The Raid 2: Berandal

Minggu, April 06, 2014

The Raid: Redemption --sekuel film The Raid yang pertama-- yang mengambil setting agak sempit (kalau tidak mau dibilang monoton), yang hanya berkutat di apartemen sarang mafia saja, memudahkan Gareth Evans untuk mengeksplor sekuel berikutnya dengan setting yang lebih luas, karakter yang lebih banyak, cerita yang lebih rumit, dan adegan yang lebih berdarah-darah.

Cerita The Raid 2: Berandal dimulai beberapa menit setelah Rama (Iko Uwais) dan Bowo (Tegar Satrya) berhasil keluar dari apartemen yang mereka serbu. Mereka dipertemukan dengan Bunawar (Cok Simbara), pimpinan satuan khusus kepolisian. Bunawar yang 'diangkat' sebagai polisi baik menawarkan misi khusus kepada Rama --sebuah misi yang tak dapat ditolaknya-- untuk membongkar persekongkolan antara oknum polisi korup dengan gerombolan mafia di Jakarta. Untuk melaksanakan tugasnya, Rama harus rela masuk penjara dan menjalin relasi yang baik dengan Uco (Arifin Putra) --anak bos mafia yang temperamen dan haus kekuasaan-- agar dapat menggali banyak informasi darinya. Untuk itu, Rama harus mengubah identitasnya menjadi Yudha dan memutus hubungan dengan keluarganya. Sebagai seorang mata-mata, Yudha harus terlibat dalam konflik antar geng mafia sejak di dalam penjara, dan bahkan ia harus lebih larut lagi dalam konflik yang lebih rumit pasca keluar penjara.

Secara umum, pentolan-pentolan dalam film ini menyuguhkan akting yang baik. Sebagai dua orang bos mafia terpandang yang berkongsi, Bangun (Tio Pakusadewo) dan Goto (Kenichi Endo) dicitrakan dengan sangat baik: berwibawa, berpakaian rapi, klimis, menjaga sopan santun di depan sesama bos mafia, dan terkadang menjadi sangat kejam. Hal ini laiknya bos-bos mafia yang digambarkan di film-film mafia Asia timur. Laiknya kelompok mafia yang terorganisir, The Raid 2 juga diramaikan dengan pentolan-pentolan mafia kelas dua. Sebut saja Bejo (Alex Abbad) gangster muda yang doyan beretorika untuk menghasut lawan-lawannya, atau Reza (Roy Marten) pimpinan kepolisian terpandang yang bersekongkol dengan para mafia, Uco yang menjadi biang cerita, dan Eka (Oka Antara) 'jongos' setia Bangun.

Dengan adegan perkelahian yang intens, The Raid 2 berhasil menciptakan ketegangan yang memuaskan penonton. Sesungguhnya sajian utama dalam film ini adalah pertarungan tanpa senjata api yang berakhir dengan kematian, adegan pukul-pukulan yang memukau, atau eksekusi dengan pistol dan senjata tajam yang sadis. Menggorok leher dengan cutter atau memukul kepala lawan dengan martil adalah hal yang lumrah di film ini. Sadisme dalam film diperkuat dengan munculnya karakter-karakter sadis nan unik yang begitu piawai dalam berkelahi --dan susah dikalahkan meski dikeroyok-- seperti: Prakoso The Raid 2's Mad Dog (Yayan Ruhian), eye-catching Hammer Girl (Julie Estelle), Baseball Bat Man (Very Tri Yulisman), dan the unkillable henchman (Cecep Arif Rahman).

The Raid 2 juga terlihat lebih luas dari sekuel yang pertama dengan setting yang bermacam-macam. Tidak hanya setting yang luas, dalam beberapa tempat Gareth Evans mampu menciptakan adegan-adegan perkelahian yang memukau. Hal ini terlihat dari adegan perkelahian bermandikan lumpur di dalam penjara nan riuh atau adegan kejar-kejaran mobil di jalan raya yang begitu memukau, juga duel martial-arts antara Yudha melawan the unkillable henchman di sebuah dapur restoran.
Begitu banyak ide di The Raid 2. Meskipun demikian, cerita soal Uco yang haus kekuasaan menjadi muara utama cerita film. Memang demikianlah Gareth Evans menyuguhkan The Raid 2. Hubungan baik dua kelompok besar mafia yang telah lama melakukan gencatan senjata terusik oleh ulah seorang anak muda, Uco, calon penerus bos mafia yang rakus dan sedang termakan rayuan lawannya, begitulah intinya. Sayangnya cerita soal Uco ini membuat sisi-sisi lain cerita yang harusnya bisa digali tak mendapat cukup tempat. Drama kecil seperti Yudha atau Rama yang kadang-kadang terserang rindu pada keluarga atau Prakoso yang punya masalah rumah tangga rumit tak cukup digali. Bahkan cerita penugasan Rama untuk menggali informasi soal persekongkolan polisi korup dan para mafia pun juga terkesan terhuyung oleh adegan-adegan perkelahian yang tumpah ruah. Karakter-karakter unik seperti Prakoso, Hammer Girl, Baseball Bat Man, atau unkillable henchman pun juga sekonyong-konyong muncul begitu saja.

Tetapi, begitulah The Raid 2 yang menawarkan adegan-adegan perkelahian sensasional dan berdarah-darah. Karakter-karakter yang begitu kuat sangat memanjakan penonton karena mampu membangun ketegangan demi ketegangan yang memaksa mata tak mau berpaling dari layar. The Raid 2 adalah film action yang sangat baik, meskipun menyisakan sedikit kekosongan soal rekognisi karakter-karakter yang ada dan sedikit mengesampingkan petualangan tokoh protagonis utama.
[ pict 1 | pict 2 ]

You Might Also Like

0 komentar

Daftar Bacaan

Like us on Facebook