Mempersalahkan Hujan

Jumat, April 18, 2014

Mendengarkan karya-karya Pabichara memang membuat gila. Saya jadi ingin menulis puisi lagi jadinya. Lalu saya menulis "Mempersalahkan Hujan" ini.

Mempersalahkan Hujan

Tatkala malam dan siang tak lagi berurutan
Tatkala senja dirampas air hujan yang mengubur jejak kepergian
Tatkala kisah paling riang lebur dalam kubangan
Awan dan hujan adalah wajah durjana kesenduan
Menyisakan setetes lumpuh pada rindu yang menguncup di batang kenangan

Embun dan kumulus bergumul berdebat mesra
Mencari cara agar senja dan kesunyian tak berdurasi sama, katanya
Agar badai memberi sedikit aroma pada ingatan
Agar narasi tak menjadi buram dan lekang oleh perih dan lara yang mendesah di permukaan air mata
Seperti saat banjir membuih mengecup mesra kaki-kaki yang berlumur kerinduan

Rindu dan kesunyian tak pernah datang beriringan
Rindu datang lebih lantang mengganti kesunyian yang datang belakangan
Rindu membasuh kesunyian yang lebih piawai menanam pohon-pohon basah dengan lara bergelantungan di dahan
Rindu adalah setitik lara syair asyik masyuk para pujangga
Rindu adalah kematian atas kebiadaban yang bernama cinta

Semarang, 18 April 2014

You Might Also Like

0 komentar

Daftar Bacaan

Like us on Facebook