Dear Perfectionist

Sabtu, Januari 17, 2015

David Skaylark tertunduk lesu setelah mendengar umpatan Kim Jong-un yang mengatakan bahwa dirinya tidak kompeten dalam melakukan wawancara. Kim menuduh David berusaha melakukan interview yang tidak obyektif dan bertendensi menjatuhkannya.

Setelahnya, keadaan berbalik. Dave membuat Kim menangis dan berak di celana setelah menyanyikan lagu yang ia tengarai adalah kesukaan Kim. Pada akhirnya, Dave menguak di depan khalayak bahwa Kim adalah pemimpin yang sama sekali tak sempurna, tidak sesempurnya yang dibayangkan rakyatnya. Ia bukan Tuhan bagi rakyatnya, ia manusia biasa yang punya lubang kentut. Ia bukan pekerja keras yang sampai-sampai seluruh makanan yang ia makan terbakar sempurna menjadi kalori dan tak perlu dikeluarkan lewat anus, ia bahkan juga berak di celana di depan kamera yang menyala.

Dua paragraf di atas hanyalah sepotong kisah dalam film The Interview yang menggambarkan betapa konyolnya manipulasi dan propaganda seorang diktator terkuak hanya dengan sebuah wawancara. Tapi adakah kita berpikir, hal yang sama juga dapat kita temukan dalam bahan-bahan bacaan yang nyata.

Dalam sebuah wawancara dengan Tempo, sejarawan Kees Snoek mengatakan bahwa pada umumnya buku sejarah melansir hal-hal yang sudah diedit, untuk kepentingan negara. Sehingga semua pahlawan Indonesia ditampilkan secara ideal, walaupun sebenarnya mereka juga manusia biasa yang punya kurang dan lebih dalam dirinya. Snoek mencontohkan dalam buku-buku sejarah atau biografi Indonesia mengenai Sutan Sjahrir tidak ada yang pernah menceritakan perkembangan batinnya selama masa perjuangan. Tetapi dalam suatu kesempatan Snoek mendapatkan surat-surat cinta yang pernah ditulis Sjahrir kepada Maria, mantan istrinya yang berkebangsaan Belanda. Surat-surat itu dilayangkan pada rentang waktu 1931-1940, jumlahnya ada 187 buah dengan panjang tiap-tiap surat 4 hingga 7 halaman. Surat-surat itu akhirnya dibukukan dan diterbitkan terbatas. Tanpa mengurangi rasa hormat atas jasa-jasa besarnya, barangkali itulah salah satu bacaan mengenai bagaimana manusiawinya seorang pahlawan besar Sjahrir.

Ketidaksempurnaan memang sering kali menjadi ganjalan. Di kehidupan sehari-hari bahkan terkadang kita suka menjadi manusia yang lain, atau setidaknya menjadi diri sendiri tetapi dengan sisi-sisi buruk yang ditutup-tutupi. Sudah kodratnya manusia tidak suka kejelekannya diumbar. Tetapi, bisa saja kita menyembunyikan kelemahan kita di depan orang-orang yang kita hormati dan cintai, tapi lain waktu kelemahan kita akan terungkap juga.


Demi Allah, seandainya mereka mengetahui jeleknya hatiku 
Niscaya seorang yang bertemu denganku akan enggan salam padaku  
Mereka akan berpaling dariku dan bosan berteman denganku 
Aku akan menjadi hina setelah mulia 
Tetapi Engkau menutupi kecacatan dan kesalahanku  
Dan Engkau bersikap lembut dari dosa dan keangkuhanku 
Bagi-Mu lah segala pujian dengan hati, badan dan lidahku 
Sungguh, Engkau telah memberiku nikmat yang begitu banyak 
Tetapi aku kurang mensyukuri nikmat-nikmat tersebut 

Nuniyah al-Qothoni hal. 9

Kehidupan nyata bukan seperti film drama yang menggambarkan hubungan cinta dua orang kekasih adalah sakramen yang sakral, suci, romantis, dan nihil akan kekonyolan. Yang seperti itu hanya ada di drama Korea atau Thailand, yang durasinya tak lebih dari dua jam. Di kehidupan nyata, memperdengar kentut masing-masing di hadapan pasangan seharusnya adalah hal yang wajar, begitu juga dengan mengupil, mendengkur, dan hal-hal bodoh lainnya. Adakah hal yang seperti itu kita temui pada dua orang yang berpasangan dalam film-film drama?  Itu satu contoh saja, belum yang lain. Nantinya kehidupan nyata bukanlah perkara apa yang kita bayangkan, tetapi perkara apa yang kita lakukan dan rasakan, yang pastinya tidak mulus seperti mimpi dan khalayan.

Ketidaksempurnaan adalah kewajaran. Tapi bukan berarti melakukan kesalahan adalah hal yang lazim dilakukan, bukan begitu maksudnya. Setiap orang dituntut melakukan segala hal sesuai ketentuan yang digariskan, tetapi jika toh karena satu atau lain hal ia tidak bisa melakukannya dengan sempurna, di titik itu kita harus paham begitulah manusia, pasti ada cacatnya. Maka, kita harus mengantisipasi hal-hal yang demikian, termasuk jika yang melakukan kesalahan itu adalah diri kita sendiri.

You Might Also Like

0 komentar