya perhatian orang tua yang menyebabkan ia menjadi agak malas. Indikator yang ibu guru gunakan adalah: Aden berangkat dan pulang sekolah tidak diantar dan dijemput oleh orang tua, dan pada hari penerimaan rapot semester lalu bapak dan ibu saya tidak sempat mengambilkan rapot. Saya hanya tersenyum tipis dan tertawa kecil dalam hati mendengar perkataan ibu guru. 'Cause we have known him.

Selalu ada tempat untuk sebuah asumsi dalam setiap dua hal yang terjadi, entah sebenarnya berhubungan atau tidak. Ibu guru hanya mencoba melakukan sesuatu dalam ranah tanggung jawabnya dengan berkomunikasi kepada saya untuk menyampaikan pendapatnya.

Saya mengobrol dengan bapak saya di rumah, mengenai hal ini. Bapak cuma tersenyum kecil. Kami tahu bagaimana hari-hari yang kami lalui di keluarga. Kami tahu bagaimana komunikasi yang intens yang kami jalin di keluarga. Kami tahu bagaimana Aden yang aspiratif selalu menceritakan detail-detail kecil yang ia lalui di sekolah atau di tempat dan waktu-waktu lain. Kami tahu jika Aden tidak suka sesuatu, ia pasti akan menyampaikannya. Kami juga tahu bagaimana komunikasi Aden dan ibu adalah yang paling sering di keluarga kami. Dan kami tahu bagaimana setiap malam ibu menemaninya belajar atau mengerjakan PR.

Dengan kepolosannya ia selalu menceritakan keinginan-keinginannya atau pendapat-pendapat lucunya, seperti ketika ia menyarankan agar orang tua kami membeli mobil saja agar tidak kepanasan dan bisa pergi bersama sekeluarga dengan satu kendaraan. Atau ketika ia menyarankan agar saya memotong jenggot saja agar terlihat tampan.

Hari Minggu lalu ketika hari pertama saya pulang ke rumah pasca liburan, ibu dengan senyum kecil menceritakan keinginan Aden untuk piknik bersama saya --lalu saya mengajaknya ke Madirda-- dan lalu Aden mengatakan ingin punya panah dan ingin mahir bermain panahan ketika sudah besar dan bisa masuk iklan di koran, begitu katanya. Ia juga menginginkan sebuah mobil remote control. Dan daftar keinginannya ia ingat baik-baik dan selalu ia diskusikan dengan bapak atau ibu, terutama jika ada kemungkinan penambahan daftar keinginan itu.

Saya mengobrol dengan ibu beberapa hari lalu mengenai susahnya Aden bersemangat menulis. Tapi kami bersependapat bahwa ia ada di track yang benar. Dari semula tidak bisa membaca menjadi bisa membaca, dari yang tidak hafal huruf sekarang bisa menulis walaupun lambat dan malas. Sekurang-kurangnya kami tahu, karena sewaktu kakak-kakaknya kecil pun sedikit banyak mengalami hal serupa.

Kami empat bersaudara. Dulu kakak saya baru bisa membaca saat kelas 3 SD, bahkan saya yang lebih muda 15 bulan darinya lebih dulu bisa membaca --saya mulai bisa membaca saat kelas 1 SD. Dulu ketika hampir lulus SD, ibu guru kakak saya --tak lain adalah tetangga kami sendiri-- mengatakan kakak saya adalah anak yang bodoh. Ia dikatakan sebagai seorang anak yang suka meletakkan kepalanya di meja ketika di kelas dan suka mengantuk.

Dulu ibu saya khawatir jika kakak saya tak lulus ujian masuk SMP. Lalu kakak saya diterima di SMP dan mendapatkan peringkat 26 dari seluruh 240 siswa yang diterima. Ketika SMA, ia diterima di sekolah terfavorit ke-2 di Karanganyar, lalu melanjutkan kuliah di Ilmu Perpustakaan Undip dan sekarang telah bekerja sebagai pustakawan di salah satu SMK swasta di Kota Solo. Not bad at all.

Adik saya, Yusuf, lahir Oktober tahun 1999, pada masa-masa peralihan. Masa ketika milenium akan berganti, masa ketika rezim Gus Dur menggantikan Habibie, dan lalu Gus Dur mengeluarkan kebijakan menaikkan gaji guru secara drastis yang juga berimbas langsung pada keluarga kami, karena bapak dan ibu adalah seorang guru. Yusuf lahir dan menghabiskan masa kecil di tahun-tahun yang baik. Beberapa tahun setelah ia lahir, orang tua kami mencicil membangun rumah setelah hampir 10 tahun pernikahan dan kami pindah ke rumah di lingkungan yang lebih baik.

Yusuf memiliki bakat yang baik. Ia sudah menghafal seluruh huruf abjad ketika belum genap 5 tahun. Ia anak penurut, tapi sangat pemalu. Suatu waktu ia mengerjakan ulangan Matematika. Dari 40 soal, ia menjawab betul 36 soal. Seharusnya ia mendapat nilai 9, tetapi manakala temannya yang mengoreksi soal hanya memberi nilai 6, ia tak berani protes. Betapa pemalunya ia sampai jika ditawari mewakili sekolah untuk mengikuti perlombaan, ia selalu jadi yang terdepan untuk menolaknya.

Dulu saya suka membacakan dongeng untuk Yusuf agar ia suka membaca buku cerita. Saya juga mengajaknya ke warnet browsing artikel-artikel unik agar ia punya minat untuk membaca buku. Saya juga membelikan buku cerita untuk dibaca adik-adik saya. Tapi apa daya, saya mengira adik-adik saya akan punya minat dan kegemaran seperti saya, ternyata mereka punya kebisaan dan kebiasaan yang berbeda-beda. Taare zameen par, every child is special.

Sabtu sore itu saya menunggu terik matahari mereda. Saya mengajak Aden ke kolam renang. Awalnya ia cuma ingin melihat di pinggir kolam saja, tapi saya membujuknya. Saya masuk kolam renang dan menggendongnya, ia berteriak-teriak tapi sambil tertawa, hingga bajunya basah dan seperti pemeo umum: "sudah terlanjur basah!" ia akhirnya berani menenggelamkan sebagian besar tubuhnya ke air. Ia sempat ingin muntah manakala ada air masuk ke hidungnya, tapi setelah meludah beberapa kali di pinggir kolam renang, ia memutuskan masuk lagi. Lalu kami makan pop mie dan sebotol teh Sosro untuk berdua. Pada saat perjalanan pulang tak sengaja ia jatuh dari motor. Lututnya sedikit lecet, tapi ia tak menangis dan mengatakan: "aku ra po po". Sampai di rumah ia pamer video rekaman ia di kolam renang kepada bapak dan ibu. Ya, i know him, my little bro!

Setidak-tidaknya, sebagian besar masa kecil kita dihabiskan bersama keluarga. Ingat-ingatlah setiap detailnya sampai kita lebih tahu mengenai keluarga kita sendiri dari sesiapapun. Dan sebenarnya ini adalah sebuah keniscayaan.

You Might Also Like

2 komentar

  1. Sebenarnya terlalu dini mengajarkan anak untuk mempelajari banyak hal di bangku kelas 1 SD, hal ini yang ditakutkan membuat anak-anak jadi malas sekolah tapi udah kurikulum mau gimana lagi. Menurut sayasih, meski Aden selalu terakhir menulis PR karena dia anak yang berani dia akan menjadi rajin kalau bertemu saingan. Mental Aden itu suka tantangan...coba nanti teliti saat kelas 3 SD di mana dia mulai ingin bersaing.

    BalasHapus