Kalibata Minggu Pagi

Rabu, November 12, 2014

Jakarta adalah kota yang punya pemukiman rapat-rapat, ruang hijau yang sedikit tapi luas, pusat perbelanjaan yang banyak, lalu lintas yang padat, akrivitas penduduk yang ramai di siang hari, dan juga warga yang berbicara dengan logat betawi yang amat kental. Jakarta di mata saya adalah Kalibata dan sekitarnya yang saya pernah sambangi. Sebatas ruang itu sahaja yang saya tahu.

Sudah setahun lebih saya meninggalkan Kalibata, tempat mukim selama sebulan di Jakarta. Pertengahan Agustus hingga pertengahan September tahun lalu saya menjalani kerja praktek di sebuah perusahaan EPC (Engineering, Procurement, and Construction) yang terletak di sekitar area Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Hari Kamis, 15 September 2013, pukul setengah delapan pagi saya dan Irfan Yahya sudah masuk gerbang perusahaan. Pak satpam yang ramah dan berbadan tegap menghentikan langkah kami sejenak agar mengisi absensi dan menerima sematan kartu identitas sementara. Setelah melewati pemeriksaan di pos pengamanan, atas arahan pak satpam kami masuk gedung terdepan perusahaan dan duduk di lobi, menunggu seorang dari Divisi Pendidikan perusahaan. Kami telah membuat janji sebelumnya.

Pertemuan pagi itu menjadi titik awal kami untuk menjalani kerja praktek. Lain halnya dengan teman-teman kami yang lain, kami tidak melaksanakan kerja praktek di tempat proyek atau tempat produksi, tetapi di kantor dengan tugas utama menyelesaikan kasus-kasus keteknikan menggunakan software. Enak? Tidak juga. Kerja di depan PC juga kadang-kadang membutuhkan waktu yang lama. Biasanya saya berangkat ke kantor pukul delapan atau sembilan pagi, lalu pulang sehabis maghrib, kadang hingga larut pukul sembilan atau sepuluh malam.

Sejujurnya, sebulan waktu kerja praktek amatlah kurang. Saya mampu menyelesaikan tugas kerja praktek yang diberikan oleh pembimbing, tapi laporan tak bisa saya berikan di penghujung kerja praktek. Saya juga tak sempat mempresentasikan hasil kerja praktek karena waktu yang sangat sedikit dan saya harus segera kembali ke kampus.

Kata rekan-rekan dan atasan yang bekerja di kantor tersebut, waktu sebulan masih sangat kurang, bahkan untuk belajar satu software engineering, sementara saya belajar dua software sekaligus dan mengerjakan dua tugas. Awalnya pembimbing saya menyuruh saya mengerjakan satu tugas menggunakan satu software saja. Tetapi saya menuntut diri--selain juga atas saran Mas Indra Cahyono, senior saya yang bekerja di sana--agar juga belajar satu software lagi dengan meneruskan ke tugas yang ke dua. Setali tiga uang, pikir saya. Akhirnya saya bisa mendapat ilmu baru dari tugas-tugas yang saya kerjakan, walaupun laporan dan presentasi terbengkalai. Hingga sekarang pun laporan tak pernah saya kirim, walaupun sudah lama selesai. Pembimbing pun tak pernah meminta atau menanyakan kepada saya. Ya mungkin saja bapak pembimbing insyaf dan maklum.

Teman-teman dekat saya tahu, bagaimana saya sering agak susah menjalin komunikasi dengan seseorang yang berada pada hierarki lebih tinggi. Biasanya saya agak susah menjalin komunikasi dengan senior atau dosen, dan dalam hal ini atasan. Tapi akhirnya, selain juga banyak belajar dari proses kehidupan di kampus, saya juga dituntut belajar hal-hal kecil seperti itu sewaktu melakukan kerja praktek. Setidaknya saya merasakannya.

Saya beruntung bisa menjajal suasana bekerja di sana, menjadi orang kantoran selama sebulan. Saya juga jadi punya pengalaman berinteraksi dengan orang-orang kantoran beserta segenap perangkat yang ada di kantor, tahu bagaimana tekanan pekerjaan, dan tahu bagaimana rutinitas harian maupun mingguan seorang pekerja kantoran.

Punya waktu sebulan menjadi orang kantoran yang sibuk membuat saya tahu bahwa waktu senggang adalah surga yang tidak terbantahkan, baik waktu senggang harian maupun mingguan. Waktu-waktu istirahat makan siang biasanya ditunggu-tunggu, juga libur akhir pekan. Kecermatan memanfaatkan waktu-waktu senggang yang terbatas itu juga harus diperhatikan. Misalnya, atas tingginya harga makanan di area kantor, pengalaman makan di warung-warung makan terpencil yang agak jauh dari kantor tapi berharga miring adalah pengalaman yang asyik. Di sekitar Jalan Kalibata Timur 1 ada warung Bu Tum yang jadi favorit para pencari makanan murah. Walaupun letaknya agak jauh dari kantor, tapi selalu ramai.

Untuk waktu senggang mingguan, memanfaatkan waktu akhir pekan dengan cermat juga menjadi suatu keharusan. Selama di Kalibata, pada hari Sabtu biasanya saya tidur sepuasnya, lalu pada hari Minggu menonton film ke bioskop di Kalibata Mall, atau jalan-jalan ke toko buku. Sebanyak empat kali sebulan saya menonton film di tempat itu, dan juga membeli beberapa buku di toko buku Eureka di Jalan Raya Pasar Minggu atau di Gramedia Kalibata Mall. Selain itu, jika ada siaran bola malam hari, saya biasanya ikut nimbrung menonton TV bersama bapak-bapak komplek di pos ojek dekat gerbang Jalan Kalibata Timur 1.

Lain saya, lain Irfan, ia memilih menghabiskan waktu akhir pekan untuk mengunjungi beberapa tempat wisata, seperti Monas dan selainnya saya lupa. Ia juga suka mengajak saya, tapi saya menolak karena saya pikir waktunya terlalu sempit untuk berkeliling seperti itu. Tapi nyatanya Irfan berhasil juga. Begitulah liburan bagi kami berdua selama kerja praktek. Simpel.

Di minggu awal dan akhir, kami juga berkunjung ke tempat paman Irfan di Kampung Bojong, Tengerang. Sebelumnya, kami juga tinggal selama dua hari di sana. Irfan punya dua paman yang rumahnya bersebelahan di sana. Kediaman paman Irfan adalah tempat yang kami kunjungi pertama sebelum menginjakkan kaki di Jakarta. Kami banyak dibantu oleh kedua paman Irfan. Selain diberi tempat tinggal sementara sekaligus jamuannya, kami juga dikenalkan jalan-jalan dan trayek angkutan umum yang harus kami lalui selama di Jakarta.

Kata orang, Jakarta Selatan adalah fragmen yang berbeda dari Jakarta yang lain. Jakarta Selatan adalah tempat yang lebih teduh ketimbang Jakarta yang lain, walaupun tak sesejuk pegunungan tentunya. Begitupun Kalibata, yang terletak di Jakarta Selatan. Jika Minggu pagi tiba biasanya saya akan keluar untuk jalan-jalan di samping TMP Kalibata untuk menghirup udara segar yang jarang ditemui di hari-hari kerja. Mungkin udara Minggu pagi di Kalibata adalah salah satu udara terbaik yang bisa saya hirup selama di Jakarta.

Sehabis itu biasanya saya makan pagi di warung kecil mirip angkringan. Di Jalan Kalibata Timur 1 ada beberapa warung kecil langganan saya selama mukim di sana. Biasanya saya menyantap sebungkus lontong dan satu atau dua mendoan tiap pagi sebelum pergi ke kantor. Tetapi di Minggu pagi biasanya cuma ada satu warung yang buka dan saya akan menyantap lontong lebih banyak daripada di hari-hari biasanya. Selagi sepi, selagi sendiri. Kesunyian Minggu Pagi di Kalibata dengan lontong, mendoan, beserta udaranya yang sejuk jadi oase di tengah kesibukan kerja praktek yang menyebalkan. Ia adalah fragmen yang lebih kecil dari Jakarta Selatan, bahkan jauh lebih kecil dari Kalibata. Ia sangat menyenangkan.

You Might Also Like

1 komentar

  1. ini kalibatanya yang deket makam bukan?
    klo minggu pagi deket makam rame tuh ada pasar kaget

    BalasHapus

Daftar Bacaan

Like us on Facebook