Surat untuk Wejdan Abu Shammala

Sabtu, Agustus 30, 2014


Bismillah,

Kepada Wejdan Abu Shammala, yang semoga anda dan saya senantiasa dimuliakan oleh Allah Azza wa Jalla, di Gaza.

Ibu Wejdan, sekiranya akan lebih nyaman bagi saya memanggil anda demikian. Apa kabar Ibu di sana? Semoga kesehatan dan keselamatan senantiasa Allah curahkan kepada Ibu beserta suami, serta ketiga anak-anak Ibu, Maryam, Rami, dan Hasan.

Ibu Wejdan, yang saya hormati. Beruntunglah bagi saya beberapa waktu lalu membaca cerita yang Ibu tulis di Washington Post mengenai apa yang Ibu alami di Gaza beserta anak-anak Ibu. Terenyuh saya membaca cerita Ibu. Saya tahu, akan berat bagi orang tua manapun menghidupi anak-anaknya dan membesarkan mereka dalam kondisi perang semacam itu. Terlebih lagi sebelumnya Ibu dan anak-anak Ibu menjalani kehidupan yang lebih baik di Jerman, lalu Ibu kembali ke Gaza karena harus merawat orang tua Ibu.

Pasti bukan hal yang mudah bagi Ibu untuk membiasakan anak-anak Ibu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru semacam di Gaza. Tapi saya yakin suatu waktu anak-anak Ibu akan mengerti, pilihan ini Ibu ambil sebagai bentuk pengabdian yang Ibu lakukan untuk orang tua Ibu yang sakit keras. Ini adalah wujud kasih sayang yang, saya yakin, suatu waktu anak-anak Ibu akan mengerti bahwa mereka juga mendapatkannya dari Ibu. O, iya Bu, tak lupa saya juga berdoa atas kesembuhan orang tua Ibu yang sekarang sedang sakit. Semoga Allah segera mengangkat penyakitnya dan memberinya kesembuhan. Amin.

Ibu Wejdan. Seperti yang Ibu ceritakan, mungkin Maryam, Rami, dan Hasan masih terlalu belia untuk mengerti semua prahara ini. Ibu sempat bercerita, Rami, yang usianya baru 4 tahun, mengira bahwa serbuan bom tentara Israel yang berjatuhan di sekitar rumah Ibu adalah kembang api. Lalu Ibu juga menceritakan, Maryam, anak Ibu tertua yang berusia 6 tahun, mengatakan pada Rami bahwa itu adalah bom. Lalu Hasan yang juga masih sangat belia, 2 tahun usianya, mengatakan ledakan-ledakan yang mereka saksikan itu adalah kembang api tapi sedikit lebih besar dari apa yang mereka sering lihat ketika masih bermukim di Jerman. Di usia mereka yang kesemuanya berusia tak lebih dari 6 tahun, tentu wajar adanya jika mereka tak bisa membedakan mana bom dan mana kembang api.

Sungguh, pasti bukan hal yang mudah menjelaskan itu semua pada anak-anak sebelia mereka. Sama tidak mudahnya bagi Ibu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan ketiga anak Ibu, seperti, mengapa anak-anak di Gaza tidak memiliki taman bermain? Mengapa anak-anak di Gaza bermain di jalanan nan ramai? Mengapa anak-anak di Gaza tidak mendapatkan cukup makanan?

Juga ada satu pertanyaan Maryam pada Ibu, yang andai saya di posisi Ibu, tak akan kuasa saya menjawabnya. Adalah ketika Ibu menggabungkan tempat tidur anak-anak Ibu pada suatu ruangan, dan berharap jika suatu saat ada misil yang mengarah ke rumah Ibu misil tersebut akan jatuh pada ruangan yang kosong. lalu di kemudian hari Ibu memisahkan tempat tidur anak-anak Ibu, agar jika ada misil yang mengarah ke rumah Ibu, mereka kesemuanya tak terluka seketika. Ibu mengatakan, kebiasaan tidur itu berlanjut tiap hari, hingga suatu waktu Maryam bertanya, "Mengapa kami tidur di ruangan yang terpisah setiap malam?"

Tapi, Bu. Alhamdulillah, tempo hari perjanjian damai telah disepakati di Gaza. Sesuatu yang saya diidamkan sebagai langkah awal untuk memulai rekonsiliasi di Gaza. Perjanjian damai yang juga diidamkan pemimpin di negeri kami lewat sebuah surat yang beliau tulis untuk para pemimpin dunia. Salah satu paragraf yang beliau tulis dalam suratnya berbunyi demikian:


"Gencatan senjata itu mesti dilaksanakan sekarang. Bukan besok, apalagi lusa. Dengan gencatan senjata berarti serangan Israel melalui udara, laut dan darat harus segera dihentikan. Demikian pula tembakan-tembakan roket dari pihak Hamas mesti diakhiri, agar aksi balas membalas atau siklus kekerasan tidak terus berlanjut. Tindakan para pemimpin politik dan militer untuk melanjutkan operasi-operasi militer saat ini hanya akan makin menambah jatuhnya korba jiwa, termasuk anak-anak, kaum perempuan dan golongan lanjut usia."

Ibu Wejdan, saya hanyalah seorang mahasiswa teknik mesin biasa. Pun saya hanya menghabiskan sedikit waktu untuk belajar mengenai teknik mesin, saya lebih banyak berkhayal tentangnya. Tapi Ibu, walaupun tidak begitu getol, saya masih ikut berorganisasi dengan para mahasiswa lain disini sebelum akhirnya saya pensiun sekitar 6 bulan lalu. Alhamdulillah sebagaian teman-teman saya yang masih aktif sampai saat ini, walaupun secara parsial, mereka telah juga menunjukkan simpatinya untuk segenap warga Gaza, mereka mengumpulkan donasi untuk Gaza. Hal yang sama juga telah dilakukan berbagai organisasi amal dari negara kami. Saya yakin sampai saat ini, bantuan-bantuan itu akan terus mengalir, Bu.

Walaupun demikian, terkadang saya merasa gelisah, Bu. Banyak orang termasuk kaum muslimin sendiri, mungkin karena saking gerahnya dengan konflik Gaza yang telah menahun ini, menganggap bahwa jalan perdamaian seperti ini bukanlah jalan yang baik. Sehingga beberapa kali saya dengar, termasuk dari rekan-rekan saya di sini, anggapan bahwa jika negeri Palestina tidak mendapatkan haknya secara penuh atas tanah-tanah yang sekarang dikuasai Israel maka jalan pedang adalah solusinya. Namun, Bu, semangat seperti ini sering kali tidak dibarengi dengan pemahaman pada kondisi bahwa jika perang terus menerus berlangsung, akan banyak korban yang berjatuhan dari warga sipil, bahkan dari kalangan wanita dan anak-anak yang tak berdosa.

Ibu Wejdan, Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul dalam ceramahnya telah mewanti-wanti hal ini. Beliau memaparkan hadits tentang masalah ini. Dalam hadits yang diriwayatkan Al-Imam Ibnu Majah dari sahabat Abdullah bin Umar, suatu hari Rasulullah sedang berthawaf seraya berkata di hadapan Ka'bah, "Betapa bagusnya engkau (wahai Ka'bah), betapa wangi aromamu, betapa besar nilaimu dan besar kehormatanmu. Namun, demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh kehormatan seorang mukmin jauh lebih besar di sisi Allah dibanding engkau, baik kehormatan harta maupun darah (jiwanya)."

Maka, tertumpahnya darah-darah rakyat Palestina yang tidak ada sangkut pautnya dengan peperangan tentunya bukan perkara yang ringan. Tapi Bu, pemimpin di negeri kami Alhamdulillah, seperti yang beliau katakan dalam suratnya, ia mendorong gencatan senjata karena perang ini telah menyebabkan banyak jatuhnya korban jiwa dari kalangan anak-anak, kaum perempuan, dan golongan lajut usia.

Tentu kita semua paham, Bu. Seperti yang anda ceritakan, pasti generasi tua Gaza yang telah hidup sejak 7 dekade lalu merasa kehilangan atas tanah-tanah mereka yang kini telah diambil Israel. Dan barangkali trauma yang mereka alami terasa lebih dalam dari generasi saat ini. Tetapi dengan mendorong gencatan senjata seperti ini bukan berarti kami juga ridho terhadap pendudukan Israel di negeri Palestina. Namun, seperti yang juga banyak diterangkan para ulama, mencegah kemudhorotan adalah lebih utama. Maka mencegah pertumpahan darah yang lebih banyak adalah suatu pilihan.

Bu Wejdan, seperti Ibu yang menyelesaikan pendidikan master dalam bidang manajemen di Golden Gate University di Jerman, suatu hari saya ingin saya atau keturunan saya ada yang bisa mengenyam pendidikan tinggi dan membawa kemaslahatan bagi masyarakatnya. Kendati saya cuma mahasiswa rata-rata yang punya kemampuan pas-pasan, tetapi bukankah bercita-cita setinggi langit tidak dilarang?

Tapi Bu, sayang sekali di negeri kami sebagian orang suka berteriak-teriak dan memboikot segala apa yang berbau barat. Pendidikan barat, ilmu pengetahuan barat, dan terkadang mereka suka meminta kedai-kedai franchise seperti KFC, Burger King, Mc Donald's, dan atau sejenisnya ditutup dengan slogan-slogan anti-zionis dan sebagainya. Awal bulan ini, di Jakarta, ibu kota negara kami, sekelompok pemuda yang mengaku islam menyerukan pemboikotan kedai-kedai franchise itu dengan dalih untuk menyetop donasi perang dari Amerika kepada Israel. Padahal tempat-tempat makan seperti ini telah mendapat ijin dari pemerintah muslim di Indonesia ini, mereka telah terikat suatu perjanjian. Pun banyak saudara-saudara seagama mereka yang bekerja pada tempat-tempat semacam itu.

Barangkali orang-orang seperti mereka, selain menyerukan boikot memboikot, juga akan menjuluki orang semacam saya dan Ibu, yang mempelajari buku-buku ilmu pengetahuan yang ditulis orang-orang barat, dengan sebutan antek-antek zionis hamba thaghut dan sebutan-sebutan sarkas lainnya. Kendatipun saya tak benar-benar bisa menguasai buku-buku engineering seperti yang dikarang Callister, Meriam, Kraige, atau Incropera, tapi bukankah titel engineer akan terasa lebih afdhol melekat jika para insinyur, apapun agamanya, paham buku-buku itu? Bukankah begitu pula buku-buku manajemen yang Ibu pelajari?

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim pun dikisahkan, Rasulullah pernah mempekerjakan seorang Yahudi untuk mengolah tanah di Khaibar, kemudian hasilnya dibagi dua. Rasulullah sendiri pun pernah menggunakan produk orang-orang kafir yang memang asalnya halal, baik pakaian, bejana, dan lain sebagainya. Sebagaimana pula beliau juga pernah menerima hadiah dari Muqauqis, seorang raja Mesir yang beragama nasrani.

Jauh-jauh hari Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah telah merangkum bagaimana seorang muslim harus bersikap terhadap kafir dalam kitab yang ia tulis, Ahkam Ahli Dzimmah.

Ada banyak pelajaran penting yang ditulis Ibnul Qoyyim. Dalam kebebasan memeluk agama misalnya, dalam kitab itu, Ibnul Qoyyim mengatakan, di negeri-negeri yang dikuasai oleh kaum muslimin, terjaga darah para penduduknya, termasuk bagi pemeluk agama lain. Orang kafir yang dijamin hak-haknya di negeri muslim disebut ahli dzimmah, atau dzimmi. Mereka tetap diberi kebebasan memeluk agama mereka sendiri dan mendapatkan hak-haknya, namun terikat kewajiban jizyah, semacam pajak. Namun jiyzah ini tidak diambil dari orang fakir, justru orang fakir dari kalangan dzimmi diberi santunan. Jizyah juga tidak diambil dari para renta, orang yang berpenyakit parah, dan orang buta. Bahkan jizyah juga tidak diambil dari pendeta yang menghabiskan waktunya untuk bersembahyang.

Bu, saya bukanlah seorang liberalis. Tapi sungguh, dalam agama ini saya dapati, pada dasarnya seluruh manusia memiliki hak yang sama untuk diberi rasa aman, dikasihi, diberi pertolongan ketika susah, disantuni tatkala fakir, diberi ruang untuk berdagang, atau diberi nasihat yang baik ketika hatinya kacau, tak peduli label agamanya.

Ibu Wejdan, barangkali hingga saat ini, secara individu orang-orang di negeri kami cuma mampu sebatas mengirim donasi dan berdoa untuk Gaza, atau kadang-kadang mengirim surat kaleng pada pemimpin negeri. Tapi mudah-mudahan, seperti yang dulu terjadi taatkala Nabi Musa bersama kaumnya menghadapi Firaun, Allah juga memberikan kebaikan dan kemerdekaan bagi bangsa Palestina. Seperti yang termaktub pada surat Yunus ayat 88-89, Allah berfirman:


"Musa berkata, 'Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, Wahai Rabb kami, akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Mu. Wahai Rabb kami, binasakanlah harta benda mereka dan kunci matilah hati mereka maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yan pedih.' Allah berfirman, 'Sesungguhnya telah dikabulkan doa kalian berdua. Oleh sebab itu, tetaplah kalian berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kalian berdua mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui.'"

Bahwasanya telah datang kepada Fir'aun dan kaumnya berbagai ayat dan tanda kebesaran Allah. Namun, mereka tetap kafir, bersombong diri, dan keras kepala. Masih saja suka menindas, bersewenang-wenang, dan berbuat dzhalim. Kemudian Allah mengabulkan doa Nabi Musa yang diaminkan oleh Nabi Harun, lalu membinasakan Fir'aun dan kaumnya dengan kemuliaan dan kemudahan untuk Bani Israil, tanpa terjadi peperangan dan pengorbanan jiwa.

Bu Wejdan, mungkin kami bukan orang yang kaaffah. Tapi sebagai seorang muslim yang dituntut untuk terus mendahulukan berpengetahuan daripada hanya sekadar bertindak tanpa ilmu, saya tak mau jadi muslim pragmatis. Jikalau dien ini menuntun kami untuk keluar membawa parang, niscaya kami lakukan. Jikalau dien ini menyuruh kami melintasi ribuan jurang untuk bertemu kebaikan, niscaya kami lakukan. Namun, jika toh kami belum bisa memberikan apa-apa dari sekadar doa dan donasi, bukan berarti kami pasrah. Kebaikan yang dilakukan dengan sederhana, tentu lebih utama daripada kesesatan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Sekian, Bu. Saya mohon maaf atas segala. Wassalamualaykum.

Seorang pemuda dari negeri timur yang lain,

Ismail Nur Hidayat

You Might Also Like

2 komentar

  1. Sayang, belum bisa menghubungi Bu Wejdan langsung. Tapi udah dihubungken lewat saudaranya.

    BalasHapus