Jawa di Perantauan

Selasa, September 30, 2014

Orang Jawa tetaplah orang Jawa meskipun dibalut dengan tuxedo dan celana panthalon. Ia punya darah yang selamanya akan tetap sama. Kendatipun selera makan, bahasa, dan kebiasaan berubah, secara biologis ia adalah keturunan seorang Jawa dan pernah menghabiskan beberapa waktu hidup di pemukiman Jawa.

Di Semarang yang sepertinya adalah kota irisan berbagai budaya ini, saya hidup bersama orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda. Saya sangat menikmati menjajal berbagai dialog yang berbeda-beda dari macam-macam bahasa.

Di siang bolong tempo hari saya membaca essai yang menyoal orang-orang rantau, lebih tepatnya orang-orang rantau suku Jawa, yang kehilangan identitas budayanya setelah tinggal di Jakarta. Orang-orang yang lebih nyaman mengakrabi dan diakrabi dengan dialog Jakartanan ketimbang dialog bahasa daerahnya. Tapi bukan soal bahasa, itu bukan perkara utama, lebih dari itu mereka juga kehilangan kearifan yang biasa ia tunjukkan.

Bertepatan itu pula, kawan saya, Arena, pamitan merantau ke Jakarta. Seperti saya, saya yakin kawan-kawan saya termasuk Arena tahu betul bahwa Jakarta adalah gula-gula yang tak akan pernah putus didamba para pencari kerja. Tapi selaras dengan itu Jakarta tak akan pernah putus pula dicela atas ketidakramahannya pada orang-orang yang bermukim disana.

Sesak, macet, panas, dan dipenuhi wajah-wajah keletihan tiap sore hari. Begitulah gambaran kota Jakarta yang saya dapati selama beberapa minggu mukim disana.

Tapi bagi saya itu bukan soal. Yang lebih saya takutkan dari Jakarta adalah suatu waktu ia akan memaksa orang-orang rantau berubah. Kehilangan identitas budayanya. Lupa berbahasa daerah dan, dalam essai yang saya baca, lupa keramahan dan kearifan daerahnya karena terlalu lama jadi maniak kerja dan selalu ditekan pekerjaan.

Mungkin seperti anda, saya sangat benci dibilang: "Kamu sudah berubah!" dengan intonasi yang datar dan mimik wajah yang menunjukkan ketidaksetujuan. Sebagai seorang Jawa, lepas dari dialog Jawa bagi saya tak jadi soal, selama saya masih tahu bagaimana menempatkan bahasa saya. Tapi kehilangan identitas sebagai orang Jawa dengan segenap keramahan dan kearifannya, siapa yang ingin. Semoga saya tidak.

You Might Also Like

2 komentar

  1. Gw punya temen orang surabaya yang udah 10tahun tinggal di bandung. Jadi waktu itu teman gw (orang surabaya lainnya) lagi telponan dan temen gw yang lama di bandung tiba2 salah ucap. Dia ngucapin bahas sunda.
    Gw ga ga tau bahasa jawanya tapi klo ga salah artinya,
    Lo gimana sampe lupa bahas kampung sendiri

    BalasHapus
  2. ga masalah si. tapi jangan rubah perilakunya jadi yg ngga bener aja..

    BalasHapus