Soal Erfas dan PR Matematika Adiknya

Selasa, September 23, 2014

Rekan yang kami kenal humoris, kritis, sederhana, punya IPK lumayan, amat Chelsea, dan punya banyak bahan bicara untuk dibikin tawa itu jadi obyek pembicaraan dua hari belakangan. Erfas Maulana, rekan yang saya tahu update status di Facebook mengenai 10 soal PR matematika adiknya beberapa hari lalu yang 8 diantaranya disalahkan oleh guru--dalam pandangan Erfas kesemua soal itu harusnya benar--ceritanya diangkat media.

Dalam kaidah penulisan tulisan jurnalistik, dikenal beberapa kriteria yang dapat menentukan nilai kelayakan berita. Dalam kasus Erfas, karena ia rekan kami di jurusan, maka berlaku kriteria proximity (kedekatan). Artinya, berita tentang seseorang atau suatu hal yang dekat dengan pembaca berita akan lebih menarik untuk dibaca. Maka wajar jika berita tentang PR adik Erfas yang tersebar menarik bagi kami. Tak heran, banyak rekan kami yang men-share berita-berita tentang PR adik Erfas ini di akun media sosial, begitu juga dengan orang-orang lain yang kenal dekat dengan Erfas. Ini lumrah.

Bagi saya kasus Erfas ini tidak hanya mengandung kriteria proximity, tetapi juga mengandung kriteria unusualness (ketidakbiasaan). Unsur unusualness yang saya maksud adalah: guru yang harusnya pintar bisa salah fatal mengoreksi soal matematika sederhana anak kelas 2 SD. Maka, berita ini pun tersebar luas karena, dalam pandangan saya, mengandung unsur unik atau unusualness.

Tapi sayangnya, sebagian orang yang menyebarkan tautan-tautan tentang berita tersebut menyertakan caption-caption yang cenderung salah tujuan dan beberapa malah terdengar provokatif. Beberapa orang seperti mendukung Erfas untuk meneruskan--apabila tidak boleh dikatakan memperpanjang--masalah ini. Padahal ia boleh dibilang telah menuntaskan masalah ini.

Ia mengatakan telah menemui guru yang bersangkutan, berdiskusi dengannya, dan bahkan ia juga meminta maaf padanya, meskipun dalam pandangan saya Erfas tidaklah sepenuhnya salah. Guru pun tak menyalahkan Erfas.

Erfas awalnya merasa gerah karena 8 dari 10 soal PR matematika yang ia ajarkan pada adiknya disalahkan oleh guru hanya karena berbeda konsep pengerjaan. Menurut guru, sesuai pada buku, 3x4=4+4+4, sementara itu menurut Erfas hal itu sama saja dengan 3x4=3+3+3+3 karena hasil pengerjaannya sama. Dalam pernyataannya, Erfas mengatakan tidak ingin adiknya down hanya gara-gara PR yang sudah benar disalahkan oleh guru dan si adik tak tahu di mana letak kesalahannya. Tentu menjelaskan konsep matematika seperti itu kepada adik Erfas yang baru kelas 2 SD tidaklah mudah. Lalu ia memposting hal ini di Facebook, dan status Facebook-nya diangkat media.

Berita yang menyebar ini lalu 'berbuntut panjang' karena ada penggeneralisiran. Ada yang menganggap opini Erfas mengenai kondisi personal sang guru juga mencerminkan kondisi para pendidik di Indonesia saat ini. Juga, seperti pada kasus Erfas, guru-guru di Indonesia tidak cukup mampu menjelaskan konsep matematika seperti itu pada anak-anak belia, dan masih banyak lagi. Apakah hal ini salah? Bisa jadi salah, bisa jadi tidak. Tetapi bagi saya, menuntut Erfas untuk terus memperpanjang masalah ini tidaklah tepat, apalagi menyalahkannya karena konsep matematikanya yang tidak pas.

Meskipun pada akhirnya berita ini diangkat oleh media, karena--barangkali--mengandung unsur unusualness (ketidakbiasaan), lalu mengundang pro dan kontra dari berbagai pihak, Erfas yang saya kenal bukanlah orang yang akan secara serta merta memanfaatkan hal ini untuk hal-hal remeh seperti mengharap disorot terus menerus oleh media atau dikultuskan sebagai pembuat opini yang vokal. Mendorongnya untuk terus menerus mempermasalahkan hal ini adalah sesuatu yang konyol, Guru yang bersangkutan pun saya yakin juga telah berinstropeksi atas kejadian ini. Pada intinya, masalah personal Erfas dengan sang guru telah usai.

Sungguh, ia yang saya kenal, adalah orang yang dewasa dan selalu mengedepankan berpikir luas. Buktinya ia mau berdiskusi dengan guru yang bersangkutan dan bukan memperpanjang masalah ini. Dalam setiap twit-twit dan status-status berisi kritikan atau humor yang kerap ia lontarkan di sosial media pun ia selalu 'berhati-hati' dan selalu berbicara dengan dasar informasi.

Jika toh--seperti yang diberitakan--kemudian hari akan ada LSM, Kemendikbud, atau instansi manapun yang berniat 'memperpanjang' masalah ini, itu di luar kewenangan Erfas. Bisa jadi, berita ini juga akan 'mencambuk' pihak-pihak yang merasa terkait untuk berbenah diri. Tetapi, bagi saya Erfas telah menyelesaikan masalah ini dengan baik. Nama Erfas tak perlu digunjing terus menerus dan dipersalahkan, ataupun dikultus-kultuskan. Toh, ia sudah menyelesaikan masalah ini. He faced it like a true gent!

You Might Also Like

2 komentar

  1. oh initoh PR matematika yang lagi rame. Medianya aja kurang bahan berita makanya masalah kagak penting kayak gini di jadiin topic

    BalasHapus
  2. Bisa jadi. Tapi memang ada unsur unusualness disitu.

    BalasHapus