Wisuda dan beberapa orang yang mungkin nyinyir

Selasa, Januari 27, 2015

Setelah setengah windu lebih pertemanan di masa kuliah, beberapa dari kita akan melihat temannya lulus lebih dulu, memakai toga dan riasan yang menawan. Kita akan berusaha menunjukkan sambutan hangat, sementara orang lain menimang bunga untuk diserahkan pada rekan-rekan yang diwisuda.

Hari wisuda adalah hari yang penting, tapi di sisi lain adalah kegetiran. Ya, bahkan seluruh paruh ke dua sewindu pertemanan dengan teman-teman kuliah adalah kegetiran rasanya. Selepas empat tahun masa wajar studi dilewati, masing-masing kita akan sibuk mengejar kelulusan. Kini sebagian teman telah lulus, sementara sebagian tertinggal, menahan hasrat untuk lulus barang beberapa bulan, atau beberapa semester.

Akan ada masa seseorang datang terlambat di hari wisuda, ketika para wisudawan sudah berhamburan keluar auditorium bersama kawan-kawan yang menyambutnya. Lalu ia berdiri tertegun di kejauhan sebelum akhirnya berjalan pelan menuju kerumunan. Sungkan. Ia melihat rekan-rekannya yang diwisuda sudah sibuk berpose dengan para penyambut. Lalu ia berhenti sejenak sampai seorang wisudawan, yang teman dekatnya, menyadari keberadaannya, kemudian memanggilnya lalu berdua berjabatan erat, saling mengobrol sebentar, lalu berpose bersama. Tapi tak lama merasa ingin enyah sebentar dari kerumunan. Ia pergi ke toilet, mengusap wajah yang berlumur peluh. Kira-kira ada yang seperti itu perangainya.

Saat wisuda kita juga akan bertemu teman sepermainannya yang lain. Seorang teman yang ternyata juga belum selesai studinya. Rupa dan tampilannya kadang-kadang sedikit berbeda--barangkali tubuhnya menjadi gembul, pipinya tak lagi tirus seperti beberapa waktu sebelumnya. Lalu kita menduga keras, teman yang kini tambun itu pasti lama tak beraktivitas. Pikir-pikir, ada moron yang belum lulus juga ternyata.

Biasanya datang pula kawan yang lain. Berambut klimis, berbusana kemeja lengan panjang dan memakai sepatu pantofel. Seorang kawan yang telah lulus di periode sebelumnya, seseorang kawan yang telah mengecap rasanya terkurung dalam kubikel dan duduk berjam-jam menatap layar komputer setiap hari. Ah, jadi kepingin.

Apapun itu, menyambut kawan yang diwisuda adalah sakramen penting. Boleh jadi momen-momen seperti ini adalah yang terakhir kalinya sebelum bertemu beberapa tahun lagi di jagat yang berbeda. Sebelum tercecer di masyarakat, berpencar ke dalam fragmen-fragmen rutinitas kerja masing-masing. Tidak bertemu dengan kawan yang dicintai dalam jangka waktu lama mungkin bukan masalah. Tetapi tidak saling membagi hal-hal baik satu sama lain ketika masih sempat bersama, adalah awal perpisahan yang suram. Karena jika toh harus berpisah, sebelum berpisah sebaiknya dua orang yang berteman saling membagi guna sebagai tanda cinta pertemanan, ya tujuannya agar perpisahan itu tak terlampau suram dan membikin sesal.

Mungkin kawan-kawan yang lulus duluan, di satu masa, memperjuangkan setitik lowongan kerja praktek atau lowongan kerja bagi kawan-kawannya yang lebih muda dan atau masih tertinggal dengan mengobrol pada atasan. Walaupun tidak semua. Ada masa pula, kawan-kawan yang bekerja duluan menyempatkan waktu luang di akhir pekan untuk mengajak kawannya main-main ke kota tempat ia bekerja. Ia hendak memberi sambutan hangat di lingkungan barunya. Jadi, lulus dan diwisuda adalah hal yang baik, mengapa kita tak menyambut kawan-kawan dengan suka cita?

PS: Selamat wisuda dan selamat menjadi penyambut wisuda yang baik :)

You Might Also Like

2 komentar

Daftar Bacaan

Like us on Facebook