Piala Dunia Brazil, Karnaval, dan mas-mas Alfamart

Senin, Juni 09, 2014

Masyarakat Brazil merupakan salah satu koloni masyarakat paling ekspresif di muka bumi ini. Mereka punya acara budaya bernama Karnaval --ya kata karnaval adalah kosakata Latin-- yang membawa mereka keluar rumah dan meyingkirkan kesibukan dan rutinitas yang menjemukan untuk bersenang-senang di jalanan. Mereka akan terlihat begitu ekspresif dalam Karnaval itu.

Mikhail Bakhtin, seorang pemikir Rusia, mengejawantahkan apa arti dan apa spirit yang diusung Karnaval. Ia mengatakan Karnaval di Brazil adalah momen untuk memutarbalikkan realita secara masif. Masyarakat dari segala kasta akan turun di jalanan dan menjadi apa saja yang mereka mau. Rakyat bisa bersolek dan berlaku layaknya raja, dan orang bodoh bisa berlagak seperti ilmuwan di hari Karnaval.

Karnaval telah menjadi budaya bagi masyarakat biasa Brazil yang dibelenggu oleh rutinitas. Mereka mulai merasa kalau fiesta (pesta) yang dilakukan di jam-jam siesta (tidur siang) akan lebih meriah daripada pesta malam hari. Karnaval adalah bentuk perlawanan mereka yang dongkol terhadap kesibukan di waktu-waktu sibuk.

Semangat Karnaval ini jugalah yang diidentikkan dengan suporter Brazil. Suporter Brazil tidak dikenal dengan kultur hooliganism, ultras, atau casual. Mereka lebih dikenal sebagai suporter yang suka bersolek ngejreng sedemikian rupa hingga sepakbola terlihat menjadi penuh warna dan kreasi. Hal yang selaras dengan permainan Jogo Bonito atau gocekan Samba khas sepakbola Brazil.

Kalau perlu bukti, bandingkan saja. Coba ketik keyword "suporter Brazil" di mesin pencarian Google. Kita akan disuguhkan dengan gambar-gambar suporter Brazil yang berdandan nan cantik dan meriah dengan wig di kepala atau muka yang dicorat-coret, beserta segenap perlengkapan lainnya layaknya orang-orang yang sedang melakukan karnaval. Lalu ketik keyword "suporter Persija". Bandingkan!

Semangat Karnaval ini juga diadopsi ke dalam bola Brazuca, bola resmi piala dunia Brazil yang diproduksi oleh Adidas. Corak penuh warna-warni tergores disana. "The Brazuca, which means 'Brazilian' and refers to Brazilian way of life," kata FIFA.

Semangat karnaval inilah yang coba diadopsi oleh salah satu toko kelontong yang telah menjamur di mana-mana di Indonesia dan juga merupakan sponsor resmi piala dunia Brazil. Tiap pekerjanya dikenakan wig atau topi besar yang membuat penampilan mereka sedikit ngejreng. Pun mereka juga menjual berbagai merchandise piala dunia di semua cabang. Hal yang wajar karena begitulah seharusnya jika mereka ingin membawa suasana Brazilian way of life yang begitu karnaval. Sebuah strategi marketing yang unik [andai saja ditambah senyuman yang manis dan menawan oleh mbak-mbak dan mas-mas-nya].

Ada berbagai cara untuk menyambut gelaran akbar piala dunia. Mas-mas dan mbak-mbak toko kelontong memakai wig agar pelanggan mau tersenyum ketika belanja, saya membuat tulisan semacam ini, dan mungkin orang lain menyambut piala dunia dengan membeli jersey negara favorit. Terserah. Bebas. Selagi itu positif, kenapa tidak?

O, iya. Ini bukan tulisan advertorial. Saya lebih menilik pada suporter Brazil yang begitu ikonis itu. Terimakasih.

You Might Also Like

0 komentar

Daftar Bacaan

Like us on Facebook