Menyoal Korelasi Kesungguhan Ibadah dan Preferensi Jodoh

Rabu, Oktober 29, 2014


"Wanita-wanita yang tidak baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita-wanita yang tida baik (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (yaitu Jannah)." (An-Nur: 26)

Ayat ke-26 dalam surat An-Nur ini sangat populer di berbagai platform media online, dan sering pula dimunculkan dalam acara-acara motivasi dengan sasaran anak muda. Dulu saya memahami ayat ini sesederhana, sesempit, dan sedangkal bahwa seorang lelaki yang rajin beribadah dan menuntut ilmu agama akan lebih mudah memperoleh pasangan dari kalangan wanita shalihah di kemudian hari. Namun, hakikatnya lain. Dalam Asbabun Nuzul, surat ini turun berkenaan dengan kisah Aisyah dan Shafwan yang dituduh berbuat zina. Kisah ini begitu menyentuh hati. Ayat ini turun untuk menunjukkan kesucian Aisyah dari segala tuduhan itu.

Dalam Lubaabut Tafsiir, sebuah ringkasan tafsir Ibnu Katsir, yang ditulis oleh Dr. Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh, dimaktub sebuah perkataan Ibnu Abbas berkenaan ayat ini. Ibnu Abbas berkata: "Maksudnya, kata-kata yang buruk hanya pantas bagi laki-laki yang buruk. Dan laki-laki jahat, yang pantas baginya hanyalah kata-kata yang buruk. Kata-kata yang baik hanya pantas bagi laki-laki yang baik. Dan laki-laki baik, yang pantas baginya hanyalah kata-kata yang baik. Ayat ini turun berkenaan dengan Aisyah dan ahlul ifki." Intinya, tuduhan keji yang ditunjukkan kaum munafik kepada Aisyah sebenarnya lebih pantas ditujukan kepada mereka sendiri.

Lebih lanjut lagi dalam Lubaabut Tafsiir, dimaktub penjelasan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam atas perkataan:

"Wanita yang jahat hanya pantas bagi laki-laki yang jahat dan laki-laki yang jahat hanya cocok bagi wanita yang jahat. Wanita yang baik hanya layak bagi laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik hanya patut bagi wanita yang baik." 

Abdurrahmah bin Zaid berkata, ayat ini merupakan konsekuensi lazim, yaitu tidaklah Allah menjadikan Aisyah sebagai istri Rasulullah melainkan ia adalah seorang wanita yang baik, karena Rasulullah adalah manusia yang paling baik. Sekiranya Aisyah tidak baik tentu secara syar'i dan kauni tidak pantas bagi Rasulullah.

Maka, sejauh yang saya pahami, ayat ini bukan menunjukkan keniscayaan jika seorang lelaki baik-baik akan otomatis berjodoh dengan seorang wanita baik-baik. Tentu bukan. Hanya saja, tentu seorang yang baik dan berilmu akan memiliki preferensi dalam memilih dan menentukan siapa yang akan dipinangnya sesuai dengan keilmuannya. Seseorang dari kalangan baik-baik tentu akan memiliki kecenderungan untuk memilih yang serupa dengannya, ia akan cenderung memilih yang baik pula.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Bukhari, Rasulullah bersabda: "Ruh-ruh itu seperti tentara yang berhimpun yang saling berhadapan. Apabila mereka saling mengenal (sifatnya, kecenderungannya dan sama-sama sifatnya) maka akan saling bersatu, dan apabila saling berbeda maka akan tercerai-berai."

Dalam esainya, Ummu Abdillah Al-Wadiyyah menukil perkataan Imam An-Nawawi mengenai penjelasan hadits ini yang termaktub dalam kitab Syarh Muslim.

Imam An-Nawawi mengatakan dalam Syarh Muslim (16/ hadits no. 2638): "Para ulama mengatakan, maknanya mereka adalah sekelompok manusia yang berkumpul atau manusia yang bermacam-macam lagi berbeda-beda. Ruh-ruh itu saling mengenal karena suatu perkara yang Allah menciptakan ruh-ruh itu di atasnya. Ada yang mengatakan, karena mereka dijadikan Allah di atas sifat-sifat yang saling mencocoki dan tabiat yang saling bersesuaian. Ada yang mengatakan, karena mereka diciptakan secara bersama kemudian jasad mereka saling berpisah, sehingga yang mencocoki tabiat yang lain, dia akan bersatu dengannya. Dan yang saling berjauhan tabiatnya maka dia akan lari dan menyelisihinya. Al-Khatthabi dan lainnya berkata bahwa persatuan mereka adalah kebahagiaan atau kesengsaraan ketika Allah menciptakan mereka pada awalnya. Dan ruh-ruh itu terbagi menjadi dua kelompok yang saling berlawanan, jika jasad-jasad itu saling bertemu di dunia maka mereka akan bersatu atau berselisih sesuai yang mereka diciptakan di atasnya. Sehingga orang yang baik cenderung kepada orang yang baik, dan orang yang jahat juga cenderung kepada orang yang jahat."

Benar bahwa orang-orang baik akan memiliki kecenderungan terhadap orang yang mencocoki dirinya atau yang memiliki kesamaan dengannya. Tetapi tekun dalam peribadatan kepada Allah dengan tujuan untuk mendapatkan jodoh yang baik tentu adalah sesuatu yang salah. Ibadah dan ketaatan dalam agama tidak lain hanyalah ditujukan kepada Allah semata, bukan ditujukan untuk urusan duniasemacam jodoh misalnya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Amirul Mukminin Umar bin Khatthab, Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan, maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak dia raih atau karena wanita yang ingin dia nikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrah kepadanya."

Imam An-Nawawi dalam Syarh Muslim mengatakan bahwa sebab keluarnya hadits ini adalah kisah tentang seorang lelaki yang berhijrah ke Madinah hanya untuk menikahi seorang wanita yang bernama Ummu Qais, maka diapun dipanggil dengan sebutan Muhajir Ummu Qais (orang yang berhijrah karena Ummu Qais). Kisah Muhajir Ummu Qais sendiri terdapat dalam hadits dari Ibnu Mas'ud.

"Barangsiapa yang berhijrah untuk mengharapkan sesuatu maka sesungguhnya bagi dia hanya sesuatu tersebut. Seorang lelaki telah hijrah untuk menikahi wanita yang bernama Ummu Qais, maka diapun dipanggil dengan nama Muhajir Ummu Qais." (HR. Ath-Thobrani)

Hadits Umar bin Khatthab di atas adalah dalil dari kaidah umuru bimaqoshidiha (setiap perkara tergantung dengan maksudnya/ niatnya), begitu juga dalam hal ibadah. Setiap ibadah hanya akan menjadi amal shalih jika hanya diniatkan untuk Allah dan Rasulnya, dan ibadah akan rusak tatkala pada pelaksanaannya terdapat niat selain untuk mengharap ridho Allah. Dalam hadits tersebut dicontohkan cobaan dunia dan wanita dapat merusak niat beribadah. Maka, jika ibadah diniatkan untuk seseorang atau untuk mengejar dunia, hinalah ia dan rusaklah amalannya. Abdurrahman bin Nashir As-Sa'diy berkata: "Niat adalah syarat bagi seluruh amalan, pada niatlah benar atau rusaknya amalan."

Semua peribadatan kepada Allah, tidak lain hanyalah untuk mengharap ridho-Nya. Maka tidak boleh diniatkan untuk urusan dunia. Sholat malam, puasa, dan ibadah semisalnya tidak boleh diniatkan untuk hal-hal duniawiseperti agar meraih jabatan atau agar lulus ujian, demikian juga wanita atau jodoh, ia tidaklah boleh dijadikan sebagai tujuan dalam melakukan ibadah. Merasa akan memperoleh jodoh yang baik karena telah melakukan amalan ibadah yang baik juga tidak boleh. Ibadah adalah ibadah, mencari jodoh adalah mencari jodoh. Ia dua hal yang berbeda.

Sederhananya jodoh didapat dengan menentukan kriteria, menemukan orang yang sesuai dengan kriteria dengan mempergulatkan logika dan perasaan, menjalani tahap perkenalan, menggali informasi yang sekiranya diperlukan, lalu peminangan. Tidak lupa pula ikhtiar itu disertai dengan doa. Sementara itu, ibadah secara umum dilakukan dari sejak mengenal ilmu sampai mati, dan ditujukan untuk mengharap ridho Allah. Begitulah, mblo.

ps: Esai ini utamanya ditujukan sebagai pengingat diri sendiri. Jikalau bermanfaat bagi liyan, semoga lebih baik.

You Might Also Like

3 komentar

  1. nyari jodoh itu ga kayak bikin mie instant yang 3menit siao di santap, tapi butuh waktu dan proses supaya ga nyesel di kemudian hari

    BalasHapus
  2. Baru sadar kalau ente, bro, religius orangnya.

    Sippp pencerahannya :)

    BalasHapus