Pledoi untuk David Moyes

Sabtu, April 12, 2014

Menarik melihat bagaimana perjalanan kepelatihan David Moyes selama hampir semusim di Old Trafford yang penuh resistan. Sebagai seorang pelatih yang dipasrahi sebuah tim bergelimang trofi dan perkasa di seantero Britania Raya --bahkan juga ditakuti di Eropa-- Moyes menjalani hari-hari sulit di masa transisi ini. Manchester United yang sudah sangat lama berjaya kini dibawanya keluar dari zona empat besar Barclays Premier League. Jelas hal ini merupakan prestasi yang amat buruk bagi klub sebesar United, dan kadang-kadang sulit diterima nurani para fans United yang sudah sekian lama bertahta bersama tim kebanggaan.

Minggu-minggu awal karir Moyes di United sesungguhnya sudah sangat sulit. Ia dipasrahi skuat yang usang dari Fergie. Meskipun pada musim sebelumnya skuat yang sama berhasil meraih trofi Liga Primer, secara statistik skuat United musim lalu tidak begitu mentereng.

Pada musim lalu MU memang berhasil menjadi tim paling produktif dengan 86 gol --hampir sepertiganya adalah torehan Robin Van Persie-- namun MU sangat lemah dalam sektor pertahanan. Pada musim lalu MU kebobolan 43 gol, paling banyak diantara tim 4 besar lainnya, bahkan jumlah kebobolan MU ini lebih banyak dari tim peringkat enam, Everton yang pada saat itu juga ditangani Moyes.

Skuat juara musim lalu ini sedang dalam tren menurun saat Moyes datang. Hal ini diperparah dengan ketidakmampuan tim pemandu bakat MU membantu mencarikan pemain-pemain baru yang diperlukan Moyes. Menurut The Independent, salah satu koran kenamaan di Inggris, ketika Moyes datang, MU yang berniat mengganti sekaligus CEO tak kunjung mendapatkan nama baru untuk posisi tersebut. Hal ini menyebabkan rantai koordinasi di manajemen MU terganggu. Salah satu akibatnya kebijakan transfer MU terkesan bertele-tele. MU pun baru bisa mendapatkan Marouane Fellaini di detik-detik terakhir sebelum jendela transfer ditutup.

Pada akhirnya Moyes berhasil mendatangkan Juan Mata di bursa transfer musim dingin pada Januari lalu. Namun dengan skuat yang ada bukan hal yang mengherankan jika pada bursa transfer musim panas mendatang Moyes akan merombak habis-habisan skuat MU yang sudah karatan ini.

Lihat saja, sejak pindah dan pensiunnya pemain-pemain utama MU, seperti Cristiano Ronaldo, Park Ji Sung, dan Paul Scholes, belum ada pemain-pemain baru dengan kualitas sepadan. Sejak tahun 2006, pemain-pemain yang direkrut Sir Alex, kecuali Wayne Rooney dan Robin Van Persie, tidak ada yang mampu menghuni skuat utama secara permanen. Shinji Kagawa yang direkrut pada tahun 2012 lalu pun tak mampu bermain secara konsisten. Moyes benar-benar butuh waktu yang cukup untuk menemukan pemain-pemain baru untuk kembali merangkai skuat yang benar-benar reliable, terutama di lini belakang setelah Ferdinand dan Vidic sudah menua dan akan pensiun.

Musim ini Moyes sering dikritik karena kerap memaksakan Ahsley Young dan Antonio Valencia bermain di sektor sayap. Permainan kedua pemain ini pun terkesan tidak efektif. Ini masalah pilihan dan ketersediaan pemain. Moyes adalah tipe pelatih klasik yang lebih memilih menggunakan natural winger ketimbang inverted winger.

Namun dengan matangnya Januzaj dan hadirnya Juan Mata tentu Moyes lebih leluasa memaksimalkan taktiknya ini. Nyatanya, pada paruh musim ke dua performa United lebih baik. Mike Phelan, asisten manajer MU semasa Sir Alex masih melatih, pun mengatakan Moyes lebih baik dari Sir Alex dari sisi pemahaman taktikal, meskipun dari segi man management Sir Alex lebih baik.

Masa transisi yang dialami MU sekarang ini bukan hanya soal pergantian pelatih. Selain pergantian CEO yang dilakukan MU, beberapa peran sentral pun juga diisi oleh orang-orang baru. Seperti asisten manajer Mike Phelan yang diganti Chris Woods, serta tim pelatih yakni Rene Meulensteen dan Steele yang digantikan oleh Steve Rounds dan Jimmy Lumsden. Orang-orang baru itu adalah pilihan Moyes yang datang bersamanya dari Everton. Hal ini merupakan hal yang wajar dilakukan oleh pelatih manapun ketika datang di sebuah klub baru.

Mengganti pelatih di akhir musim tentu bukan merupakan jawaban. Yang perlu dilakukan pemain-pemain dan segenap official MU yang selama ini terbiasa dengan gaya kepemimpinan absolut Sir Alex Ferguson adalah membiasakan diri dengan gaya kepemimpinan Moyes yang analitis bersama staff-staff barunya.

Sir Alex Ferguson tentu telah memikirkan matang-matang sebelum menunjuk David Moyes sebagai suksesornya, dan bukan Jose Mourinho. Ini adalah long term project bagi MU karena yang dibutuhkan MU bukan prestasi instan seperti yang dilakukan Chelsea atau Manchester City. Sir Alex Ferguson sendiri pun ketika datang ke Manchester membutuhkan waktu setidaknya 6 tahun untuk mendapatkan sebuah trofi bagi MU. Jika dahulu Sir Alex diberi kesempatan, mengapa Moyes tidak?

[picture: thinkfootball.co.uk]

You Might Also Like

0 komentar

Daftar Bacaan

Like us on Facebook