Sewaktu kita Sudah Tua

Minggu, Januari 19, 2014

Hugh Hefner hanya lelucon bagi saya. Keriput bisa dimanipulasi dengan bedah plastik, suntik silikon, atau teknologi plasma jika mau. Mungkin libido juga bisa dimanipulasi dengan suplemen, tetapi usia tak pernah bohong, begitu juga dengan pikiran yang semakin menua.

Setiap orang akan kembali dengan pikiran kekanak-kanakannya dengan wujud raga yang tua jika ia sempat tua. Jika Tuhan mengijinkan, kita bisa hidup hingga 80-an tahun. Di saat-saat tua itulah seseorang akan kembali berpikiran seperti anak kecil.

Pada suatu tempo ia akan merengek karena tak dibelikan baju baru oleh anak cucunya di kala lebaran. Ia juga akan mulai kesulitan menahan pipis. Sewaktu berjalan ia juga tak punya hasrat berkejar-kejaran dengan rekan sebaya seperti waktu muda dulu. Tulang-tulang belakangnya perlahan semakin melengkung seiring langkah kakinya yang semakin melambat. Mereka tak lagi sensitif, tetapi jangan buat orang di masa-masa itu sedih. Raga mereka tak sensitif, tetapi perasaan mereka bertambah sensitif, begitu maksud saya.

Saya masih merenungi hasil kalkulasi skor FPL di depan laptop hingga pukul 1.00 semalam ditemani Budi --salah satu teman KKN-- yang masih sangat bersemangat membaca buku Tere Liye, entah apa judulnya. Ia anggota tertua regu KKN saya. Mukanya yang begitu vintage jelas menunjukkan itu semua, meskipun buku bacaannya tidak. Seharusnya saya meminjaminya buku otobiografi Bung Hatta atau membelikannya buku dengan sampul kuning kecokelatan berbintik-bintik jamur di pasar loak, lalu menyeduhkannya kopi hitam saat ia mulai membaca-baca buku-buku itu. Ah, sudahlah, tak usah dipikirkan.

Budi yang hanya sedikit lebih tua dari saya dan teman-teman KKN saya saja sudah mengalami lonjakan pemikiran --cukup signifikan. Ia kerap mengajukan usulan-usulan yang terlihat lebih 'tua'. Mungkin saya juga akan mengalami lonjakan-lonjakan dalam hal pemikiran di beberapa masa ke depan. Masa remaja memang penuh 'lonjakan-lonjakan' semacam itu. Kata orang masa-masa remaja seperti yang kita alami ini adalah masa-masa paling aktif: sering suka bermimpi melakukan apa-apa dan ingin punya apa-apa, sok-sokan punya idealisme, tapi labil dan fluktuatif.

Budi, our hipster oldcrack in KKN team
Mungkin setibanya masa tua, kita merindukan masa-masa remaja seperti ini. Saat cuma bisa melarang-larang cucunya pergi hujan-hujan, barangkali sebenarnya kita juga ingin turut serta berhujan-hujan ria di waktu itu. Yah mungkin begitulah masa tua, kita cukup mengikutinya saja mungkin. Tapi kata orang tua-di pemikiran-saya: "Punya uang sebanyak yang Hugh Hefner punya juga tak akan berarti apa-apa bagi seorang tua renta kalau masa mudanya gagal dan tak enak dikenang."

Pernah dengar puisi lama yang bunyinya:
Pagiku hilang, sudah melayang
Hari mudaku sudah pergi
Sekarang petang sudah membayang
Batang usiaku sudah tinggi

Kalau masih menyimpan catatan pelajaran Bahasa Indonesia waktu SD, mohon disimpan. Barangkali suatu waktu saya ingin membacanya juga, karena saya sudah lupa di mana catatan saya.

You Might Also Like

1 komentar

  1. wah segala catatan semasa sekolah sudah tak berbekas ...

    BalasHapus

Daftar Bacaan

Like us on Facebook