Malam Puisi Semarang Bulan Agustus dan Kabaret Pak Bambang

Sabtu, Agustus 16, 2014

Kamis, 14 Agustus 2014, Malam Puisi Semarang kembali digelar. Pukul 19.45 malam saya bergegas. Sampai di lokasi saya duduk bersila sejajar arah pandang penampil dengan harapan bisa lebih khusyuk menikmati pertunjukan.

Sedikit terlambat, saya memulai menyaksikan pertunjukan dari penampil ke-2, Mbak Erna, yang membacakan puisi berjudul "Sehabis Sakit" karya Joko Pinurbo yang termaktub dalam buku Baju Bulan. Sebelumnya, Catur Indrawan, yang menjadi penampil pembuka pada malam itu membacakan puisi "Pelayaran Baka" karya Adimasnuel.

Selain sederet parade pembacaan puisi dari Pak Bambang Eka Prasetya, penyair kelahiran Jombang yang memang sengaja diundang, malam itu hampir semua yang datang juga ikut membacakan puisi dengan dipandu dua pembawa acara yang tak formal, @zennasabrina dan @madeciyuu.

Ibu-ibu Malam Puisi. [foto: linikala @malampuisi_SMG]

Mbak Nella Widodo membacakan "Serempak Kita Lawan" karya Pak Bambang Eka Prasetya, Mas Adit membacakan "Celana" karya Joko Pinurbo, Mbak Ocha membacakan "Negeriku Karam di Laut Merah" karya Asyari Muhammad, Mas Ryan Primaditra membacakan "Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api" karya Rendra, Mas Lukni membacakan "Prahara Biji Bumi" yang merupakan karyanya sendiri, Bella Manda Jati membacakan "Topeng Bayi untuk Zela" karya Joko Pinurbo, Mubaqicalon dosen yang mengenal Pak Bambang lebih dulu dari kamimembacakan "Tetapi Ingatlah", puisi yang ia tulis seketika malam itu. Sayayang di-set beginner dalam puisidisodori buku antologi puisi perjuangan kepunyaan Pak Bambang dan kebagian membacakan puisi "Sajak buat Negaraku" karya Kriapur.

Dua kenalan lama yang saya temui lagi malam itu, Juan dan Arsy Novitasari juga membacakan puisi. Juan yang masih bersikukuh bergaya Grunge-esque atau Cobain-esque dengan kemeja kotak-kotak, yang mana sebenarnya sejak dua tahun lalu sudah kalah populer dengan Jokowi-esque, dengan suara lirihnya membacakan "Stasiun Tugu" karya Taufik Ismail. Lalu Arsy Novitasari membacakan "Bangkitlah Bangsaku" karya Dwi Sulistyowati.

Juan dengan kemeja Grunge-esque-nya membaca "Stasiun Tugu" karya Taufik Ismail. [foto: linikala @zennasabrina]

Tak ketinggalan, Aditya Sugiarso membacakan beberapa puisi yang temanya tak jauh-jauh dari masalah sosial dan berisi kata-kata seronok beserta apa-apa yang ada di balik BH tertulis di dalamnya.

Aditya Sugiarso membacakan "Lokalisasi Kelas Teri". [foto: linikala @malampuisi_SMG]

Juga yang rutin menampilkan kebisaannya, Elmanohara, membawakan senandung-senandung yang tentu saya tak paham nadanya. Tak seperti biasanya, ibu-ibu hijaber paruh baya ini hanya diiringi seorang lelaki, Iwan namanya, yang memetik gagang berdawai di sampingnya. Biasanya mereka tampil bertiga dengan nama Swarnabaya. Malam itu mereka membawakan "Katastrop" dan "Hujan Malam Ini". Sebelumnya secara tunggal dan lupa-lupa, Elmanohara membawakan "Pahwalan Ada dalam Dirimu".

Dengan kemeja merah-putih dan topi kabaret cokelat mirip kepunyaan anak-anak gerakan Pramuka, Pak Bambang 'kokoh' membacakan beberapa puisi malam itu. Ditambah dengan selendang batik di tangan, ketika membacakan puisinya yang berjudul "Bendera", ia 'mengacak-acak' pentas. Walaupun terlihat rempong, ia benar-benar mengeluarkan seluruh kebisaannya dalam berpuisi.

Pak Bambang membacakan karyanya, "Bendera". [foto: linikala @zennasabrina]

Pun di akhir acara ia meminta kami duduk melingkar dan mengucapkan satu huruf secara repetitif sambil mengayunkan-ayunkan tangan. Lalu kami berlutut dan berdiri. Gerakan yang lebih mirip tarian kecak ini, ia gunakan sebagai pengiring puisi soal Gaza yang ia bacakan. Di akhir puisi ini ia berkelakar, "Tidak ada yang merasa dibodohi kan?"

Pak Bambang menjadi pusat perhatian malam itu. Ia juga merasa bangga. Menurutnya, penyair itu langka. Hanya ada 0.0000000000000000001 penyair di Indonesia [ada delapan belas angka 0 di belakang koma], katanya. "Tidak ada puisi yang jelek, sudah mau menulis puisi sudah baik. Sudah mau menulis minimal baik," katanya membumbung kami.

Di usianya yang sudah mencapai 62 tahun, Pak Bambang masih saja tak berhenti 'berulah' dengan puisi-puisinya. Sebelumnya, untuk menyambut usianya yang ke-62 tahun, ia melakukan perjalanan ke 62 kota ke berbagai pulau di Indonesia untuk membacakan puisi di 62 panggung.

"Banyak pulau saya kunjungi, kecuali Papua," katanya. Ia mengatakan, salah satu anaknya melarangnya untuk ke Papua. Anaknya punya keinginan agar menjadi orang pertama di keluarganya yang menginjakkan kaki di bumi Papua sebelum anggota keluarga lainnya. Makanya, ia melarang Pak Bambang. "Di keluarganya, ia [anak Pak Bambang, red] ingin menjadi yang pertama ke Papua," imbuhnya. Dasar tua-tua keladi, makin tua makin berpuisi.

You Might Also Like

3 komentar

Daftar Bacaan

Like us on Facebook