Pagi ini dan Hujan yang Diperkarakan

Sabtu, Januari 18, 2014

Di sini, di Desa Sembung sedang hujan lebat pagi ini. Hujan lanjutan dari hujan tadi malam, tampaknya. Ya, kedatangan saya pertama kali setelah 3 hari absen sebagai Kordes disambut hujan lebat, tadi malam. Hujan selalu penuh intrik. Setidaknya begitulah yang sering saya rasakan.

Tiap hujan melanda, badan terasa nyaman. Udara sejuk seperti melenakan tubuh begitu saja. Hujan yang menyejukkan itu sekonyong-konyong membuat saya lupa kalau saya harus segera bangkit dan melakukan tugas-tugas yang ada. Di ujian akhir semester lalu, pada mata kuliah terakhir, saya terlena menunggu hujan di sebuah warung makan hingga tanpa sadar saya sudah terlambat setengah jam. Selalu lebih mudah menunda-nunda waktu saat hujan. Pun saat ini. Orang lebih suka bertabir selimut di badan daripada bangun dengan bulu-bulu tubuh berdiri karena kedinginan, pastinya.

Lihatlah rumah di seberang sana! Apakah mematikan lampu saja kita malas jika hujan turun? Hahaha. :)
Saya tak cukup tahu, seberapa banyak hujan berubah --dari materi yang dikandungnya atau waktu turunnya-- dari hujan yang pertama kali turun di dunia ini hingga hujan yang saya nikmati pagi ini. Saya hanya tahu air yang dimuat hujan, berikut asam-asam yang menyertainya, adalah hasil campur tangan kita. Air yang netral itu hanya menjalani siklus, kita yang banyak mengacak-acak siklusnya.

Sebungkus Sponge Crunch yang berdiri tegap di samping laptop saya saat ini sudah tak berisi lagi. Isi di dalamnya sudah disantap habis semalam oleh saya Latif, dan teman-teman KKN saya yang lain. Tak seperti hujan, Sponge Crunch yang lezat itu tak akan kembali lagi. Ia hanya akan larut dalam pembuangan. Ia mungkin akan mudah dilupakan seperti kue apem, kembang goyang, dan camilan-camilan lain jika camilan-camilan baru yang lebih menarik terus dikreasi. Tapi hujan tidak. Hujan akan terus berulang dan menyertai waktu-waktu kita sampai kelak. Ia tiada terganti sebagai penyuplai air. Barangkali sedikit arif menggunakan air-air itu akan membuat hidup kita tak buruk-buruk amat di waktu yang akan datang. Karena sejatinya hujan tak salah apa-apa.


You Might Also Like

0 komentar