Cahaya dari Timur, Bingkisan untuk Tulehu

Kamis, Desember 26, 2013

Lebih dari satu dekade lalu ketika kartun Jepang karya Yochi Takahashi, Captain Tsubasa, sukses diterima masyarakat dan serialnya yang disutradarai oleh Isamamu Imakake juga sukses menjamah masyarakat, Bangsa Jepang cukup baik membuktikan diri bahwa mereka bukanlah sebuah bangsa delusif belaka.

Kemunculan Captain Tsubasa yang fenomenal juga diikuti kesuksesan mereka menjadi penyelenggara sekaligus salah satu kontestan Piala Dunia 2002. Masyarakat Jepang yang dulunya dikenal sebagai penyuka olahraga baseball, setidaknya setelah Piala Dunia 2002, juga dikenal sebagai penyuka sepakbola. Mimpi orang Jepang untuk melihat anak-anak Jepang sukses berlaga di kancah Eropa, seperti yang digambarkan melalui Tsubasa, kini bisa jadi juga sudah terwujud lewat nama-nama seperti Shinji Kagawa, Yuto Nagatomo, atau Keisuke Honda yang malang-melintang menjadi duta sepakbola Jepang di kancah Eropa.

Bagaimanapun juga, sebuah karya dengan petaruh luhur di dalamnya tanpa diikuti perbuatan nyata sebagai respon petaruh luhur tersebut hanyalah sebuah pesan yang terkungkung, apalagi jika karya tersebut memang sengaja 'dijual' dengan iming-iming pesan moral yang ditawarkan di dalamnya. Pada intinya, sebuah pesan, cita-cita, atau apapun namanya perlu dijalankan agar menjadi kerja yang nyata. Bahkan seorang religius yang begitu kuat usahanya untuk tawadhu' pada Tuhan pun akan dianggap sebagai hamba introvert nelangsa tanpa menjalankan kewajiban-kewajiban agama dan kesalihan sosial.

Sebagaimana penikmat buku-buku motivasi yang perlu keluar rumah untuk bekerja agar tak menjadi konseptor semu belaka, kita yang mengaku visioner perlu merasakan keberadaan diri dalam realita dan melaksanakan kerja-kerja yang kongkrit sebagai wujud kesungguhan pendekatan diri pada cita-cita. Taruhlah kartun Captain Tsubasa yang begitu kawaii itu adalah sebuah pesan, maka usaha segenap stakeholder persepakbolaan Jepang yang begitu sungguh-sungguh memajukan sepakbola Jepang adalah kerja kongkrit mereka.

Mungkin orang Indonesia tidak punya karya bertema sama yang sebanding dengan Captain Tsubasa --jika film-film seperti Garuda di Dadaku atau Tendangan dari langit belum dianggap sepadan. Namun, lama sudah orang-orang Tulehu --sebuah kampung di Ambon, Maluku-- berjuang mendidik anak-anak mereka agar mampu berprestasi di kancah nasional hingga internasional melalui sepakbola. Sebuah klub kecil yang mereka bina itu bernama PS Tulehu Putera. Tulehu menjadi satu-satunya kampung (distrik) di dunia yang mampu menjadi juara pada sebuah turnamen berskala nasional di sebuah negara. Mereka melakukan itu pada tahun 2006 saat mewakili Maluku pada turnamen Haornas dengan 99% skuat merupakan anak-anak kampung Tulehu asli. Mereka menjadi juara setelah mengalahkan perwakilan DKI Jakarta di partai final kala itu.

Bahkan, akhir pekan lalu, tepatnya 21 Desember 2013, empat anak asuh Sani Tawainella --pelatih PS Tulehu Putera yang kesehariannya hanya berprofesi sebagai tukang ojek-- yaitu Alfin Tuasalamony, Manahati "Panenka" Lestusen, Rizky Sanjaya Pellu, dan Ramdani Lestaluhu yang merupakan anak-anak binaan PS Tulehu Putera berdiri di atas lapangan SEA Games membela negara, pun empat orang itu menjadi starter di hampir sepanjang turnamen. Praktis lebih dari 35% kekuatan Timnas U-23 saat ini dahulunya merupakan didikan kampung kecil bernama Tulehu.

Tidak hanya di Timnas U-23, saat ini di seluruh jenjang usia Timnas ada anak kampung Tulehu di sana. Pun dengan Hasyim Kipuw, Hendra Bayauw, Abdul Rahman Lestaluhu, Sedek Sanaky, Alqomar Tehupelasury, Mohtadi Lestaluhu, Rahel Tusalamony, Imran Nahumarury, atau Khairil Anwar Ohorella-pace yang pernah dan sedang mewarnai persepakbolaan nasional. Raja Tulehu John Ohorella menuturkan perjuangan orang-orang Tulehu untuk sepakbola nasional bahkan sudah dimulai sejak 1950-an.

Seseorang di jejaring sosial berkelakar, jika Aceh adalah Serambi Mekkah, maka tulehu adalah Serambi Rio de janeiro. Ada-ada saja memang. Namun, jika mau merenungi, kisah anak-anak Tulehu yang begitu luar biasa itu tentu jauh lebih menarik ketimbang episode demi episode kartun Tsubasa. Sebuah testimoni bijak tersirat lewat niatan Glenn Fredly, orang Maluku yang terkenal itu, dengan rencananya untuk membuat film yang menceritakan semangat sepakbola Tulehu. "Cahaya dari Timur" akan menjadi bingkai adegan demi adegan film tersebut.
 
Ya, Cahaya dari Timur akan menjadi film from zero to hero yang kesekiankalinya keluar setelah Denias, King, Tendangan dari Langit, dan film-film sejenis. Namun, film yang juga diproduseri oleh Andi Bachtiar dan Angga Sasongko --dua orang kreator film yang dikenal idealis-- ini membawa ruh yang berbeda. Tidak hanya mengangkat kisah dan ketokohan --Sani Tawainella barangkali-- yang begitu patetis, Cahaya dari Timur juga mungkin akan menceritakan bagaimana sebuah masyarakat benar-benar melakukan 'kerja' untuk sepakbola berikut kearifan lokal yang mereka miliki dan panorama alam khas Timur.

Disadari atau tidak orang-orang Tulehu telah lebih dahulu maju dengan sepakbolanya ketimbang kita yang masih berada di dasar. Ketimbang kita yang masih terlalu rajin menikmati motivasi dan pesan moral tanpa mau keluar sebentar untuk menjalankan kerja.

[foto: @MariniSaragih/ @GlennFredly]

You Might Also Like

0 komentar