Telaga Madirda dan Gosip-gosip Seputarnya

Senin, Februari 09, 2015


Ada dua gosip tentang Telaga Madirdanama Madirda sekaligus sebagai koreksi bagi saya, sebelumnya saya menyebutnya Madrida. Gosip pertama adalah bahwa Telaga Madrida memiliki pesona nan indah. Gosip kedua adalah bahwa Telaga Madrida adalah tempat bersemayamnya pusaka Cupu Manik Astagina yang dulu diperebutkan oleh Retno Anjani, Subali dan Sugriwa.

Cupu Manik Astagina adalah pusaka yang konon dapat memperlihatkan seisi dunia kepada pemiliknya. Mungkin semacam gadget di jaman para bidadari masih sering bersliweran kesana kemari.

Gosip pertama adalah benar adanya. Sementara itu, gosip ke dua entah ihwal kebenarannya, kemungkinan besar cuma cerita yang dibuat-buat. Tapi di Telaga Madirda ini memang ada sebuah batu yang dikeramatkan dan diyakini sebagai tempat Rento Anjani dulu bertapa hingga melahirkan Hanoman. Suka-suka orang yang bikin cerita ini. Letak batu tersebut ada di sisi telaga, di dekat dinding bukit.

Saya pergi ke Telaga Madirda sehari lalu, 8 Februari 2015, dengan adik saya Aden dan ibu saya. Perjalanan menggunakan motor ke Madrida sekitar 30 menit dari rumah saya. Jalan menuju Madirda sedikit berkelok dan curam di beberapa titik, seperti jalanan di pegunungan pada umumnya.

Telaga Madirda terletak di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar. Madirda juga dekat dengan obyek wisata lain, seperti Candi Sukuh, Air Terjun Jumog dan Parang Ijo.

Ada beberapa jalur untuk dapat kesana, jalur yang familiar adalah dari Karanganyar kota ke gerbang karcis wisata Ngargoyoso di Nglorok (di sini wisatawan non-lokal diharuskan membayar 2000 atau 3000 rupiah saja sebelum memasuki obyek-obyek yang ada di wilayah itu), lalu belok kanan mengikuti jalan ke arah perbukitan. Sekitar 5 menit perjalanan, Telaga Madirda akan terlihat di kanan jalan, di sebuah hamparan lembah yang dikelilingi bukit-bukit, berdekatan dengan pemukiman warga dan perkebunan.

Salah satu sisi Madrida yang berbelukar

Madirda belum dikelola secara komersial untuk tempat wisata, masuknya pun gratis. Tapi di dekat Madirda ada beberapa fasilitas seperti sebuah warung kecil dan 2 toilet umum.

Madirda tidak terlalu luas. Luas keseluruhan lembah mungkin hanya sekitar 2 atau 2,5 hektar, dengan sepertiga luas lembah adalah telaga, dan dua pertiganya adalah hamparan rerumputan dan belukar. Air dari Madrida bersumber dari mata air di dinding bukit. Airnya sangat jernih hingga dasar telaga pun dapat terlihat dengan jelas. 

Beberapa orang bersiap menjalankan ritual di Madrida, di samping batu Retno Anjani yang dikeramatkan

Di Madrida juga sering diadakan ritual keagamaan umat Hindu. Sewaktu saya datang ke sana, ada beberapa orang yang menjalankan ritus tertentu di bebatuan dekat sumber mata air. Ada juga yang menjalankan ritual semacam pre-wedding photo session seperti itulah.

Saya tidak berlama-lama di Madirda, karena waktu itu hari sudah sore dan saya membawa ibu dan Aden. Jadi saya tak sempat mengulik banyak informasi lagi mengenai Madirda. Pun saya juga tidak sempat mengambil banyak gambar.

You Might Also Like

6 komentar

  1. Gosip yang kedua juga harus dilestarikan, karena merupakan unsur fenomenal sebuah daerah

    BalasHapus
  2. Kalo itu saya pribadi kurang setuju. hehe, lha lebih ke unsur mistis daripada unsur budaya. tapi terserah masyarakat sih.

    BalasHapus
  3. Saya yang orang karanganyar Pemasaran dengan lokasi INI,klo Dari karangpandan me Arab mana ya mas

    BalasHapus
  4. Dari Gerbang/ Gapura tiket retribusi masuk wisata Ngargoyoso, nah dari situ langsung belok kanan, turun. setelah itu ikuti jalannya sekitar 1 KM akan sampai di Telaga Madirda. Saran saya, tetap, harus tanya sama orang sana. Pada ngerti semua kok.

    Banyak tempat-tempat wisata di Karanganyar yg belum dijual, di Jenawi juga ada Goa Telerong, bagus. Nanti saya review juga di sini kalo ada kesempatan.

    BalasHapus
  5. Goa telerong dong.. Apakah sudah dibuka untuk umum?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pernah ke sana, tapi tidak di-post di sini. di Instagram. Kalau Goa Telerong belum dibuka buat umum. akses agak susah juga sih. Tapi enak buat ditelusuri. sekitar 300 meter jalan kaki dari rumah penduduk buat parkir.

      Hapus

Daftar Bacaan

Like us on Facebook