Pendekar Tongkat Emas: Tetek Bengek Dunia Persilatan dan Eksplorasi Alam Sumba

Kamis, Desember 25, 2014

Nama Mira Lesmana dan Riri Riza sebagai produser adalah jaminan bahwa film Pendekar Tongkat Emas (The Golden Cane Warrior) adalah film yang layak ditunggu di penghujung tahun 2014 ini. Film ini benar-benar digarap serius dengan nama-nama expert di belakangnya.

Poster Pendekar Tongkat Emas — inioke.com

Mira menggandeng Ifa Isfanyah, yang pernah menyutradarai film berlatar jadul: Sang Penari, sebagai sutradara, juga Seno Gumira Adjidarma, penulis Pendekar Naga Bumi, sebagai penulis skenario, dan Xinxin Xiong, penata koreografi laga dan body double aktor kung fu Jet Lee, sebagai pelatih koreografi laga pemain, juga sederet casts papan atas yang terlibat di dalamnya. Ditambah lagi film ini mengangkat tema persilatan yang telah lama tidak beredar di perfilman Indonesia.

Eva Celia (Dara), Reza Rahadian (Biru), Tara Basro (Gerhana), Aria Kusumah (Angin), dan Nicholas Saputra (Elang) beradu akting dengan aktor dan aktris kawakan seperti Christine Hakim (Cempaka) dan Slamet Rahardjo (Dewan Datuk Bumi Persilatan). Film ini sendiri berkisah seputar dendam, ambisi, kekuasaan, dantentu sajapercintaan.

Kisah dimulai dari Cempaka yang membesarkan keempat muridnya yaitu Biru, Gerhana, Dara, dan Angin. Cempaka merupakan pendekar yang amat disegani di dunia persilatan, namun ia memilih menepi dari hingar bingar pertarungan dengan membubarkan padepokan yang ia pimpin dan memilih tinggal bersama empat orang murid pilihannya di sebuah gubuk reot sambil menunggu ajal.

Cempaka harus mewariskan sebuah pusaka tongkat emas beserta jurus pamungkas "tongkat emas melingkar bumi" kepada salah seorang muridnya demi terpeliharanya kedamaian di dunia persilatan. Masalah muncul ketika Cempaka memilih Dara sebagai pewaris pusaka dan jurus pamungkas darinya. Keputusan Cempaka ini membuat dua murid terkuatnya, yaitu Biru dan Gerhana meradang. Mereka berdua berusaha merebut tongkat emas tersebut. Tidak hanya itu, Biru dan Gerhana yang tidak lain adalah anak dari pendekar-pendekar yang telah dibunuh oleh Cempaka, ingin menuntut dendam atas kematian orang tuanya.

Tidak sulit menebak jalan cerita. Seperti film-film silat klasik, konfilk perebutan kekuasaan dan dalam hal ini pusaka, menjadi sajian utama. Lalu seperti biasa, kebajikan akan selalu menang melawan kejahatan. Cukup sudah. Tetapi kekuatan film ini justru bukan terletak pada cerita, tetapi ada pada dialog, aksi-aksi laga, dan tentu saja setting yang sangat menawan, dari keindahan alam, rumah-rumah dan desa-desa buatan yang terlihat natural dan dibuat cukup detail. Lanskap alam Sumba dipilih sebagai setting film ini. Pemandangan indah savana Sumba, beserta sungai dan hutan berserak di sepanjang film dan tentu saja menimbulkan decak kagum penonton. Tak heran jika anda akan menjadi berhasrat menjadikan Sumba sebagai destinasi wisata setelah menonton film ini.

Lanskap alam Sumba — cekricek.co.id

Para tokoh berhasil membawakan dialog-dialog yang sebenarnya amat baku. Tapi toh peran yang baik membuat saya hampir-hampir lupa betapa bakunya dialog film ini. Dialog-dialog yang baku nan elegan memang menjadi nafas tersendiri dalam film-film silat.

Pujian harus disematkan pada Reza Rahardian (Biru) dan Tara Basro (Gerhana). Dengan pengembangan karakter yang baik keduanya sukses berperan sebagai tokoh antagonis. Tokoh Biru sendiri digambarkan sebagai sosok pendekar yang ambisius, haus kekuasaan, dan sering menggunakan cara-cara licik untuk merebut kekuasaan dari para pendekar-pendekar lain. Sementara itu Gerhana yang menjadi pendamping setia Biru berhasil mencuri perhatian penonton dengan sosoknya yang tenang dan lembut namun penuh akal bulus. Senyumannya yang manis tapi sinis dan tengil memberikan warna pada karakternya.

Sebaliknya, tokoh Dara sebagai protagonis utama justru hanya terlihat apa adanya. Pengembangan karakter yang kurang membuat tokoh Dara yang digambarkan sebagai sosok wanita lemah namun ulet terlihat tenggelam di dalam cerita. Berbeda dengan Biru dan Gerhana yang memiliki background story sebagai pesakitan anak musuh-musuh Cempaka, Dara tidak memiliki latar belakang yang jelas. Sesuatu yang membuat kita bertanya-tanya, apa istimewanya gadis lemah ini hingga menjadi murid pilihan Cempaka?

Dara dibantu oleh Angin yang berada dipihaknya, lalu mereka berdua dibantu oleh Elang yang berperan penting dalam membantu Dara menyelesaikan segala kekacauan yang terjadi di dunia persilatan pasca Biru berkuasa. Kemunculan tokoh Angin merupakan momen terbaik dalam film ini. Sebagai seorang bocah yang berjiwa besar, ia mencuri perhatian penonton dengan aksi-aksi heroiknya untuk membantu dan bahkan menyelamatkan nyawa Dara. Jelas bahwa sosok Angin berandil dalam pengembangan karakter tokoh Dara yang apa adanya. Namun, sayang Angin tidak ikut dalam arus utama cerita. Kemunculannya hanya sebatas pertengahan film.

Kutipan Angin yang amat berkesan adalah:

"Jiwa besar tak menginginkan apa-apa meski tahu mampu mendapat segalanya. Jiwa kerdil menginginkan segalanya meski tahu tak mampu mendapat apa-apa."

Pada akhirnya, Elang, sosok misterius yang datang tiba-tiba, membantu Dara merampungkan misi untuk menguasai jurus pamungkas tongkat emas melingkar bumi dan merebut pusaka tongkat emas dari Biru dan Gerhana. Aksi laga Elang-Dara melawan Biru-Gerhana di akhir cerita adalah aksi laga terbaik di film ini, serta menyempurnakan adegan-adegan laga campuran pencak silat dan wushu yang sedikit terlihat kaku di awal-awal film. Namun sayang memang, walaupun pertarungan akhir begitu menawan, cerita seperti ditutup terlampau cepat dan terburu-buru. Bahkan peran Slamet Rahardjo, juga Prisia Nasution dan Darius Sinathrya yang muncul di setengah akhir film tidak cukup dieksplor. Berbeda dengan Christine Hakim yang sukses membuat cerita menjadi hidup di awal, meskipun kemunculannya tidak sebanyak tokoh-tokoh utama dan tidak berada pada arus utama cerita.

Seperti cerita-cerita laga pada umumnya, film ini juga dibumbui benih-benih asmara yang tumbuh antara Dara dan Elang, namun justru terkesan dipaksakan. Bumbu cinta yang lebih natural justru ada pada Biru dan Gerhana.

Dengan segala kekurangan dan kelebihannya Pendekar Tongkat Emas masih sangat layak dijadikan pilihan untuk ditonton di penghujung tahun. Kita boleh menggerutu karena cerita yang seperti ditekan durasinya atau karena pemeran seperti Eva Celia yang terlalu kalem, manis, dan amat bule untuk berperan sebagai seorang pendekar, tetapi seperti yang dibahas di awal, jika toh ada beberapa tokoh yang dianggap kurang maksimal, kekuatan film ini ada pada dialog dan setting-nya.

Terakhir, sulit membayangkan film ini dibiarkan beredar tanpa adanya rencana untuk dibuatkan post-sequel-nya. Semoga saja.

You Might Also Like

4 komentar

  1. ga tahu nih masi ada dibioskop ngga. coba deh :)

    BalasHapus
  2. supernova dong il, belom sempet nonton, tp uda baca novelnya nih

    BalasHapus
  3. kata orang film supernova jelek, ngga sebagus novelnya. begitu sih kata mereka.. belom nonton gua. hehe.

    BalasHapus