Setidaknya Tontonan yang Baik

Selasa, Desember 24, 2013

Ucapan terimakasih layak kita haturkan kepada segenap punggawa Timnas U-23 yang meraih medali perak SEA Games 2013 setelah ditundukkan Thailand di final cabang sepakbola tiga hari lalu. Indonesia telah lama dicap sebaga spesialis runner-up turnamen sepakbola di level Asia Tenggara. Prestasi tiga hari lalu juga merupakan repetisi prestasi Timnas dua tahun lalu. Dua tahun lalu, di SEA Games 2011 Jakarta, Timnas juga harus puas menjadi runner-up setelah dikalahkan Malaysia di final lewat adu penalti. Secara keseluruhan dari enam kali capaian partai final di ajang SEA Games, Timnas Indonesia hanya mampu memperoleh dua kali titel medali emas, sisanya Timnas Indonesia harus rela memperoleh medali perak.

Di level senior lebih parah lagi. Dari sembilan kali keikutsertaannya di ajang AFF Cup --dahulu bernama Tiger Cup, Indonesia berhasil empat kali masuk final tanpa pernah sekali pun mencicipi gelar juara.

Raihan perak Timnas di SEA Games 2013 tersebut bukan hal termenarik untuk dibahas panjang lebar. Toh kita sudah siap dan sudah terlalu biasa menerima kegagalan tim kebanggaan kita. Bagi saya, setidaknya SEA Games 2013 merupakan tontonan dan pelajaran yang cukup berarti untuk disimak. Jauh-jauh hari sebelum resmi mengkuti turnamen, Timnas sudah banyak disoroti. Mulai dari pembentukan tim utama yang berlarut-larut --tepatnya akhir November lalu baru diputuskan nama-nama pengisi tim utama, krisis pemain di lini depan, uji coba melawan tim se-level atau di atasnya yang sangat kurang, peragaan permainan longpass yang membosankan, atau downgrading pemain-pemain tenar --setidaknya begitulah jika ukurannya popularitas-- seperti Andik, Okto, dan Syamsir Alam hingga berbuntut pencoretan yang dialami Okto dan Syamsir.

Cerita-cerita miris itu mencapai klimaks saat Timnas menampilkan permainan level medium di babak penyisihan grup. Kebobolan 4 gol dan hanya mampu memasukkan 3 gol tentu bukan raihan yang positif, apalagi Indonesia hanya mampu menang tipis 1-0 atas tim lemah Kamboja dan hanya mampu bermain Imbang 0-0 melawan Timor Leste. Semua prahara itu mencapai antiklimaks saat Timnas mampu menang atas tuan rumah Myanmar 1-0 dan berhak melaju ke semifinal. Di partai terakhir penyisihan grup tersebut Indonesia unggul secara head-to-head meskipun kalah jauh secara goal for dan goal difference dengan Myanmar.

Di babak semifinal Indonesia sukses menuntaskan dendam dua tahun lalu saat tunduk atas Malaysia di final SEA Games 2011 lewat adu penalti. Pada pertandingan semifinal tersebut Indonesia berhasil mengalahkan Malaysia kembali lewat adu penalti.

Meskipun harus kalah di partai final saat melawan Thailand, saya pikir Timnas Indonesia menyuguhkan permainan yang baik. Mereka terus menekan sejak kebobolan di pertengahan babak pertama hingga memaksa Thailand menumpuk pemain di lini belakang, meskipun hingga akhir pertandingan Indonesia tetap kalah. "Kita kalah but like a boss," twit seorang kawan.

Muka-muka baru di skuat Timnas membuat permainan agak enak di pandang. Cara lain bagi saya untuk memberikan rispek pada pemain Timnas adalah dengan menyadari bahwa empat di antara sebelas pemain utama Timnas U-23 adalah anak-anak PS Tulehu Putera, sebuah SSB dari kampung kecil di Maluku. Mereka adalah Alfin Tuasalamony, Rizky Pellu, Manahati Lestusen yang gagal memperagakan panenka saat adu penalti lawan Malaysia, dan Ramdani Lestaluhu yang di akhir pertandingan lawan Thailand mengeluarkan tendangan kungfunya. Cerita-cerita tentang anak-anak Tulehu yang saya baca kemudian membuat saya semakin semangat menonton Timnas U-23. Merekalah wujud asli cerita-cerita from zero to hero di film-film bertema olahraga atau kartun-kartun anime Jepang.

Pada akhirnya, yang menarik dari Timnas di SEA Games lalu bukanlah sukses atau tidaknya mereka meraih target medali emas, melainkan cerita-cerita di balik perjalanan panjang itu semua, dari mulai pertama kali tim ini muncul di media hingga turnamen digelar. Setidaknya begitulah pendapat saya.

[foto: @info_timnesia]

You Might Also Like

0 komentar