Tahun Kebangkitan Serie A?

Minggu, September 21, 2014

Hari ini pertama kalinya saya menonton Roma bertanding secara penuh musim ini. Pertama kalinya pula saya menulis di blog dari smartphone. Ada satu hal yang saya rasa sangat menarik di pertandingan Roma melawan Cagliari yang berkesudahan 2 - 0 untuk Roma. Umpan-umpan lambung yang beberapa kali dipertontonkan duo pivot Roma, De Rossi dan Nainggolan, begitu menawan terutama di awal-awal pertandingan.

Gervinho yang lepas dari jebakan offside menerma umpan parabola dari lini ke dua. Gervinho tak punya kemampuan kontrol bola yang baik, tapi ia masih mampu mengirim umpan ke Florenzi. Florenzi yang sebelumnya menjadi assistant gol Destro, berhasil menambah pundi-pundi golnya.

Di menit-menit selanjutnya, Nainggolan beberapa kali mencoba melepaskan direct pass ke depan. Hampir selalu ada peluang dari kerja Nainggolan, ditambah lagi para pemain belakang Cagliari kerap berdiri sejajar dan tak melakukan pressing ketat pada pemain-pemain depan Roma.

Alessandro Pirlo adalah sosok deep-lying playmaker yang dikenal punya kemampuan mengirim umpan parabola yang sangat baik. Ia bahkan dikultuskan sebagai pemain terbaik pada role yang ia mainkan itu, meskipun paska kepindahan ke Juventus beberapa tahun lalu ia sedikit didorong ke depan di belakang striker.

Meskipun Nainggolan punya role yang berbeda dengan Pirlo--bahkan umpan-umpan panjang Nainggolan itu pun mungkin agak janggal jika disebut umpan parabola, ia membuktikan kualitasnya sebagai holding midfielder yang bisa mengaitkan dua lini yang ia jembatani dengan umpan-umpan panjangnya. Di pertandingan yang baru berakhir, ia bahkan mampu mengesampingkan peran De Rossi yang bermain sebagai double pivot bersamanya.

Saya memang tak rutin menonton Serie A. Saya juga hampir-hampir tak punya bahan jika diajak diskusi soal Serie A. Tapi dari pertandingan tadi, kita bisa melihat sebuah sisi Serie A: gelandang yang bertipikal bertahan punya peran besar mengaitkan lini belakang dengan lini depan. Sebuah pemandangan yang saya rasa langka di Liga Inggris, yang mana peran individu, terutama pemain-pemain sayap lebih banyak di andalkan.

Semenjak duopoli Roma dan Juventus musim lalu, Serie A memang tengah disorot. Di tambah tim-tim lain di luar dua tim itu juaga melakukan perombakan besar-besaran. Inilah saatnya melihat Serie A kembali bergeliat. Mengaharapkan wakil-wakil Serie A melaju jauh di Liga Champions untuk mendongkrak rating Serie memang agak sulit. Tapi melihat liga domestik Italia kembali berjaya tentu bukan hal mustahil.

Di luar itu juga ada harapan terjadinya pengulangan dongeng giant killer di Liga Champions oleh tim-tim kelas dua Eropa. Sebelumnya ada Athletico Madrid dan Dortmund yang jadi aktornya. Musim ini Roma dianggap mampu meneruskan dongeng itu sebagai wakil Italia. Tahun ini benar-benar sebuah momentum bagi Serie A.

You Might Also Like

0 komentar

Daftar Bacaan

Like us on Facebook