Tontonlah Film Kolosal

Senin, Februari 24, 2014

Sisi paling menarik dari genre hystorical colossal war movie adalah kenaturalan adegan demi adegan dalam film.
Sejak 2-3 tahun lalu saya telah menggemari film-film kolosal, tepatnya sejak melihat The Patriot di televisi (tanpa ada embel-embel agar dibilang hipster atau sok anti-mainstream). Lebih spesifik lagi saya menyukai genre hystorical colossal war movie, film yang menceritakan mengenai situasi perang di masa lampau dengan memainkan banyak figuran.

Genre film favorit saya ini memang agak spesifik, tidak hanya film peperangan semata, tidak hanya juga film epic yang menceritakan masa lampau dengan pakaian-pakaian dan properti bernuansa kuno [i.e: film Vanderwijk karya Hamka itu, di bawah Naungan Ka'bah, Titanic, Soegija, atau Si Pitoeng], dan tidak hanya juga film-film yang orang sebut sebagai sword-and-sandal movie yang acap kali menonjolkan sisi individualistik pemeran utama [i.e: Troy, Connan the Barbarian, Salomon Kane, Hercules, Rurouni Kenshin, Little Big Soldier, atau Robin Hood-nya Kevin Kostner].

Genre hystorical colossal war movie yang saya maksud adalah gabungan antara history, war, dan kolosal, yaitu film peperangan dengan setting lawas dan dengan banyak figuran yang berperan. Mel Gibson adalah salah satu kreator terbaik dalam genre ini dengan karyanya The Patriot dan Brave Heart. Belakangan Mel Gibson juga dikabarkan akan membuat film tentang Viking. Tentunya karya teranyar Mel Gibson ini akan sangat saya nantikan.

Beberapa film dengan setting dan properti klasik tidak cukup enak untuk ditonton, meskipun sepertinya diusahakan untuk menjadi film kolosal. Sebut saja Arn the Knight Templar, sebuah film yang menceritakan mengenai seorang kesatria templar yang 'dibuang' ke Jerusalem. Bagi saya, cerita yang disuguhkan dalam ATKT tidak cukup detail karena unsur penting film kolosal --figuran yang banyak-- tidak ada. Nyatanya film ATKT pun tidak mendapat rating yang baik di IMDB. Bagi saya film tersebut minus satu unsur penting, 'kolosal'.

Sisi paling menarik dari genre hystorical colossal war movie adalah kenaturalan (ada kosakata yang lebih tepat?) adegan demi adegan dalam film. Keseruan dalam film juga tidak dibangun dengan efek-efek teknologi modern seperti film-film science fiction atau efek-efek magis seperti dalam film-film fantasi. Dengan kata lain, menurut saya, setting yang alami di tempat-tempat yang luas, tata rias dan busana yang detail, dan peran figuran yang jumlahnya begitu banyak merupakan hal-hal yang membuat film ber-genre ini sangat menarik untuk ditonton. Unsur-unsur itulah yang mampu membuat adegan demi adegan terperinci dengan baik dan terlihat nyata.

Jika boleh memberi rekomendasi, berikut film hystorical colossal war movie favorit saya selain dua judul karya Mel Gibson di atas: Robin Hood (2010), Seven Samurai, Red Cliff, Kingdom of Heaven, the Last of the Moehicans, Saving Privat Ryan, the Deer Hunter, A Bridge too Far, Days of Glory, Platoon, Full Metal Jacket, Letters from Iwojima, the Red Line, dan the Last Samurai. Sebagian memang tidak se-kolosal film-film Mel Gibson, terutama film-film dengan setting Perang Dunia, tapi setidaknya film-film tersebut punya cerita (drama) yang kuat sehingga cukup seru untuk ditonton

[picture taken from longislandarcheology.wordpress.com]

You Might Also Like

0 komentar