Berpola Pikir dan Berpengetahuan, dari Maba sampai Wisudawan

Minggu, September 07, 2014

Jum'at malam 5 September 2014, perempatan Pasar Jatingaleh masih sangat ramai. Baru beberapa menit lewat waktu Isya' saat itu, saya dan Mas Trio yang membonceng di belakang mengendarai sepeda motor. Ia cukup resah sewaktu kami bertemu dua orang polisi yang mengatur lalu lintas di perempatan. Maklum, ia tak pakai helm.


Tujuan kami adalah kediaman seorang insinyur yang menggelar 'pengajian' mengenai bisnis yang ia geluti bersama perkumpulan yang ia dirikan. Si Bapak Insinyur ini tajirnya bukan main. Ia membagi-bagi uang lima puluh ribuan kepada peserta yang hadir, "Yang di dalam dompetnya isinya kurang dari lima puluh ribu angkat tangan! Maju!" serunya. Lalu ia membagi-bagikan berlembar-lembar uang lima puluh ribuan yang ia punya. Si Bapak menceritakan kesuksesannya menggeluti bisnis properti, juga kawan-kawan seperkumpulannya yang telah sukses dalam binaannya. 

Di tengah-tengah pembicaraannya di serambil rumah yang di-set seperti aula pertemuan itu, ia menceritakan kedua anaknya yang akhirnya putus kuliah. Si Bapak sendiri yang menyuruh dua anaknya keluar dari kampus tempat mereka kuliah. Seorang anaknya kuliah di jurusan Teknik Arsitektur Undip, seorang lagi kuliah di jurusan Perikanan di kampus yang sama. Baginya uang bukan masalah. Kalau cuma karena untuk dapat pekerjaan dan jadi kaya, tak perlu kuliah, katanya. Makanya, kedua anaknya pun disuruhnya keluar dari kampus dan ia ajari berbisnis.  

Si Bapak mengungkapkan sebuah paradoks yang sudah sejak lama jadi pembenaran para milyuner untuk keluar dari bangku kuliah, berbisnis dan jadi kaya raya. Tetapi bagi saya kuliah tak melulu soal bagaimana memperlebar jalan menjadi kaya. Sekolah, kuliah, dan jalur-jalur pengajaran formal lainnya juga tak melulu soal menjadi cakap pada suatu bidang, memperoleh gelar, memperoleh pekerjaan, dan dibayar. Ada banyak hal yang sangat berarti dalam proses pendidikan yang saya jalani.

Jika ditarik garis waktu, pendidikan formal yang dikelola pemerintah secara resmi, sistematis, dan berjenjang mungkin dimulai sejak masa Politik Etis pada masa penjajahan Belanda, tepatnya pada awal abad 20. Gagasannya sendiri sudah muncul sejak beberapa tahun sebelumnya. Ialah Van Deventer, pemikir yang menuliskan beberapa catatan mengenai gagasan Politik Etis yang akhirnya diterapkan pemerintah kolonial Belanda di daerah jajahannya.

Dalam perkembangannya Politik Etis ini, terutama dalam bidang pendidikan, mengalami penyimpangan. Pemerintah kolonial kala itu menggunakan pendidikan formal bukan untuk mencerdaskan jajahannya, tetapi untuk mencetak tenaga-tenaga administratif, seperti juru tulis atau jaksa yang kemudian dipekerjakan di kantor-kantor atau departemen-departemen Belanda. Ketimbang mendatangkan ahli dari Belanda, tentu cara ini lebih 'ekonomis' karena para pekerja bisa dibayar lebih murah.

Namun, seiring lajunya waktu, sekolah-sekolah bikinan Belanda macam itulah yang juga turut andil mencetak generasi-generasi revolusioner. Sutan Sjahrir, yang kelak dikenal sebagai perdana menteri pertama Republik, adalah jebolan AMS (Algemene Middlebare School) di Bandung, sekolah yang harusnya mengantarnya menjadi jaksa. Namun tak dinyana-nyana, Sjahrir yang dibesarkan di lingkungan Belanda --ayahnya seorang jaksa tinggi di Jambi-- turut bergaul dengan orang-orang yang memiliki semangat kebangsaan. Suatu waktu ia diajak teman sekelasnya, Boediono, jalan-jalan di alun-alun dan mendengar pidato Dr Cipto Mangunkusumo, lantas ia tertarik dan nasionalismenya tumbuh. Ia pun ikut mendirikan perhimpunan Jong Indonesie di Bandung. [Anak Minang Jago Menyerang, 2009]

Saat melanjutkan kuliah di Belanda, ia mengenal lebih dalam berbagai perkumpulan pemuda yang lantas membawanya menjadi seorang sosialis. Hingga akhirnya ia memimpin Partai Pendidikan Nasional Indonesia atau PNI Baru sekembalinya ke tanah air, lalu menjadi perdana menteri pasca proklamasi dan wara-wiri mewakili negeri untuk berdiplomasi.

Ada contoh lain. Tan Malaka, tokoh komunis yang juga hidup satu jaman dengan Sjahrir dan karya-karyanya menjadi handbook pergerakan pemuda waktu itu, berpemahaman revolusioner sejak ia punya teman kos anak-anak kiri, Herman Wouters dan Van der Mij, tatkala menempuh pendidikan di Rijkweekschool di Kota Haarlem, Belanda. Mereka sering berdiskusi dan Tan juga sering ikut-ikutan membaca koran-koran 'kiri' seperti De Telegraf dan Het Volk. [Cita-cita Revolusi dari Tanah Haarlem, 2008]

Di kemudian hari, Tan dan SI Semarang mendirikan sekolah rakyat yang ia gunakan untuk mendidik kaum buruh agar bisa menghadapi kaum pemilik modal, dan juga untuk membantu pergerakannya. Suatu tindakan, yang membuat kita paham, bahwa pendidikan tak melulu untuk mencetak tenaga ahli dan dibayar secara profesional. Namun ada tujuan yang lebih mulia di sana.

Kedua tokoh di atas adalah contoh kecil, bagaimana pergaulan selama mengenyam pendidikan membuahkan pemikiran yang melekat dan berujung pada sikap politik keduanya, dan memberikan andil besar pada perjuangan bangsa pada waktu itu. Oleh karenanya, pendidikan akan membawa setiap insan belajar, berinteraksi, dan berkumpul, lalu pada akhirnya menimbulkan sikap kritis pada individu itu sendiri. Entah lewat pengajaran di ruang kelas, atau lewat pergaulan selama mengenyam pendidikan. Proses pendidikan juga seharusnya tak selalu dinilai dari gelar atau pekerjaan yang didapat peserta didik setamatnya belajar. Tapi juga sikap mental dan pemikiran yang mereka tunjukkan.

Remaja seumuran saya pasti juga merasakan hal yang sama. Sedikit atau banyak, pendidikan akan mengubah pola pikir. Bagi saya, lonjakan terbesar adalah saat kuliah. Tidak hanya di dalam ruang kelas, dari sekian organisasi yang saya ikuti dan dari berbagai macam orang yang saya ajak berdiskusi, kesemuanya juga memberikan pengalaman yang cukup berarti. Kuliah adalah tempat yang mampu meminiasi dan memberikan gambaran keadaan masyarakat luas. Ada banyak teman dari berbagai golongan dan kasta yang saya kenal. Jadi, bagi saya terlalu sayang jika masa-masa kuliah hanya dihabiskan untuk belajar ilmu-ilmu dari dosen saja. Selain dari pergaulan, di lingkungan kampus, akses untuk mendapatkan pengetahuan lebih luas juga sangat banyak.

Ada banyak cara untuk menjadi kaya, salah satu ikhtiarnya adalah dengan menjadi sarjana. Tapi bukan itu tujuan utamanya, melainkan mendidik anak bangsa untuk memiliki pengetahuan dan pola pikir agar lebih siap untuk dilepas di masyarakat. Toh dari sekian banyak ilmu kuliah dari maba sampai jadi wisudawan, tak semuanya bakal dipakai tatkala bekerja, tapi pola pikir dan sikap mental akan dipakai sepanjang hayat.

You Might Also Like

0 komentar